Victor Miller, Penulis Naskah 'Friday the 13th', Meninggal di Usia 86
Baca dalam 60 detik
- Victor Miller, kreator di balik film horor ikonik 1980 'Friday the 13th', tutup usia pada 31 September 2025.
- Warisan Miller meliputi pembentukan genre slasher dan karier cemerlang di televisi dengan tiga Daytime Emmy.
- Keluarga berencana menggelar perayaan hidup pada 13 November 2025, sebuah tanggal yang sarat makna bagi para penggemar.

Dunia perfilman horor berduka. Victor Miller, penulis naskah di balik film klasik 'Friday the 13th' yang mencengkeram penonton sejak 1980, telah berpulang pada usia 86 tahun. Kepergiannya meninggalkan jejak mendalam, tidak hanya bagi para penggemar slasher, tetapi juga bagi industri kreatif yang pernah ia warnai dengan karya-karyanya.
Kabar duka ini dikonfirmasi oleh putranya, Ian Miller, melalui unggahan Instagram pada Selasa (1/10/2025). Ian menulis bahwa ayahnya "pergi ke penghargaan terakhirnya" pada Senin (30/9/2025). Ia mengenang Victor sebagai pribadi yang cerdas, humoris, dan menginspirasi banyak orang untuk mencintai fotografi, musik, dan seni bercerita. "Dia hampir selalu menjadi orang terpintar dan paling lucu di ruangan mana pun," tulis Ian, seraya menambahkan bahwa sang ayah meninggalkan istri, dua putra, dan seorang cucu.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, keluarga berencana mengadakan perayaan hidup untuk Victor Miller pada November mendatang. Momen ini terasa begitu simbolis karena jatuh tepat pada hari Jumat tanggal 13, tanggal yang identik dengan film yang membuat namanya abadi. "Tentu saja," ujar Ian, menegaskan pilihan tanggal yang penuh makna itu.
Lahirnya 'Friday the 13th' bukanlah tanpa inspirasi. Miller sendiri pernah mengungkapkan bahwa film tersebut merupakan upaya untuk meniru kesuksesan 'Halloween' garapan John Carpenter pada 1978. Dalam wawancaranya dengan situs penggemar, ia menuturkan bahwa ide awal datang dari keinginan meniru formula 'Halloween', dan judul film baru muncul setelah naskah melewati beberapa draf. Konsep perkemahan musim panas yang terisolasi lahir dari instingnya untuk menempatkan tokoh-tokoh muda di lokasi yang memutus mereka dari bantuan orang dewasa, mirip dengan premis dasar 'Halloween'. Bahkan, gagasan bahwa Jason telah meninggal sebelum film dimulai juga dipinjam dari konsep 'kejahatan sebelumnya' yang ada dalam film Carpenter, yaitu pembunuhan babysitter oleh Michael Myers.
Lebih lanjut, Miller menjelaskan bahwa alur cerita 'Friday the 13th' berkembang dari lokasi dan ide tentang para peserta kemah yang satu per satu dilenyapkan oleh "ibu paling protektif di dunia". Pendekatan inilah yang kemudian mempopulerkan latar perkemahan musim panas dan tema kenakalan remaja, yang menjadi ciri khas genre slasher.
Selain 'Friday the 13th', Miller juga menulis naskah untuk 'A Stranger Is Watching' (1982) yang kembali mempertemukannya dengan sutradara Sean S. Cunningham. Keduanya juga pernah berkolaborasi dalam film komedi keluarga 'Manny's Orphans' dan komedi olahraga 'Here Come The Tigers', keduanya dirilis pada 1978. Di layar kaca, Miller menorehkan prestasi gemilang dengan meraih tiga Daytime Emmy Award berkat perannya sebagai Associate Head Writer di sinetron legendaris 'All My Children'. Ia juga terlibat dalam 'One Life To Live', 'Guiding Light', 'Another World', dan 'General Hospital'.
Bagi para penggemar horor di Indonesia, kepergian Victor Miller mungkin terasa jauh, tetapi pengaruhnya terhadap budaya populer global tidak terbantahkan. Film-film slasher yang ia rintis telah menginspirasi banyak sineas tanah air, baik dalam gaya bercerita maupun penggunaan elemen ketegangan. Di tengah maraknya konten horor lokal yang kian kreatif, warisan Miller menjadi pengingat bahwa formula sederhana—lokasi terisolasi, karakter muda, dan ancaman yang tak terlihat—tetap relevan hingga kini.
Dengan berpulangnya Miller, industri perfilman kehilangan salah satu pencerita terbaiknya. Namun, pertanyaannya kini: akankah genre slasher yang ia populerkan terus menemukan bentuk baru di tengah gempuran tren horor modern yang semakin beragam? Atau justru kebangkitan nostalgia terhadap film klasik akan membawa nama Miller kembali dikenang oleh generasi baru penonton?



