Harga Minyak Menguat, Bursa Asia Tertekan: Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Baca dalam 60 detik
- Serangan balasan AS-Iran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasokan dan mendorong harga minyak naik lebih dari 2 persen.
- Ketidakpastian geopolitik memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan, menekan pasar saham Asia dan imbal hasil obligasi.
- Eskalasi konflik berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk inflasi dan rantai pasok energi di Indonesia.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada Selasa (1/9) menyusul peringatan keras Presiden AS Donald Trump yang berjanji akan menghantam Iran "keras-keras" setelah terjadi serangan balasan di Selat Hormuz akhir pekan lalu. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru akan gangguan pasokan energi global, sekaligus menekan indeks saham di sejumlah bursa Asia.
Serangan yang dilancarkan AS terhadap sebuah pulau milik Iran di jalur pelayaran strategis itu dibalas Teheran dengan menyerang instalasi militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab. Meski kedua pihak tampak masih menahan diri, kebuntuan setelah enam bulan konflik membuat situasi tetap rapuh dan rawan eskalasi lebih lanjut.
Ketegangan ini datang di tengah peralihan strategi Washington dari tekanan militer ke "perang ekonomi". Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan kampanye tekanan akan terus digencarkan dan titik balik bisa terjadi "dalam hitungan minggu atau bulan". Pernyataan itu semakin menguatkan ekspektasi pasar bahwa inflasi akan bertahan tinggi, mendorong bank sentral global untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Di Asia, mayoritas bursa saham ditutup melemah. Indeks di Tokyo, Hong Kong, Seoul, Shanghai, Sydney, Singapura, dan Wellington kompak turun, meski Taipei, Manila, dan Jakarta masih mampu mencatat penguatan. Pelaku pasar kini menanti rilis data ketenagakerjaan dan inflasi AS yang akan menjadi penentu kebijakan Federal Reserve pada pertemuan 16 September mendatang.
Ekspektasi inflasi yang tinggi dan biaya pinjaman yang meningkat turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun ke level tertinggi sejak Januari 2025. Tekanan serupa juga terasa di Asia, dengan imbal hasil obligasi Jepang bertenor 10 tahun menyentuh rekor tertinggi dalam 30 tahun terakhir.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak dunia akan menekan anggaran subsidi energi dan berpotensi memicu inflasi domestik. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas harga pangan.
Di sisi lain, konflik yang berkepanjangan juga dapat mengganggu rantai pasok global dan memperlambat pemulihan ekonomi dunia. Hal ini akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia dan arus modal asing ke pasar keuangan domestik.
Analis National Australia Bank, Rodrigo Catril, menilai bahwa meskipun kedua belah pihak tampaknya tidak menginginkan konflik berkepanjangan, kebuntuan negosiasi dan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka membuat situasi rentan terhadap eskalasi lebih lanjut. "Sifat awal yang terukur menunjukkan tidak ada pihak yang secara aktif mencari konflik berkelanjutan, tetapi kebuntuan pembicaraan dan pentingnya strategis menjaga selat tetap terbuka membuat situasi rentan terhadap eskalasi lebih lanjut," ujarnya.
Di tengah ketidakpastian ini, Trump dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif perusahaan penyulingan minyak untuk membahas upaya menekan harga bahan bakar domestik yang melonjak, yang menjadi beban politik bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu November mendatang. Sementara itu, pasar juga mencermati perkembangan korporasi, seperti debut Shein di bursa Hong Kong yang justru anjlok lebih dari 9%, dan lonjakan saham MediaTek hampir 10% setelah Nvidia mengumumkan investasi senilai US$3,5 miliar.
Dengan data ekonomi AS yang akan dirilis dalam beberapa pekan ke depan, arah kebijakan moneter global masih menjadi tanda tanya besar. Akankah bank sentral memilih menahan suku bunga demi menjaga pertumbuhan, atau justru menaikkannya untuk mengendalikan inflasi? Jawabannya akan menentukan arah pasar keuangan dan ekonomi global dalam jangka pendek.



