Kereta Mewah Les Saveurs Shima: Kuliner Prancis di Atas Rel Jepang Mulai November
Baca dalam 60 detik
- Kintetsu Railway meluncurkan layanan kereta wisata premium Les Saveurs Shima dengan restoran Prancis di dalamnya, mulai beroperasi November mendatang.
- Tarif per penumpang dibanderol 19.000โ36.000 yen, mencakup hidangan dari bahan lokal khas Semenanjung Shima.
- Layanan ini menargetkan wisatawan yang mencari pengalaman perjalanan eksklusif, sekaligus mendorong pariwisata regional di Jepang tengah.

Jepang kembali memperkaya industri pariwisata kereta apinya dengan menghadirkan layanan baru bernuansa mewah. Kintetsu Railway Co. mengumumkan bahwa kereta wisata premium Les Saveurs Shima akan mulai beroperasi pada November mendatang, menawarkan pengalaman bersantap ala Prancis di atas rel yang membentang dari Nagoya hingga kawasan pesisir Shima.
Penjualan tiket telah dibuka sejak Selasa lalu untuk rute pulang-pergi harian yang menghubungkan Stasiun Kintetsu Nagoya di Prefektur Aichi dengan Stasiun Kashikojima di Prefektur Mie. Tarif yang ditawarkan bervariasi antara 19.000 yen hingga 36.000 yen per penumpang, sudah termasuk hidangan lengkap. Dengan kurs rupiah saat ini, angka tersebut setara dengan Rp2,1 juta hingga Rp4 jutaโsebuah banderol yang menegaskan posisinya sebagai layanan kelas atas.
Yang menarik, kereta ini tidak sekadar menjadi alat transportasi, melainkan sebuah ruang apresiasi kuliner dan estetika. Desain eksteriornya didominasi warna biru yang terinspirasi dari laut sekitar Semenanjung Shima, sementara interiornya dirancang dengan detail mewah: lantai berkarpet, kursi kulit dengan bantal empuk, rak bagasi, serta pencahayaan tidak langsung yang hangat. Untuk meningkatkan privasi, beberapa kursi tunggal dan kursi ganda dilengkapi partisi kayu bertekstur.
Konsep ini sejalan dengan tren global di mana pengalaman perjalanan menjadi semakin penting dibandingkan sekadar mencapai tujuan. Jepang, yang sudah dikenal dengan jaringan kereta peluru dan layanan presisi tinggi, kini menggarap segmen wisata lambat (slow tourism) dengan menonjolkan kemewahan dan lokalitas. Menurut Yuji Omura, kepala seksi departemen manajemen teknis Kintetsu, perusahaan berharap penumpang dapat menikmati perjalanan elegan sambil menyantap hidangan berbahan baku lokal dalam ruang interior berkualitas tinggi.
Bagi Indonesia, kehadiran kereta semacam ini membuka pelajaran berharga tentang bagaimana moda transportasi bisa menjadi daya tarik wisata tersendiri. Di dalam negeri, segmen kereta wisata premium sebenarnya mulai digarap, misalnya melalui layanan kereta wisata yang dioperasikan KAI di beberapa jalur. Namun, tingkat kemewahan dan integrasi dengan kuliner kelas dunia seperti yang dilakukan Kintetsu belum banyak dieksplorasi. Jika Indonesia ingin menarik wisatawan mancanegara dengan pengalaman serupa, kolaborasi antara operator kereta, koki profesional, dan pemerintah daerah menjadi kunci.
Lebih jauh, inisiatif Kintetsu ini juga menjadi sinyal bahwa pariwisata regional bisa digerakkan melalui transportasi tematik. Dengan menghubungkan Nagoyaโkota industri besarโke kawasan pesisir Shima yang terkenal dengan hasil lautnya, kereta ini diharapkan mampu mendistribusikan kunjungan wisatawan ke area yang sebelumnya kurang terjamah. Ini sejalan dengan strategi pemerintah Jepang untuk mengurangi kepadatan wisatawan di kota-kota besar seperti Tokyo dan Kyoto.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah model bisnis serupa akan diadopsi lebih luas di Asia, termasuk Indonesia. Dengan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap pengalaman unik dan berkelas, bukan tidak mungkin kereta wisata dengan konsep serupa akan bermunculan di negara-negara lain. Namun, tantangan utamanya tetap pada keberlanjutan operasional dan daya beli pasar. Apakah konsumen Indonesia siap membayar tarif premium untuk pengalaman bersantap di atas rel? Waktu yang akan menjawab.



