China Danai Renovasi Sekolah di Laos: Sinyal Perkuatan Pengaruh di ASEAN?
Baca dalam 60 detik
- Proyek renovasi Sekolah Menengah Santiphab di Luang Prabang menjadi bagian dari paket bantuan China untuk sepuluh institusi pendidikan di Laos.
- Langkah ini dinilai sebagai instrumen diplomasi lunak Beijing untuk memperdalam hubungan bilateral di tengah persaingan pengaruh regional.
- Kehadiran China yang semakin kuat di negara tetangga Indonesia menuntut kewaspadaan terhadap dampak ekonomi dan geopolitik di kawasan.

Peletakan batu pertama renovasi Sekolah Menengah Santiphab di Provinsi Luang Prabang, Laos utara, pada Senin (31/8) menandai babak baru kerja sama pendidikan bilateral yang digagas penuh oleh Beijing. Proyek yang mencakup lahan seluas 9.417 meter persegi ini bukan sekadar perbaikan infrastruktur, melainkan bagian dari strategi besar China dalam memperluas pengaruh di kawasan Asia Tenggara.
Dalam seremoni yang dihadiri perwakilan pemerintah kedua negara serta para guru dan murid, Wakil Menteri Pendidikan dan Olahraga Laos, Dalavone Kittiphan, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bukti nyata persahabatan tradisional Laos-China. Ia menyebut renovasi sekolah tersebut memiliki urgensi tinggi dan akan berdampak langsung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di provinsi tersebut maupun Laos secara keseluruhan.
Di sisi lain, Konselor Ekonomi dan Komersial Kedutaan Besar China untuk Laos, Li Xizhen, menyatakan bahwa kedua negara terhubung oleh gunung dan sungai serta berbagi nasib yang sama. China berkomitmen bekerja erat dengan Laos untuk memastikan proyek selesai dengan mutu tinggi dan menjadi model kerja sama yang memperlihatkan eratnya hubungan kedua negara.
Proyek Santiphab hanyalah satu dari sepuluh sekolah di Laos yang didanai penuh oleh China. Fasilitas yang akan dibangun mencakup dua gedung pengajaran baru, aula olahraga dalam ruangan, gerbang utama, serta ruang peralatan pendukung. Skema bantuan semacam ini menunjukkan pola diplomasi China yang kerap menggabungkan infrastruktur fisik dengan narasi persahabatan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan semakin dalamnya penetrasi China di negara-negara ASEAN. Laos, yang selama ini menjadi salah satu mitra terdekat Beijing, terus menerima aliran bantuan yang tidak hanya bersifat ekonomi tetapi juga pendidikan. Pola ini serupa dengan yang dilakukan China di Kamboja dan Myanmar, yang kemudian memperkuat posisi Beijing dalam forum-forum regional.
Para pengamat hubungan internasional menilai bahwa bantuan pendidikan semacam ini merupakan instrumen soft power yang efektif. Dengan membangun sekolah, China tidak hanya mendapatkan citra positif di mata masyarakat lokal, tetapi juga menanamkan pengaruh jangka panjang melalui generasi muda yang kelak menjadi pemimpin. Laos, yang merupakan salah satu negara termiskin di Asia Tenggara, sangat bergantung pada bantuan asing, dan China hadir sebagai donor utama.
Kehadiran China yang semakin kuat di kawasan ini juga berdampak pada dinamika ekonomi Indonesia. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN, Indonesia perlu mencermati bagaimana aliansi Beijing-Vientiane dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di kawasan, terutama dalam isu Laut China Selatan dan arus investasi. Meski Indonesia memiliki hubungan dagang yang erat dengan China, ketergantungan Laos pada Beijing bisa menjadi preseden yang perlu diwaspadai.
Ke depannya, proyek renovasi sekolah ini diharapkan selesai tepat waktu dan menjadi simbol nyata kerja sama bilateral. Namun, pertanyaan yang lebih besar tetap menggantung: apakah model bantuan semacam ini akan semakin memperkuat hegemoni China di Asia Tenggara, atau justru memicu negara-negara lain untuk meningkatkan kehadiran mereka di kawasan? Jawabannya akan menentukan peta persaingan pengaruh di ASEAN dalam dekade mendatang.



