Rencana Tarif AS Ancam Produksi Toyota dan Honda di Kanada
Baca dalam 60 detik
- Usulan bea masuk 50% dari AS untuk mobil Kanada berpotensi memukul Toyota dan Honda yang menguasai 75% produksi mobil di Kanada.
- Kedua raksasa otomotif Jepang itu menghadapi risiko penutupan jalur produksi dan gangguan rantai pasok ke pasar utama AS.
- Ketidakpastian kebijakan perdagangan AS juga berdampak pada keputusan investasi jangka panjang industri otomotif global, termasuk di Asia Tenggara.

Rencana pemerintahan Amerika Serikat untuk mengenakan bea masuk 50 persen terhadap mobil impor asal Kanada berpotensi menjadi bumerang bagi dua raksasa otomotif Jepang, Toyota dan Honda. Keduanya menguasai lebih dari tiga perempat total produksi mobil di Kanada, sehingga kebijakan yang dijadwalkan berlaku pada 1 Januari mendatang itu dapat memaksa mereka menutup sejumlah lini perakitan.
Analis menilai waktu penerapan tarif ini sangat tidak menguntungkan. Di tengah gempuran mobil listrik murah asal China di pasar Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Latin, Toyota dan Honda justru harus menghadapi tambahan beban biaya di pasar utama mereka, Amerika Serikat. Negeri Paman Sam memang menjadi pasar terbesar bagi keduanya, sekaligus menjadi benteng pertahanan dari penetrasi merek seperti BYD yang belum mampu masuk ke sana.
Data Barclays menunjukkan, mobil rakitan Kanada menyumbang hampir seperempat penjualan Honda di AS dan 17 persen untuk Toyota pada tahun lalu. Angka ini yang tertinggi di antara produsen otomotif besar, sehingga kedua perusahaan Jepang itu diprediksi menjadi pihak yang paling terdampak jika tarif digandakan dari 25 persen menjadi 50 persen.
Julie Boote, analis otomotif dari Pelham Smithers Associates di London, menyebut kebijakan tersebut dapat menghancurkan industri otomotif Kanada. Menurutnya, Toyota dan Honda kemungkinan besar harus menutup sebagian jalur perakitan mereka di Kanada. Kedua perusahaan enggan berkomentar saat dimintai konfirmasi.
Industri otomotif Kanada sendiri memproduksi sekitar 1,2 juta mobil per tahun dan menopang sekitar 427.000 lapangan kerja. Model seperti RAV4 dari Toyota dan CR-V dari Honda, yang diekspor dari Kanada ke AS, termasuk SUV terlaris di pasar Amerika. Gangguan produksi di Kanada jelas akan berimbas pada pasokan kendaraan ke dealer-dealer AS.
Kebijakan tarif ini merupakan babak terbaru dari serangkaian kebijakan perdagangan Trump yang membuat industri otomotif global kalang kabut. Selama bertahun-tahun, produsen dari AS, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan membangun rantai produksi terintegrasi di Amerika Utara, memanfaatkan perjanjian dagang dan biaya tenaga kerja murah di Meksiko. Namun, dinamika biaya kini berubah drastis. Tahun lalu saja, tarif AS telah membebani Toyota hingga 1,4 triliun yen atau sekitar 8,8 miliar dolar AS.
Sebagai respons, Toyota justru mempercepat ekspansi produksi di AS. Produsen mobil terbesar dunia itu berencana menginvestasikan hingga 10 miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan, termasuk membangun pabrik baru senilai 3,6 miliar dolar AS di Texas. Pabrik tersebut akan memproduksi pikap Tacoma yang selama ini dirakit di Meksiko. Sementara itu, Honda yang sedang berjuang membenahi bisnis mobilnya yang merugi, semakin tertekan. Seorang eksekutif senior Honda mengisyaratkan perusahaan bisa membatalkan rencana pembangunan pabrik perakitan kedelapan di Amerika Utara jika perundingan USMCA tidak kunjung menemui kepastian.
Ketidakpastian ini juga dirasakan oleh Hyundai asal Korea Selatan yang tahun lalu menunda keputusan investasi akibat situasi yang sama. Jika tarif benar-benar diterapkan, Toyota dan Honda kemungkinan akan mengalihkan kendaraan rakitan Kanada ke pasar lain, lalu mencari cara untuk memenuhi permintaan pasar AS yang sangat penting. Namun, tugas itu tidak mudah karena kendaraan untuk pasar AS biasanya disesuaikan dengan regulasi dan kebutuhan setempat, sementara pabrik di lokasi lain mungkin sudah beroperasi mendekati kapasitas maksimum.
Seiji Sugiura, analis senior di Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, menilai situasi ini akan menjadi perubahan besar dari praktik yang selama ini berjalan. Para pemasok komponen Jepang pun mengaku kesulitan merencanakan langkah ke depan karena ketidakpastian yang masih menyelimuti kebijakan tersebut. "Kami berusaha untuk tidak bereaksi berlebihan," ujar salah satu eksekutif pemasok.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pelajaran penting. Sebagai negara yang tengah giat mengembangkan industri otomotif, termasuk kendaraan listrik, stabilitas kebijakan perdagangan global menjadi faktor krusial. Ketergantungan pada pasar ekspor dan rantai pasok regional membuat industri otomotif dalam negeri rentan terhadap gejolak tarif dan perang dagang. Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah tarif AS akan berlaku, tetapi bagaimana negara-negara seperti Indonesia dapat memperkuat ketahanan industri otomotifnya di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi.



