Wajah Baru Hotel Kanazawa: Perjalanan Rashmita dari Nepal ke Resepsionis Jepang
Baca dalam 60 detik
- Rashmita Saru Magar, asal Nepal, kini menjadi resepsionis di Hotel Nikko Kanazawa setelah menempuh pendidikan bahasa dan bisnis di Jepang.
- Kemampuan multibahasanya menjadi aset berharga di industri perhotelan yang kian mengglobal, mencerminkan tren tenaga kerja asing di Jepang.
- Kisahnya menggarisbawahi pentingnya dukungan komunitas dan adaptasi budaya bagi pekerja migran, relevan dengan dinamika serupa di Indonesia.

Rashmita Saru Magar, perempuan asal Nepal yang tiba di Jepang pada 2020, kini berdiri di balik meja depan Hotel Nikko Kanazawa, menyambut tamu dari berbagai penjuru dunia. Perjalanannya dari dataran rendah dekat Kathmandu hingga menjadi wajah hotel mewah di pesisir Laut Jepang ini bukan sekadar kisah sukses individu, melainkan cermin perubahan lanskap tenaga kerja di Negeri Sakura yang kian terbuka pada pekerja asing.
Lahir dan besar di kawasan pertanian pisang dekat ibu kota Nepal, Saru Magar tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari gemerlap industri pariwisata. Namun, dorongan untuk mencari kehidupan yang lebih baik membawanya menyeberang ke Jepang, setelah mendengar dari teman-temannya bahwa negara itu "maju" dan "sangat aman". Keputusannya itu kini membuahkan hasil: setelah menempuh pendidikan di Alice Gakuen Vocational School di Kanazawa, ia berhasil menembus sektor perhotelan yang selama ini didominasi warga lokal.
Perjalanan Saru Magar tidaklah mudah. Ia harus menguasai bahasa Jepang dari level N5 yang paling dasar hingga N2, level yang memungkinkannya berkomunikasi dalam situasi sehari-hari dan profesional. Di sekolah vokasi, ia tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga mendalami bisnis internasional dengan fokus pada industri penginapan. Magang di Hotel Nikko Kanazawa menjadi pintu masuknya ke dunia kerja nyata, dan pada Juli tahun ini, ia resmi menduduki posisi resepsionis setelah sebelumnya menjadi bell attendant.
Keahlian multibahasanya—ia menguasai lima bahasa, termasuk Nepal, Hindi, Jepang, dan Inggris—menjadi nilai jual yang langka. Di hotel yang kerap menerima tamu mancanegara, kemampuan ini bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan. "Saya suka berkomunikasi dengan para tamu dan melihat senyum mereka," ujarnya, menggambarkan kepuasan yang ia temukan dalam pekerjaannya. Atasan langsungnya pun memuji keramahannya yang konsisten, baik terhadap tamu Jepang maupun asing, serta sikapnya yang sopan kepada rekan kerja.
Kisah Saru Magar menjadi relevan bagi Indonesia, yang juga menghadapi tantangan serupa dalam mengelola tenaga kerja asing dan meningkatkan kompetensi SDM di sektor pariwisata. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, kebutuhan akan pekerja hotel yang fasih berbahasa asing dan memiliki pemahaman lintas budaya semakin mendesak. Namun, berbeda dengan Jepang yang memiliki program vokasi terstruktur seperti yang dijalani Saru Magar, Indonesia masih berjuang untuk menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri.
Di tengah kesibukannya, Saru Magar tetap menjaga keseimbangan hidup. Pada hari libur, ia menari dan membagikan videonya di media sosial, menunjukkan bahwa adaptasi budaya tidak harus menghilangkan identitas asal. Ia juga bercita-cita suatu saat menerapkan pengalamannya di Nepal, meski untuk sekarang ia ingin berkarya di Jepang selama mungkin. "Saya ingin menggunakan pengalaman yang saya dapatkan di sini untuk Nepal," katanya, "tetapi untuk saat ini, saya ingin bekerja di Jepang selama mungkin."
Pandangannya tentang Jepang—keamanan, ketepatan waktu, dan keindahan alam empat musim—menjadi daya tarik yang membuatnya betah. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah Jepang dapat terus mengandalkan pekerja asing untuk mengisi kekosongan di sektor-sektor vital seperti perhotelan? Atau akankah negara itu menemukan cara untuk menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan integrasi sosial yang lebih dalam? Jawabannya akan menentukan masa depan tidak hanya bagi Saru Magar, tetapi juga bagi ribuan pekerja migran lain yang meniti karier di negeri orang.



