Evakuasi 14 Menit Selamatkan 900 Siswa di Nepal: Kepala Sekolah Jadi Pahlawan
Baca dalam 60 detik
- Kepala sekolah di Nepal memimpin evakuasi 900 siswa hanya dalam 14 menit setelah peringatan dini banjir, menyelamatkan nyawa mereka.
- Banjir lumpur yang melanda Bidur menewaskan lebih dari 900 orang, tetapi sekolah tersebut menjadi contoh keberhasilan penyelamatan berkat kesigapan staf.
- Peristiwa ini menyoroti pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana, yang relevan bagi Indonesia yang rawan bencana hidrometeorologi.

Banjir lumpur yang menerjang Nepal pekan lalu menelan ratusan korban jiwa, namun di tengah duka itu, satu sekolah di Bidur menjadi saksi keberhasilan evakuasi dramatis. Kepala Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli, Rajendra Dawadi, berhasil menyelamatkan lebih dari 900 siswa dan 16 guru hanya dengan peringatan 14 menit sebelum gelombang air bah menghancurkan bangunan sekolah.
Kejadian bermula saat akuntan sekolah menerima telepon dari kerabatnya di Rasuwa, daerah yang lebih dulu dilanda banjir. Teriakan "banjir datang!" langsung mengguncang ruang kelas. Dawadi, yang pernah menjadi siswa di sekolah tersebut, segera memerintahkan penghentian kegiatan belajar dan membunyikan lonceng darurat. Para guru pun bergegas mengarahkan siswa ke tempat yang lebih tinggi.
Sekolah yang berdiri di semenanjung sempit antara Sungai Trishuli dan kanal pembangkit listrik tenaga air ini memang berada di zona berisiko tinggi. Dibangun kembali setelah gempa bumi dahsyat 2015 yang menewaskan sekitar 9.000 orang, sekolah tersebut kini hilang ditelan arus. Lokasinya kini berada di dasar sungai.
Proses evakuasi berlangsung kacau namun terorganisir. Bus yang mengangkut siswa diarahkan ke tempat aman, sementara orang tua berdatangan dengan sepeda motor untuk menjemput anak-anak mereka. Seorang siswa bahkan pingsan karena panik. Ketika bus terakhir melintasi jembatan baru, jembatan lama langsung roboh diterjang air. "Saat bus kami melintasi jembatan baru, jembatan lama runtuh," kenang Dawadi.
Man Maya Tamang, orang tua salah satu siswa, mengungkapkan rasa syukurnya. "Dia seperti dewa. Dia memberi kehidupan pada putri saya dan banyak anak lainnya. Hanya Tuhan yang bisa melakukan ini," ujarnya. Namun, tidak semua berakhir bahagia. Setidaknya satu staf sekolah dan ibu dari akuntan yang memberi peringatan dini masih hilang. Sang akuntan sempat menyelamatkan ayahnya ke tempat tinggi, tetapi saat kembali untuk ibunya, rumahnya sudah tersapu bersih.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya sistem peringatan dini yang efektif. Di Nepal, keterbatasan infrastruktur dan akses informasi sering menjadi kendala. Namun, keberhasilan sekolah ini membuktikan bahwa kesiapsiagaan dan respons cepat dapat menyelamatkan banyak nyawa.
Bagi Indonesia, yang juga rawan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, kisah ini relevan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengembangkan sistem peringatan dini, tetapi efektivitasnya bergantung pada koordinasi di lapangan. Kepala sekolah di daerah terpencil seringkali menjadi garda terdepan dalam evakuasi, seperti yang dicontohkan Dawadi.
Dawadi kini mendesak pemerintah Nepal untuk membangun kembali sekolah di lokasi yang lebih aman. Namun, pertanyaan yang lebih besar adalah: bagaimana memastikan keselamatan warga di daerah rawan bencana? Akankah tragedi ini mendorong perubahan kebijakan yang lebih serius dalam manajemen risiko bencana di Nepal dan negara-negara lain yang serupa?



