Bentrok Jadwal Liga Inggris dan Liga Champions: EFL Sesalkan Sikap UEFA
Baca dalam 60 detik
- Laga Everton vs Wolves di Piala Liga terpaksa diundur karena UEFA menjadwalkan laga Liverpool vs Atletico Madrid di waktu yang sama.
- EFL menilai UEFA tidak kooperatif dan mengabaikan kepentingan liga domestik serta suporter yang terdampak.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang keseimbangan kekuasaan antara UEFA dan liga domestik di tengah ekspansi kompetisi Eropa.

Jakarta, LyndHub โ English Football League (EFL) secara terbuka menyuarakan kekecewaannya terhadap UEFA setelah dipaksa mengubah jadwal laga putaran ketiga Piala Liga Inggris (Carabao Cup). Penyebabnya, UEFA menetapkan laga Liverpool kontra Atletico Madrid di Liga Champions pada malam yang sama dengan duel Everton melawan Wolverhampton Wanderers, sebuah situasi yang mustahil diakomodasi karena alasan keamanan dan logistik kepolisian setempat.
Pertandingan Everton vs Wolves sejatinya dijadwalkan pada 9 September. Namun, pengumuman UEFA pada hari Sabtu yang menempatkan laga Liverpool di Anfield pada tanggal yang sama memicu kekacauan. Pasalnya, kepolisian Merseyside memiliki aturan ketat yang melarang Liverpool dan Everton menggelar laga kandang secara bersamaan di kota tersebut. Aturan ini bukan tanpa alasan; ia dirancang untuk mengelola lalu lintas, pengamanan, dan potensi kericuhan suporter.
Dalam pernyataan resminya, EFL mengungkapkan bahwa mereka telah mengonfirmasi jadwal laga Everton vs Wolves pada 28 Agustus bersama para pemangku kepentingan lokal, sesuai prosedur standar. Namun, keputusan UEFA yang datang belakangan dianggap mengabaikan kesepakatan tersebut. EFL bahkan mengklaim telah mengadakan pertemuan dengan pejabat UEFA pada Senin pagi untuk mencari solusi, tetapi UEFA menolak menggeser laga Liverpool karena mempertimbangkan dampak terhadap suporter yang telah merencanakan perjalanan dari luar negeri.
Sebagai kompromi, laga Everton vs Wolves akhirnya dipindah ke 16 September, bersamaan dengan laga Liverpool yang seharusnya menjamu Tottenham Hotspur di Piala Liga. Alhasil, laga Liverpool vs Tottenham pun dimajukan 24 jam lebih awal. Perubahan ini tentu merugikan suporter kelima klub yang terdampak, yang harus menyesuaikan rencana perjalanan dan akomodasi mereka.
EFL tidak hanya menyoroti kasus spesifik ini, tetapi juga pola yang lebih besar. Dalam beberapa musim terakhir, liga domestik Inggris terus-menerus menyesuaikan diri dengan ekspansi kompetisi klub UEFA, seperti penambahan jumlah pertandingan di Liga Champions dan Liga Europa. Keputusan itu, menurut EFL, kerap diambil tanpa konsultasi yang memadai dengan liga-liga domestik. Sikap UEFA yang tidak mau berkompromi kali ini semakin mempertegas frustrasi yang sudah lama terpendam.
Bagi pengamat sepak bola, insiden ini menjadi contoh nyata ketimpangan kuasa antara UEFA dan liga domestik. Ekspansi kompetisi Eropa memang menguntungkan secara finansial bagi klub-klub besar, tetapi sering kali mengorbankan kepentingan liga domestik dan suporter. Di Indonesia, fenomena serupa juga relevan, mengingat jadwal padat Timnas dan klub sering bentrok dengan agenda kompetisi regional seperti Piala AFC. Pengalaman EFL ini bisa menjadi pelajaran bagi federasi sepak bola di Asia Tenggara untuk lebih tegas dalam melindungi kepentingan domestik.
"Kami telah melakukan banyak perubahan untuk mengakomodasi ekspansi kompetisi UEFA, tetapi keputusan itu diambil tanpa konsultasi yang memadai dengan liga domestik. Ketidakmauan UEFA untuk bekerja sama semakin membuat frustrasi, terutama bagi suporter dari lima klub yang terdampak," demikian pernyataan resmi EFL.
Hingga berita ini diturunkan, UEFA belum memberikan tanggapan resmi. Namun, insiden ini membuka kembali diskusi tentang perlunya reformasi tata kelola sepak bola Eropa, di mana suara liga domestik harus lebih didengar. Apakah UEFA akan bersedia duduk bersama liga-liga nasional untuk mencari solusi jangka panjang, atau justru terus memaksakan agenda ekspansi? Pertanyaan ini akan menjadi penentu arah hubungan antara pusat dan pinggiran dalam ekosistem sepak bola Eropa ke depan.



