Dari Ambisi Pensiun ke Legenda: Sepuluh Tahun Kejayaan Messi yang Hampir Tak Pernah Terjadi
Baca dalam 60 detik
- Messi sempat mengumumkan pensiun dari timnas Argentina pada 2016 setelah gagal di final Copa America, namun membatalkannya enam pekan kemudian.
- Keputusan itu menjadi titik balik: ia mempersembahkan empat trofi besar, termasuk Piala Dunia 2022, dan menutup karier internasionalnya dengan 125 gol.
- Kematian sang ayah dan sanksi FIFA yang membatasi kapasitas penonton membuka peluang laga perpisahan resmi di Buenos Aires.

Lionel Messi resmi menutup karier internasionalnya sebagai pemain dengan torehan 125 gol dalam 207 penampilan, mengukuhkan statusnya sebagai ikon sepak bola Argentina. Namun, di balik gemerlap prestasi itu, tersimpan sebuah fakta yang nyaris mengubah arah sejarah: pada Juni 2016, ia sempat mengumumkan pensiun dini setelah Argentina kembali gagal di final Copa America. Keputusan itu, jika tidak dibatalkan, akan menghilangkan era keemasan yang kemudian membawa Argentina meraih Piala Dunia 2022 dan dua gelar Copa America.
Momen krusial itu terjadi di MetLife Stadium, New Jersey, dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-29. Setelah gagal mengeksekusi penalti dalam adu penalti melawan Chile, Messi menyatakan bahwa tim nasional sudah berakhir baginya. "Saya sudah memberikan segalanya, tidak ada lagi yang tersisa," ujarnya saat itu. Kegagalan di empat final beruntun—Piala Dunia 2014, Copa America 2007, 2015, dan 2016—menjadi beban psikologis yang tak tertahankan, terutama karena ia selalu dibandingkan dengan Diego Maradona.
Kritik tajam datang dari berbagai arah, termasuk dari Maradona sendiri yang menilai Messi tidak punya karakter pemimpin. Julukan "Pecho Frio" (dada dingin) disematkan padanya, sebuah hinaan yang menyebut darahnya seperti susu. Menurut penulis biografi Messi, Guillem Balague, tekanan sebagai kapten dan bayang-bayang Maradona membuat Messi sangat terpukul saat kalah. "Ini ketiga kalinya dia memutuskan pergi, tapi pertama kali di depan publik," kata Balague.
Kabar pensiunnya memicu gelombang besar di Argentina. Tagar #NoTeVayasMessi dipakai lebih dari 20.000 kali dalam sehari, Presiden Mauricio Macri menelepon langsung, dan ribuan fans berkumpul di Buenos Aires. Pelatih baru Edgardo Bauza bahkan terbang ke Barcelona untuk membujuknya. Messi akhirnya kembali, dengan alasan cinta pada negara dan seragam timnas. "Saya mencintai negara dan jersey ini terlalu dalam," ujarnya.
Keputusan itu menjadi titik balik. Setelah kembali, Messi memimpin Argentina meraih empat trofi besar dalam tiga tahun, termasuk Piala Dunia 2022 di Qatar. Pada Piala Dunia 2026, ia mencetak delapan gol dan empat assist, meski Argentina kalah dari Spanyol di final—lagi-lagi di MetLife Stadium, tempat ia pernah 'pensiun' sepuluh tahun sebelumnya. Penampilannya yang mulai melambat justru diimbangi kecerdasan membaca permainan yang tetap efektif.
Kematian ayahnya, Jorge, tiga pekan setelah final 2026 menambah duka, dan keputusan pensiun kali ini dianggap final. Namun, pengamat sepak bola Amerika Selatan, Tim Vickery, menilai Argentina FA mungkin akan menggelar laga perpisahan resmi di Buenos Aires setelah sanksi FIFA yang membatasi kapasitas penonton berakhir. "Mengapa tidak menggelar pertandingan di River Plate, stadion berkapasitas terbesar di Amerika Selatan?" ujarnya.
Kisah Messi mengajarkan bahwa keputusan emosional bisa berubah menjadi bumerang atau justru berkah. Bagi Argentina, perubahan pikiran Messi adalah anugerah terbesar. Namun, pertanyaan besarnya kini: akankah generasi emas Argentina mampu mempertahankan dominasi tanpa sang maestro? Atau justru muncul pemain baru yang siap mengisi kekosongan itu? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: tanpa Messi, Argentina mungkin masih menunggu gelar Piala Dunia sejak 1986.



