Banjir Bandang Nepal-China: 900 Tewas, 500 Pekerja PLTA Terjebak di Terowongan
Baca dalam 60 detik
- Bencana banjir bandang di Nepal dan China telah menewaskan lebih dari 900 orang, dengan ribuan lainnya hilang, termasuk 900 pekerja proyek PLTA.
- Setidaknya 500 pekerja diperkirakan terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air yang terkubur lumpur, dan upaya penyelamatan masih berlangsung.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan infrastruktur energi di kawasan rawan bencana, serta pentingnya standar keselamatan kerja yang ketat, termasuk di Indonesia.

Banjir bandang dahsyat yang melanda Nepal dan China telah menewaskan lebih dari 900 orang, sementara lebih dari 4.700 lainnya dinyatakan hilang. Di tengah kepanikan, perhatian dunia tertuju pada nasib ratusan pekerja yang diduga terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang terkubur lumpur. Asosiasi produsen listrik swasta Nepal memperkirakan sedikitnya 900 pekerja dari 12 proyek PLTA di Distrik Rasuwa dan Nuwakot belum ditemukan, dengan sekitar 500 di antaranya diduga kuat berada di dalam terowongan.
Presiden Asosiasi Produsen Listrik Independen Nepal, Mohan Kumar Dangi, mengungkapkan bahwa estimasi tersebut berdasarkan laporan dari berbagai perusahaan dan koordinasi dengan otoritas setempat. Namun, angka resmi yang dikeluarkan pemerintah masih beragam, dan tim penyelamat internasional telah dikerahkan untuk membantu upaya pencarian. Dangi menambahkan bahwa beberapa pekerja sempat melakukan kontak dan meminta pertolongan saat bencana terjadi pada Rabu lalu, namun enam hari setelah kejadian, kekhawatiran akan korban yang mati lemas semakin besar.
Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet, menyatakan bahwa operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan di area perbukitan, permukiman, dan sepanjang aliran sungai. Tim penyelamat berjuang melawan waktu dan hujan deras untuk menjangkau para korban. Di Proyek PLTA Upper Trishuli-1 di Distrik Rasuwa, sedikitnya 576 orang dilaporkan hilang, dengan sekitar 300 di antaranya diduga terjebak di dalam terowongan proyek. Sementara itu, di Proyek PLTA Trishuli-3, tim penyelamat berupaya menuruni terowongan sedalam 15 meter untuk menjangkau mereka yang diduga masih berada di dalam.
Ahli geosains dari Universitas Graz, Austria, Jakob Steiner, yang kini berbasis di Dhaka, Bangladesh, menjelaskan bahwa terowongan PLTA dibangun untuk mengakses infrastruktur dan mengalihkan aliran air, dengan ukuran yang cukup besar bahkan untuk dilewati truk. Menurutnya, terowongan ini menyediakan ruang yang cukup bagi orang untuk berlindung, dan tim penyelamat telah berhasil menyalurkan oksigen ke sebagian korban yang terjebak. Namun, ia menegaskan bahwa ini adalah perlombaan melawan waktu karena para korban membutuhkan makanan dan air.
Bencana ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menyoroti kerentanan proyek infrastruktur energi di kawasan rawan bencana. Nepal, yang terletak di lereng Himalaya, memang kerap dilanda bencana alam, namun kejadian ini menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa dekade terakhir. Para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, yang dapat memicu bencana serupa di masa depan. Bagi Indonesia, yang juga memiliki banyak proyek PLTA di daerah rawan longsor dan gempa, tragedi ini menjadi pengingat pentingnya standar keselamatan kerja dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pemerintah dan perusahaan energi di Indonesia perlu mengevaluasi prosedur evakuasi dan sistem peringatan dini untuk melindungi para pekerja di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat masih berjuang keras untuk menemukan korban selamat. Jumlah korban jiwa diperkirakan masih akan bertambah seiring dengan proses evakuasi dan pencarian yang terus dilakukan. Pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah upaya penyelamatan ini akan berhasil menyelamatkan mereka yang masih terjebak di dalam terowongan, dan bagaimana negara-negara dengan infrastruktur serupa dapat mencegah tragedi serupa terulang.



