Louis Walsh Siap Kembali ke X Factor, tapi dengan Satu Syarat: Sharon Osbourne Harus Ikut
Baca dalam 60 detik
- Louis Walsh hanya mau kembali menjadi juri X Factor jika Sharon Osbourne juga diikutsertakan, menegaskan ikatan persahabatan mereka.
- Rencana reboot X Factor oleh ITV dan Talkback Thames disebut akan mengutamakan juri muda dan influencer, membuat Walsh dan Osbourne terpinggirkan.
- Simon Cowell masih memegang hak siar dan terbuka pada format baru, namun perannya di layar kaca diprediksi berkurang.

Louis Walsh, manajer musik yang namanya melekat erat dengan ajang pencarian bakat The X Factor sejak debutnya pada 2004, menyatakan kesediaannya untuk kembali duduk di kursi juri apabila acara tersebut dihidupkan lagi. Namun, ada satu syarat yang dia ajukan: Sharon Osbourne, rekannya sesama juri di musim-musim awal, harus turut serta. Pernyataan ini muncul di tengah kabar bahwa ITV dan rumah produksi Talkback Thames tengah menjajaki kemungkinan menghadirkan kembali acara yang sempat menjadi fenomena global itu.
Walsh, yang dikenal dengan gaya ceplas-ceplos dan humor khasnya, mengaku kepada The Sun bahwa bekerja bersama Osbourne adalah pengalaman yang menyenangkan. "Tentu saja saya akan kembali, tapi hanya jika Sharon juga ikut. Kami akan sangat seru bersama," ujarnya. Baginya, kehadiran Osbourne bukan sekadar teman kerja, melainkan elemen yang membuat dinamika panel juri terasa hidup. Keduanya pernah menjadi bagian dari generasi awal X Factor bersama Simon Cowell, saat acara ini masih menjadi primadona televisi Inggris.
Di balik antusiasme Walsh, sumber internal yang dikutip The Sun menyebutkan bahwa peluangnya untuk kembali menjadi juri sangat tipis. Produser dikabarkan ingin menyegarkan format dengan menghadirkan wajah-wajah baru yang lebih muda, seperti musisi influencer atau penyanyi generasi anyar. "Louis memang hebat di layar kaca, tapi dia dianggap sebagai peninggalan X Factor. Bahkan Simon pun tidak akan menjadi pusat perhatian di seri baru nanti," kata sumber tersebut. Ia menambahkan bahwa tujuan utama reboot adalah memberikan nuansa kekinian agar acara ini relevan dengan penonton masa kini.
Jika benar, ini menjadi ironi bagi Walsh dan Osbourne yang kini berusia di atas 70 tahun. Mereka dianggap kurang sesuai dengan arah baru yang mengedepankan energi muda dan koneksi dengan platform digital. Sementara itu, Simon Cowell, yang masih memegang hak cipta X Factor bersama Fremantle, justru disebut akan lebih banyak berkutat di balik layar. Cowell sendiri, dalam wawancara dengan podcast Tales from the Celebrity Trenches pada Mei lalu, mengakui bahwa dirinya kerap berdiskusi tentang masa depan acara ini. "Apakah kita kembalikan sebagai X Factor atau Z Factor?" ujarnya, meragukan format lama yang mungkin sudah usang.
Fenomena reboot acara televisi seperti X Factor sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai negara, termasuk Indonesia, format serupa seperti Indonesian Idol masih bertahan dengan mengadaptasi tren terkini. Namun, di era di mana platform digital seperti TikTok dan YouTube menjadi panggung utama bagi musisi baru, pertanyaan besarnya adalah: apakah televisi masih relevan? Cowell sendiri meyakini kekuatan layar kaca tetap tak tergantikan. "Masih tidak ada keraguan, kekuatan TV dalam membuat orang mengenal seorang artis itu sangat penting, terutama jika mereka tidak menulis materi sendiri," katanya. Ia menambahkan bahwa meskipun banyak artis yang sukses lewat jalur online, kasus seperti itu jarang terjadi.
Bagi penggemar setia X Factor di Indonesia, kabar ini tentu memicu nostalgia. Acara ini pernah menjadi tontonan wajib di era 2000-an, melahirkan idola-idola yang kini berkarier internasional. Namun, jika reboot benar-benar terjadi dengan wajah baru, akankah ia mampu menyaingi dominasi platform digital yang semakin menguasai industri musik? Atau justru menjadi ajang nostalgia yang hanya dinikmati generasi lama? Yang jelas, keputusan ITV dan Cowell dalam beberapa bulan ke depan akan menentukan apakah X Factor bisa bangkit kembali atau hanya menjadi kenangan manis masa lalu.



