Bencana Gletser Nepal-China: 919 Tewas, 4.800 Hilang, Ribuan Pekerja PLTA Terjebak
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang akibat pecahnya gletser di perbatasan Nepal-China menewaskan 919 orang dan membuat 4.793 lainnya hilang, termasuk ratusan warga asing.
- Sebagian besar korban hilang adalah pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal, menyoroti risiko infrastruktur energi di zona rawan bencana.
- China mengerahkan lebih dari 2.100 personel penyelamat, sementara Nepal masih berjuang menjangkau area terdampak yang terisolasi.

Enam hari setelah gletser di Gunung Langtang Lirung retak dan memicu banjir bandang dahsyat, jumlah korban tewas di kawasan perbatasan Nepal-China telah menembus 919 jiwa, sementara 4.793 orang masih dinyatakan hilang. Angka ini menjadikan bencana tersebut salah satu yang terburuk dalam sejarah Himalaya, dengan dampak yang melumpuhkan wilayah Rasuwa hingga Lembah Kathmandu di Nepal dan Kabupaten Gyirong di sisi China.
Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Penanganan Bencana Nepal mengonfirmasi 903 kematian di Nepal dan 4.247 orang hilang, termasuk 592 warga asing. Di sisi China, Xinhua melaporkan 16 tewas dan 546 hilang, dengan 261 di antaranya merupakan warga negara asing. Jika digabungkan, total warga asing yang hilang mencapai 853 orang, menjadikan bencana ini krisis kemanusiaan dengan dimensi internasional yang kompleks.
Yang paling memprihatinkan, dari daftar orang hilang di Nepal, 933 di antaranya adalah personel yang bertugas di berbagai stasiun pembangkit listrik tenaga air. Mereka bekerja di proyek-proyek PLTA yang tersebar di lembah-lembah pegunungan, yang kini tertimbun material longsor. Selain itu, aparat keamanan juga menjadi korban: 25 polisi, 45 tentara, 13 personel pasukan bersenjata, 14 petugas bea cukai, dan 3 petugas imigrasi. Keberadaan 127 wisatawan Nepal dalam daftar hilang menambah lapisan tragedi ini.
Bencana ini bermula ketika gletser di Gunung Langtang Lirung, pada ketinggian sekitar 5.200 meter, retak pada Rabu (26/8). Longsoran es dan batu yang dihasilkan berkembang menjadi aliran puing raksasa yang menerjang lembah-lembah di sepanjang perbatasan. Gelombang air dan lumpur menghancurkan permukiman di Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, dan Lembah Kathmandu, sementara di sisi China, Gyirong tertimbun material. Para ahli memperkirakan perubahan iklim mempercepat pencairan gletser, meningkatkan frekuensi bencana serupa di kawasan Hindu Kush-Himalaya.
Operasi pencarian dan penyelamatan terus berlangsung, dengan China mengerahkan lebih dari 2.100 personel serta ratusan kendaraan dan ribuan peralatan. Namun, medan yang sulit dan cuaca ekstrem menghambat upaya menjangkau korban. Di Nepal, prioritas diberikan pada evakuasi pekerja yang terjebak di proyek PLTA, yang seringkali berada di lokasi terpencil. Kegagalan mencapai mereka tepat waktu dapat memperbesar jumlah korban jiwa.
Bencana ini menjadi pengingat pahit bagi negara-negara yang bergantung pada energi hidroelektrik dari kawasan pegunungan. Indonesia, yang tengah gencar mengembangkan PLTA di daerah rawan longsor seperti Sulawesi dan Sumatera, perlu mengevaluasi standar keselamatan dan sistem peringatan dini. โKejadian ini menunjukkan bahwa investasi infrastruktur di zona tektonik dan glasial harus diimbangi dengan kajian risiko bencana yang matang,โ ujar seorang analis kebencanaan yang enggan disebutkan namanya. Tanpa langkah antisipatif, proyek serupa di Indonesia bisa menghadapi ancaman yang tidak jauh berbeda.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana kedua negara akan merekonstruksi wilayah yang hancur dan memulihkan sektor energi yang terdampak. Apakah insiden ini akan mendorong moratorium pembangunan PLTA di lembah glasial, atau justru mempercepat adopsi teknologi pemantauan gletser real-time? Jawabannya akan menentukan apakah tragedi ini menjadi pelajaran berharga atau sekadar catatan kelam dalam sejarah bencana Asia.



