Bencana Longsor di Perbatasan China-Nepal: Tim Penyelamat Berlomba Melawan Waktu dan Arus Deras
Baca dalam 60 detik
- Tim penyelamat China berjuang memulihkan akses jalan satu-satunya menuju perbatasan Gyirong-Nepal yang putus akibat lumpur dan banjir bandang.
- Arus sungai yang mencapai 6-7 meter per detik, enam kali lebih cepat dari normal, menjadi penghalang utama dalam upaya rekonstruksi.
- Dengan 16 tewas dan 546 hilang, operasi penyelamatan masih berlanjut di tengah ancaman hujan deras dan longsor susulan.

Tim penyelamat China bekerja tanpa henti sepanjang malam di tengah hujan deras untuk memulihkan ruas terakhir jalan satu-satunya menuju pos lintas batas Gyirong dengan Nepal, yang hancur akibat lumpur dan banjir bandang pekan lalu. Upaya membuka kembali akses perbatasan ini menjadi pertarungan sengit melawan alam, dengan para petugas beroperasi di ngarai sempit yang diapit tebing rapuh dan sungai yang mengamuk.
Kecepatan arus sungai yang mencapai enam hingga tujuh meter per detik—enam kali lipat dari normal—membuat setiap upaya perbaikan jalan dalam beberapa hari terakhir selalu gagal diterjang derasnya air. Rekaman CCTV menunjukkan ekskavator yang kehilangan pijakan kokoh di tepi jalan yang hancur, nyaris tergelincir ke dalam air pada tikungan di mana jalan raya itu tiba-tiba lenyap ditelan sungai. Namun, hingga siang kemarin, tim berhasil maju hingga 800 meter dari titik terparah di sisi Tibet.
Operator penyelamat milik negara, China Anneng, telah mengerahkan 158 personel dan 33 unit alat berat yang bekerja bergiliran dengan sistem 'regu berganti, mesin tetap jalan'. Selain itu, tim kelistrikan juga berlomba memulihkan aliran listrik di zona bencana. Jalan Nasional G216, arteri vital yang membentang di sepanjang Sungai Gyirong Tsangpo menuju perbatasan, hancur ketika aliran balik puing-puing menerjang dari arah kompleks pos lintas batas.
Perbaikan jalan dimulai Rabu lalu, menyusul runtuhnya gletser yang memicu lumpur dan banjir di sistem sungai baik di Nepal maupun China. Meski danau-danau yang terbentuk di sisi Tibet akibat puing gletser telah mengering secara alami, risiko longsor dan badan air yang tidak stabil di hulu Nepal masih bisa membendung sungai. Jika bendungan alami itu jebol secara tiba-tiba, gelombang baru dapat menerjang zona penyelamatan.
Kawah yang ditinggalkan gletser—yang diperkirakan menampung air setara 260 kolam renang Olimpiade—terus menyusut, namun otoritas khawatir runtuhnya gletser baru ke dalam kawah dapat memicu bencana susulan. Prakiraan cuaca juga memperingatkan hujan lebih deras hingga hari ini, yang berpotensi memperbesar volume sungai dan danau. Seorang pejabat Kementerian Sumber Daya Air China mengungkapkan bahwa bendungan alami semacam ini secara struktural sangat rapuh dan mudah jebol akibat jenuh air serta erosi yang berkepanjangan.
Hingga kemarin sore, lebih dari 60 petugas penyelamat telah berjalan kaki memasuki zona bencana dan menyisir reruntuhan dua kali untuk mencari korban selamat. Bekas kekuatan lumpur terlihat jelas di lereng-lereng sekitarnya, mencapai ketinggian 60 meter—setara gedung 20 lantai. Jumlah korban resmi China masih sama dengan data Minggu lalu: 16 tewas dan 546 hilang.
Bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan pegunungan tinggi terhadap dampak perubahan iklim, yang mempercepat pencairan gletser dan meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi. Bagi Indonesia, yang juga memiliki wilayah pegunungan dan rawan longsor, kejadian ini menegaskan pentingnya sistem peringatan dini dan infrastruktur tangguh di daerah terpencil. Pertanyaannya, apakah negara-negara berkembang siap menghadapi risiko serupa di tengah meningkatnya ketidakpastian iklim global?



