Perang Iran Bayangi Pertemuan G20: AS Desak Sekutu Ikut Isolasi Ekonomi Teheran
Baca dalam 60 detik
- Menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 berkumpul di Asheville, AS, dengan agenda utama membahas dampak ekonomi perang AS-Israel terhadap Iran.
- Washington meluncurkan kampanye 'Operation Economic Outcast' dan mengancam sanksi sekunder bagi negara yang masih berbisnis dengan Teheran, termasuk China.
- Pertemuan ini juga menjadi ajang uji solidaritas multilateral di tengah melemahnya relevansi G20 dan ketegangan ekonomi global.

Menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari dua puluh ekonomi terbesar dunia memulai pertemuan dua hari di Asheville, Carolina Utara, pada Senin (1/9), dengan perang AS-Israel melawan Iran yang telah memasuki bulan keenam menjadi bayang-bayang utama. Agenda yang semula berfokus pada pertumbuhan ekonomi kini terbelah oleh tekanan geopolitik, saat Washington berupaya menggalang dukungan untuk mengisolasi Teheran secara finansial.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang memimpin diskusi bersama Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh, diperkirakan akan mendesak negara-negara G20 untuk berdiri bersama Washington dalam kebijakan ekonomi yang mengepung Iran. Seorang pejabat Treasury menyatakan bahwa pemerintahan Trump menganggap penting bagi anggota G20, terutama China yang merupakan mitra dagang utama Iran, untuk mematuhi aturan sanksi AS jika mereka ingin tetap beroperasi dalam sistem keuangan Barat.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari kampanye baru yang diumumkan Bessent pekan lalu, yang diberi nama Operation Economic Outcast. Dalam kampanye tersebut, AS secara eksplisit memperingatkan bahwa negara mana pun yang masih menjalin bisnis dengan Iran dapat menghadapi sanksi sekunder. Ancaman ini tidak hanya menyasar perusahaan, tetapi juga pemerintah yang dianggap melanggar rezim sanksi.
Di tengah tekanan tersebut, para pemimpin keuangan G20 pada hari pertama dijadwalkan untuk menilai kesehatan ekonomi global dan mencari cara mendorong pertumbuhan. Dalam sambutan pembukaannya, Bessent menegaskan bahwa prioritas utama adalah pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada kelimpahan sumber daya, kejelasan aturan, dan kekuatan pasar. "Ketika kondisi ini terpenuhi, sektor usaha dapat melakukan apa yang tidak bisa dilakukan pemerintah," ujarnya, seraya menambahkan bahwa untuk pertama kalinya ia mengundang para pemimpin bisnis seperti CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon dan CEO Goldman Sachs David Solomon untuk bergabung dalam diskusi dengan para pembuat kebijakan G20.
Langkah Bessent mengundang sektor swasta ini dinilai sebagai upaya untuk mengidentifikasi hambatan pertumbuhan dan merumuskan reformasi. Namun, di balik retorika tersebut, organisasi internasional dan ekonom swasta menilai ekonomi global sebenarnya telah berhasil melewati guncangan energi dan gangguan rantai pasokan akibat perang lebih baik dari perkiraan. Meski demikian, G20 yang mewakili sekitar 85 persen produk domestik bruto dunia ini justru semakin sulit mencapai konsensus multilateral, sehingga relevansinya dipertanyakan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara yang mengimpor minyak dan memiliki hubungan dagang dengan berbagai pihak, Indonesia harus menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan tekanan geopolitik. Jika sanksi sekunder AS benar-benar diterapkan, Indonesia yang memiliki hubungan dagang dengan Iran, meskipun tidak sebesar China, bisa terkena dampak tidak langsung. Selain itu, melemahnya yen yang memicu intervensi bersama AS-Jepang juga berpotensi mempengaruhi nilai tukar rupiah dan arus modal asing.
Pada Senin, para pemimpin keuangan negara-negara G7 juga akan mengadakan pertemuan paralel di sela-sela acara G20 untuk membahas dukungan bagi Ukraina dan isu-isu terkait kecerdasan buatan. Sementara itu, serangkaian pertemuan bilateral dijadwalkan berlangsung hingga Selasa, dengan pertemuan antara Bessent dan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menjadi sorotan pasar. Ini menyusul intervensi mata uang bersama yang jarang terjadi sebulan lalu untuk menopang yen yang melemah ke level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar AS.
AS yang menjadi ketua G20 tahun ini berupaya mengembalikan fokus kelompok pada misi inti pertumbuhan ekonomi, dengan menekankan deregulasi, inovasi teknologi, dan kerja sama erat dengan bisnis. Namun, upaya untuk mengeluarkan komunike bersama setelah diskusi dua hari ini masih menghadapi tantangan besar, terutama karena agenda seperti ketidakseimbangan ekonomi global sulit mencapai kata sepakat. Pertanyaannya, mampukah G20 kembali relevan di tengah perpecahan geopolitik yang semakin dalam, atau justru akan menjadi panggung baru persaingan kekuatan?



