PM Jepang Minta Nepal Kerja Sama Penuh Cari 5 WN yang Hilang Akibat Banjir Bandang
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi secara langsung meminta dukungan penuh Nepal dalam pencarian lima warga Jepang yang hilang pascabanjir dan tanah longsor di perbatasan China.
- Keluarga Yamamoto asal Osaka, terdiri dari dua orang tua dan tiga anak, menjadi sorotan utama dalam operasi pencarian yang masih berlangsung.
- Insiden ini kembali menggarisbawahi kerentanan kawasan Himalaya terhadap bencana hidrometeorologi, sekaligus menguji respons darurat lintas negara.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi secara langsung meminta kerja sama penuh dari Nepal untuk menemukan lima warga negaranya yang masih hilang setelah banjir besar dan tanah longsor melanda kawasan perbatasan Nepal-China pekan lalu. Permintaan itu disampaikan dalam percakapan telepon dengan PM Nepal Balendra Shah, Selasa (2/9/2026), dan menjadi sorotan utama karena melibatkan satu keluarga utuh yang tengah berlibur.
Dalam keterangan pers di kantornya, Takaichi menyampaikan belasungkawa atas korban jiwa akibat bencana yang terjadi Rabu lalu, sambil menekankan bahwa Jepang dan Nepal sama-sama negeri yang akrab dengan bencana alam. "Saya sekali lagi meminta pemerintah Nepal untuk memberikan kerja sama maksimal demi penyelamatan secepat mungkin terhadap lima warga Jepang yang belum ditemukan," ujarnya. Shah, menurut Takaichi, merespons dengan menyatakan bahwa pemerintahannya sedang berupaya semaksimal mungkin.
Bencana yang dipicu hujan deras itu memicu banjir bandang dan longsor di wilayah pegunungan dekat perbatasan China, menewaskan puluhan orang dan memutus akses ke sejumlah desa terpencil. Kelima warga Jepang yang hilang adalah keluarga Yamamoto dari Osaka, terdiri dari pasangan suami istri berusia 41 tahun dan tiga anak mereka yang berusia 10, 6, dan 3 tahun. Mereka dilaporkan berada di area wisata yang populer di Nepal utara saat bencana terjadi.
Operasi pencarian yang melibatkan tim penyelamat Nepal dan Jepang masih terkendala medan sulit dan cuaca buruk. Pihak berwenang Nepal menyebut longsor menutupi sejumlah jalur utama, sementara hujan yang masih turun meningkatkan risiko longsor susulan. Situasi ini membuat proses evakuasi dan pencarian berjalan lambat, meski kedua pemerintah telah menyatakan komitmennya.
Bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Himalaya yang terus meningkat akibat perubahan iklim. Para ahli menilai pola hujan ekstrem yang memicu banjir bandang dan longsor semakin sering terjadi, tidak hanya di Nepal, tetapi juga di negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Bagi Indonesia, yang juga rawan bencana hidrometeorologi, insiden ini menyoroti pentingnya sistem peringatan dini dan kerja sama regional dalam penanganan bencana lintas batas.
Di sisi lain, insiden ini juga menguji hubungan bilateral Jepang-Nepal yang selama ini hangat. Jepang merupakan salah satu donor utama pembangunan infrastruktur di Nepal, termasuk di sektor pengurangan risiko bencana. Kini, fokus beralih pada operasi kemanusiaan yang menuntut koordinasi cepat dan transparan. Kegagalan dalam menemukan keluarga Yamamoto dapat berdampak pada persepsi publik di Jepang terhadap efektivitas respons bencana Nepal.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi baru mengenai kondisi kelima korban. Pihak berwenang Nepal menyatakan akan memperluas area pencarian dengan bantuan helikopter dan anjing pelacak, meski cuaca masih menjadi kendala utama. Pertanyaannya, akankah upaya ini membuahkan hasil sebelum jendela emas penyelamatan berakhir? Jawabannya masih menggantung di tengah derasnya hujan dan tebalnya kabut di pegunungan Himalaya.



