KNVB Minta FIFA Dirombak Total, Usulkan KTT Global di Amsterdam dan Ganti Infantino pada 2027
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi sepak bola Belanda (KNVB) secara terbuka menyatakan tidak percaya pada kepemimpinan Gianni Infantino dan mengusulkan pergantian presiden FIFA pada 2027.
- KNVB menilai masalah FIFA bukan hanya soal figur, melainkan struktur kekuasaan yang terlalu terpusat, sehingga mengusulkan reformasi tata kelola menyeluruh.
- Langkah KNVB ini berpotensi memicu perpecahan di internal FIFA menjelang pemilihan presiden Maret 2025, dengan UEFA mendukung penyelidikan hukum terhadap Infantino.

Asosiasi sepak bola Belanda (KNVB) secara mengejutkan menyerukan perombakan total FIFA, termasuk mengganti Presiden Gianni Infantino pada 2027. Dalam pernyataan resmi yang dirilis akhir pekan lalu, KNVB yang merupakan salah satu pendiri FIFA sejak 1904 itu mengusulkan penyelenggaraan KTT internasional di Amsterdam untuk merancang masa depan organisasi sepak bola dunia.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpuasan sejumlah federasi terhadap kepemimpinan Infantino, terutama setelah gagalnya rencana menjual saham penyelenggaraan Piala Dunia kepada investor swasta. Meski Infantino akan kembali mencalonkan diri pada Maret tahun depan, beberapa kekuatan sepak bola regional mulai membahas kemungkinan mosi tidak percaya.
"KNVB tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino. Kami yakin FIFA membutuhkan kepemimpinan baru mulai 2027," demikian bunyi pernyataan KNVB. Namun, mereka menegaskan bahwa pergantian presiden saja tidak cukup. "Cara FIFA diperintah juga harus berubah."
KNVB menyoroti konsentrasi kekuasaan yang terlalu besar di tangan presiden dan kurangnya pemisahan antara presiden dengan administrasi FIFA. Oleh karena itu, mereka mengusulkan tiga prioritas reformasi: tata kelola yang lebih baik dengan checks and balances yang kuat, menempatkan hak asasi manusia dan keberlanjutan sebagai inti pengambilan keputusan, serta memperkuat kerja sama internasional.
Selain itu, KNVB mendorong FIFA untuk menginvestasikan kembali hingga 90 persen dari pendapatan yang dapat didistribusikan untuk pengembangan sepak bola. Usulan ini dinilai sebagai kritik terhadap kebijakan FIFA yang dianggap terlalu fokus pada keuntungan komersial. Menariknya, Infantino sendiri pekan lalu menyatakan bahwa tugas FIFA adalah menjembatani kesenjangan antara anggota kaya dan miskin.
KNVB menegaskan bahwa inisiatif ini bukanlah "rencana Eropa untuk seluruh dunia". Mereka ingin mengembangkan arah baru bersama 211 asosiasi anggota FIFA dan konfederasi dari berbagai belahan dunia. Sikap ini menunjukkan upaya untuk menghindari kesan dominasi Eropa dalam reformasi FIFA.
Langkah KNVB ini sejalan dengan manuver UEFA yang sebelumnya meminta izin pengadilan federal AS untuk mendapatkan kesaksian dan dokumen dari entitas FIFA di Florida. Materi tersebut rencananya akan digunakan untuk pengaduan kriminal di Swiss terhadap Infantino. Hal ini menambah tekanan hukum yang dihadapi presiden FIFA tersebut.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam tata kelola FIFA yang transparan dan adil. Reformasi yang diusulkan KNVB, jika terwujud, dapat membuka peluang bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk mendapatkan porsi pendanaan pembangunan sepak bola yang lebih besar. Namun, perubahan kepemimpinan FIFA juga bisa membawa ketidakpastian bagi program-program yang sedang berjalan, termasuk pengembangan sepak bola usia muda.
Pertanyaan besarnya, akankah seruan KNVB ini mendapatkan dukungan luas dari federasi lain, terutama dari kawasan Asia dan Afrika yang selama ini menjadi basis dukungan Infantino? Atau justru akan menjadi bumerang bagi upaya reformasi itu sendiri? Yang jelas, tekanan terhadap Infantino semakin nyata, dan masa depan FIFA kini berada di persimpangan.



