Banjir Nepal: Drone Bantu Cari Korban, tapi Terowongan PLTA Jadi Tantangan Terbesar
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang akibat longsoran gletser di Nepal menewaskan lebih dari 1.000 orang dan memicu krisis kemanusiaan, dengan ratusan pekerja proyek listrik masih hilang.
- Drone berteknologi termal berhasil memandu penyelamatan di permukaan, tetapi operasi di dalam terowongan PLTA terhambat oleh lumpur tebal dan akses yang sulit.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan infrastruktur energi di kawasan Himalaya yang semakin terpapar dampak perubahan iklim, menjadi pelajaran bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Banjir bandang yang dipicu longsoran gletser di Nepal pada 26 Agustus lalu telah menewaskan lebih dari seribu orang dan memicu operasi pencarian besar-besaran. Namun, upaya penyelamatan menghadapi tantangan baru yang belum pernah terjadi: ratusan pekerja diperkirakan terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air yang dipenuhi lumpur, membuat teknologi canggih sekalipun nyaris tak berdaya.
Manish Maharjan, pilot drone yang juga berprofesi sebagai sineas, menjadi salah satu garda terdepan dalam misi kemanusiaan ini. Sejak bergabung dengan tim penyelamat militer Nepal sehari setelah bencana, ia menggunakan drone berspeaker untuk memanggil korban selamat di lereng bukit. Bahkan, dalam sejumlah kasus, ia memutar musik untuk menarik perhatian orang yang terjebak. Metode ini terbukti efektif dan membantu menemukan beberapa korban.
Namun, ketika operasi bergeser ke terowongan proyek pembangkit listrik, Maharjan mengakui keterbatasan alatnya. "Kami menemukan terowongan dipenuhi lumpur seperti pasta gigi di dalam tabung. Tidak ada ruang kosong," ujarnya. Dengan kondisi seperti itu, drone termal yang ia operasikan hanya bisa menjangkau terowongan yang lurus dan panjang. Begitu ada tikungan atau belokan, efektivitas pencarian menurun drastis.
Bencana ini bermula dari runtuhnya gletser yang melepaskan jutaan meter kubik air dan puing, menghancurkan jalan, jembatan, serta infrastruktur vital lainnya. Menurut Mohan Kumar Dangi, presiden Asosiasi Produsen Listrik Independen Nepal, sejumlah pekerja sempat melakukan panggilan darurat saat air datang, tetapi sejak itu tidak ada kontak lagi. Kini, waktu menjadi musuh terbesar bagi tim penyelamat.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan risiko besar pembangunan infrastruktur di daerah rawan bencana. Dengan banyaknya proyek PLTA di wilayah pegunungan seperti Sumatra dan Sulawesi, negeri ini perlu memperkuat sistem peringatan dini dan protokol evakuasi. Selain itu, investasi dalam teknologi pencarian seperti drone bawah tanah dan robot penyelamat menjadi semakin relevan untuk mengantisipasi skenario serupa.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih berjuang menembus lumpur dan puing di proyek Rasuwagadhi, salah satu lokasi terparah. Maharjan mengaku belum menemukan tanda-tanda kehidupan di sana. "Saya hanya bisa membayangkan kekuatan banjir itu," katanya. Pertanyaan besarnya kini: akankah teknologi mampu menjawab tantangan ekstrem seperti ini, atau justru perubahan iklim akan terus melampaui kemampuan adaptasi manusia?



