Longsor Gletser di Himalaya Tewaskan Ratusan Orang: Peringatan bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Runtuhnya bagian bawah gletser di dekat puncak Langtang Lirung memicu longsoran es dan banjir bandang yang menewaskan ratusan warga di Nepal dan Tibet.
- Para ahli mengaitkan kejadian ini dengan pemanasan global yang mencairkan es dan melemahkan lereng gunung, meningkatkan frekuensi bencana serupa.
- Bencana ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat sistem peringatan dini dan mitigasi bencana hidrometeorologi di daerah rawan longsor dan banjir.

Ratusan jiwa melayang setelah gletser di kawasan Himalaya runtuh dan memicu longsoran es serta banjir bandang yang menerjang permukiman di Nepal dan Tibet, awal pekan ini. Peristiwa yang terekam dalam sejumlah video amatir itu menunjukkan betapa cepatnya bencana datang, menyisakan duka dan pertanyaan besar tentang kesiapan menghadapi dampak perubahan iklim.
Berdasarkan analisis citra satelit, bagian bawah gletser di dekat puncak Langtang Lirung terbelah dan jatuh ke lembah di bawahnya. Longsoran es dan batuan itu kemudian meluncur deras mengikuti aliran Sungai Lhende Khola yang membentang di perbatasan Nepal-Tibet. Material lumpur dan es menghantam Pelabuhan Gyirong di Tibet serta masuk ke wilayah Nepal, menciptakan banjir bandang berkecepatan tinggi yang menyapu jalan, proyek pembangkit listrik, dan menenggelamkan desa-desa.
Guo Zhaocheng, ahli geologi pemerintah China, menyebut aliran puing es tersebut melaju dengan kecepatan sekitar 50 meter per detik dan menjangkau area lebih dari 20 kilometer. Kecepatan itu menyisakan sedikit waktu bagi warga untuk menyelamatkan diri. Di sisi lain, air bah yang terbentuk dari runtuhnya gletser mengalir deras melewati lembah-lembah di Nepal dan mengubah aliran sungai hingga lebih dari 100 kilometer ke hilir, dekat perbatasan India, setelah turun lebih dari 4.500 meter dari ketinggian Himalaya.
Palang Merah melaporkan bahwa sejumlah desa hancur total, sementara jalan dan jembatan yang putus membuat banyak komunitas terisolasi. Skala penuh bencana ini masih belum dapat dipastikan, namun korban jiwa dipastikan mencapai ratusan orang. Kesaksian seorang penyintas berusia 68 tahun, Keshav Prasad Baral, yang dirawat di rumah sakit Nepal, menggambarkan betapa dahsyatnya lumpur yang datang: "Itu semburan lumpur besar yang langsung menuju kami. Saat semakin dekat, ia terus naik semakin tinggi. Ketika melihatnya masuk ke rumah, saya mencoba meraih tangan istri dan membawanya ke teras. Tapi dia tersapu lumpur."
Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim berperan dalam meningkatkan frekuensi bencana semacam ini. Simon Cox, ilmuwan utama program Mountains to Sea di Earth Sciences New Zealand, menjelaskan bahwa pemanasan global menciptakan kondisi yang dapat mengguncang kestabilan batuan dan es di pegunungan tinggi. "Perubahan iklim menghasilkan kondisi yang dapat membuat batuan dan es di pegunungan tinggi menjadi tidak stabil," katanya. Meski para ahli tidak serta-merta menyebut perubahan iklim sebagai pemicu tunggal, mereka sepakat bahwa suhu yang meningkat dan mencairnya gletser memperbesar kemungkinan terjadinya kolaps besar di beberapa titik.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi alarm akan pentingnya mitigasi bencana hidrometeorologi. Meski Indonesia tidak memiliki gletser, pola cuaca ekstrem dan risiko longsor serta banjir bandang di daerah pegunungan seperti Papua dan Jawa Barat memiliki kemiripan dalam hal kerentanan. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam berbagai kesempatan menekankan perlunya sistem peringatan dini yang terintegrasi dan edukasi masyarakat untuk menghadapi bencana yang datang tiba-tiba.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah negara-negara di kawasan Asia, termasuk Indonesia, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap ancaman yang semakin kompleks akibat perubahan iklim. Investasi dalam teknologi pemantauan, infrastruktur tahan bencana, dan kesiapsiagaan komunitas menjadi kunci untuk mengurangi risiko. Namun, tanpa aksi global yang nyata untuk menekan emisi, bencana serupa diprediksi akan semakin sering terjadi.



