Banjir Nepal: Ribuan Keluarga Gelar Ritual Simbolis untuk Korban yang Tak Ditemukan
Baca dalam 60 detik
- Hampir 4.000 orang masih hilang akibat banjir bandang dan longsor di Nepal, memaksa keluarga menggelar upacara kremasi simbolis.
- Ritual Hindu 'antim sanskar' dilakukan dengan patung jerami sebagai pengganti jenazah, mencerminkan keputusasaan dan keterbatasan kapasitas identifikasi.
- Bencana ini menyoroti kerentanan kawasan Himalaya terhadap perubahan iklim dan mendesak penguatan sistem peringatan dini di Asia Selatan.

KATHMANDU โ Di tengah duka yang belum tuntas, ratusan keluarga di Nepal mulai menggelar upacara kremasi simbolis bagi sanak saudara yang hilang diterjang banjir bandang pekan lalu. Ritual yang biasanya sakral dan melibatkan jenazah itu kini dilakukan dengan membakar patung jerami di tepi Sungai Bagmati, sebagai jalan terakhir untuk 'membebaskan jiwa' orang-orang yang jasadnya tak kunjung ditemukan.
Bencana yang dipicu runtuhnya gletser di perbatasan Nepal-Tiongkok itu telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan meninggalkan hampir 4.000 lainnya dalam daftar hilang. Otoritas setempat baru berhasil mengidentifikasi sebagian kecil dari lebih dari seribu jenazah yang ditemukan, sementara kapasitas kamar mayat di rumah sakit-rumah sakit Kathmandu sudah jauh melampaui batas. Situasi ini memaksa keluarga untuk mengambil keputusan pahit: mengikhlaskan kepergian orang tercinta tanpa kepastian.
Salah satunya dialami keluarga Krishna Shrestha, 37 tahun, yang terakhir diketahui berada di Distrik Rasuwa, kawasan terdampak paling parah. Kakaknya, Jeevan, menuturkan bahwa mereka telah menyisir berbagai tempat penampungan dan kamar mayat di seluruh negeri, tetapi tidak membuahkan hasil. "Kami akhirnya duduk bersama dan memutuskan untuk melakukan ritual tradisional demi membebaskan jiwanya," ujarnya kepada AFP. Upacara serupa digelar untuk Chandra Bahadur Newar, sopir truk berusia 35 tahun yang hilang di kota perbatasan Timure saat melintas menuju Tiongkok. Istrinya, Dolma Newar Tamang, mengaku baru bisa berdamai pada Senin lalu setelah berulang kali mencoba menghubungi suaminya tanpa jawaban.
Di sisi lain, ada pula keluarga yang harus merelakan jenazah yang sudah ditemukan demi menunggu kabar anggota lain yang masih hilang. Keluarga Mahesh Dangol, 30 tahun, salah satu dari sedikit korban selamat dari Betrawati yang nyaris luluh lantak, sempat menunda kremasi karena berharap ada kabar tentang orang tua, istri, dan anaknya yang ikut tersapu arus. Namun, pihak rumah sakit meminta mereka segera mengambil jenazah karena ruang penyimpanan semakin sempit. "Kami sudah memutuskan untuk melanjutkan ritual untuk seluruh keluarga," kata sepupu Dangol, Sunil.
Bencana ini menjadi pengingat getir akan dampak perubahan iklim di kawasan Himalaya, yang kerap disebut 'menara air Asia'. Para ahli memperingatkan bahwa pencairan gletser yang semakin cepat meningkatkan risiko bencana serupa di masa depan. Bagi Indonesia, meski secara geografis jauh, peristiwa ini relevan sebagai pelajaran tentang pentingnya sistem peringatan dini dan tata kelola risiko bencana yang tangguh, terutama di daerah rawan longsor dan banjir bandang seperti di Sumatera dan Jawa.
"Kami harus melakukan ini untuk membebaskan jiwanya, agar ia tenang dan bahagia di mana pun berada," ujar Dolma Newar Tamang, istri dari korban hilang Chandra Bahadur Newar.
Pemerintah Nepal sendiri masih berfokus pada upaya pencarian dan evakuasi, namun seiring berjalannya waktu, harapan menemukan korban selamat semakin menipis. Pertanyaan besar yang kini mengemuka adalah bagaimana negara ini akan memperbaiki sistem mitigasi bencananya agar tragedi serupa tidak terulang. Apakah peringatan dini berbasis komunitas dan pengelolaan kawasan rawan gletser akan menjadi prioritas? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi bagi keluarga yang kehilangan, ritual simbolis ini setidaknya memberi ruang untuk mengakhiri ketidakpastian yang menyakitkan.



