Petani Guangdong Melawan Cuaca Ekstrem: Adaptasi Jadi Kunci Bertahan
Baca dalam 60 detik
- Provinsi Guangdong mencatat rekor 10 topan dalam setahun, mengancam produksi longan senilai US$1,2 miliar.
- Petani beralih ke teknologi seperti livestreaming dan penyesuaian jadwal tanam untuk memitigasi kerugian.
- Perubahan iklim memaksa petani mengubah strategi jangka panjang, termasuk diversifikasi tanaman dan perbaikan infrastruktur.

Di tengah ancaman topan yang semakin sering melanda, para petani di Guangdong, China selatan, terpaksa beradaptasi dengan cepat untuk menyelamatkan mata pencaharian mereka. Provinsi yang menjadi lumbung buah longan dunia ini mencatat rekor 10 topan yang menghantam atau memengaruhi wilayahnya tahun lalu, memaksa ribuan orang mengungsi dan mengancam produksi pertanian senilai miliaran dolar.
Maoming, kota pesisir di Guangdong, merupakan produsen longan terbesar di dunia dengan produksi 550.000 ton tahun lalu, bernilai lebih dari US$1,2 miliar. Namun, musim panen longan yang bertepatan dengan puncak musim topan membuat para petani seperti Li Ziling harus berjuang ekstra. Keluarganya kehilangan sekitar 200.000 yuan (US$30.000) akibat topan tahun lalu. "Buah yang rusak tetap menggantung di pohon, tapi dagingnya sudah busuk, jadi pembeli tidak mau," ujarnya.
Ketika topan mendekat, para petani berlomba menjual hasil panen sebelum rusak. Li memanfaatkan livestreaming untuk mencari pembeli dengan cepat, meskipun harga yang ditawarkan cenderung rendah. "Jika tidak dijual, kerugian akan lebih besar. Ketika semua orang menjual, harga turun," katanya. Relokasi kebun bukan solusi mudah karena faktor iklim dan akses pembeli menjadi pertimbangan utama.
Di Zhuhai, Zhan Zhiyu dari Green Fingers Organic Farm menghadapi tantangan serupa. Saat Topan Super Ragasa menerjang September lalu, mereka hanya punya waktu dua hari untuk bersiap. Dengan membongkar plastik rumah kaca dan memanen sebanyak mungkin, mereka berhasil membatasi kerusakan hanya pada satu rumah kaca yang rata. "Jika tidak melakukan persiapan itu, semua rumah kaca bisa hancur, kerugian minimal 3 juta yuan," jelasnya. Kerusakan akibat topan juga berdampak jangka panjang; pohon buah yang patah butuh tiga tahun untuk pulih.
Selain topan, perubahan iklim memicu cuaca ekstrem lain. Suhu panas di atas 30ยฐC hingga Oktober membuat jadwal tanam kacau, sementara curah hujan tinggi menyebabkan tanah salin-alkali di pesisir memadat, menghambat pertumbuhan akar. Zhan mencontohkan, hasil panen pare tahun ini jauh menurun dibanding tahun lalu. "Tanah menjadi keras, akar tidak bisa bernapas," katanya.
Meski risiko meningkat, petani tetap bertahan karena keunggulan musim dingin yang hangat memungkinkan produksi sayuran yang tidak bisa ditanam di daerah lain. Musim dingin menyumbang 70 persen produksi tahunan. "Kami memaksimalkan kekuatan ini dan terus meningkatkan kemampuan merespons perubahan iklim," ujar Zhan. Baginya, meninggalkan lahan yang sudah digarap lebih dari satu dekade bukan pilihan.
Konteks Indonesia: Pengalaman petani Guangdong menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia, yang juga rawan bencana hidrometeorologi. Adaptasi seperti penggunaan teknologi informasi, diversifikasi tanaman, dan perbaikan infrastruktur pertanian dapat menjadi model. Namun, perbedaan skala dan dukungan pemerintah perlu diperhatikan. Pertanyaannya, apakah petani Indonesia siap menghadapi tantangan serupa?



