IPO Shein di Hong Kong: Jaringan Pemasok China Jadi Pemenang Tunggal
Baca dalam 60 detik
- Penawaran umum perdana Shein di Hong Kong menilai perusahaan hanya US$26 miliar, jauh di bawah puncak valuasi privat US$100 miliar.
- Jaringan pemasok di Guangzhou menjadi penerima manfaat utama, dengan 40% dana IPO dialokasikan untuk teknologi guna memperkuat ekosistem manufaktur.
- Strategi ekspansi Shein ke depannya bergantung pada kemampuan menjual kapabilitas produksinya ke merek lain, sebuah tantangan yang belum terbukti.

Setelah bertahun-tahun berusaha melepaskan diri dari citra China, Shein akhirnya menyadari bahwa rantai pasok di balik kesuksesannya adalah aset yang tak bisa ditinggalkan. Ironisnya, ekosistem itulah yang kini menjadi penerima manfaat utama dari penawaran umum perdana (IPO) yang panjang dan berliku di Hong Kong. Bagi para pemegang saham dan perusahaan itu sendiri, perjalanan ini justru penuh onak dan duri.
Peritel daring yang berbasis di Singapura ini mematok harga saham IPO di HK$48,56 (sekitar US$6,19) per lembar, menempatkan valuasi perusahaan hanya di angka US$26 miliar. Nilai tersebut menyusut drastis hingga seperempat dari puncak valuasi di pasar privat yang pernah mencapai US$100 miliar empat tahun silam. Sebagian pemegang saham lama memang mendapat kompensasi atas penurunan nilai, namun hal itu tak lantas menjadikan mereka pemenang.
Shein bahkan harus membayar hingga US$3,5 miliar kepada investor pra-IPO sebagai bentuk proteksi atas penurunan harga saham. Jumlah itu hampir dua kali lipat dana segar yang berhasil dikumpulkan dari IPO, yang hanya mencapai US$1,7 miliar. Kondisi ini menggambarkan betapa mahalnya biaya yang harus ditanggung demi melangsungkan pencatatan saham di tengah ketidakpastian pasar.
Namun, ada satu kelompok yang patut merayakan: ribuan pabrik kecil di Guangzhou, China selatan, yang menjadi otot di balik model ultra-fast-fashion Shein. Rantai pasok yang terintegrasi erat dan terkonsentrasi di area kompak ini memungkinkan Shein mengidentifikasi tren, memesan dalam jumlah kecil, dan mengirimkan produk dalam waktu dua minggu. Keunggulan ini terutama terasa di kategori fesyen wanita, yang masih didominasi Shein meski bersaing ketat dengan Temu milik PDD.
Strategi Shein untuk mendekatkan diri ke investor Barat dengan memindahkan basis ke Singapura dan mencitrakan diri sebagai perusahaan global ternyata gagal. Penolakan keras dari Amerika Serikat serta ketidakmampuan mereplikasi kecepatan, fleksibilitas, dan biaya rendah produksi di negara seperti Brasil dan Turki menjadi batu sandungan. IPO ini justru mengikat pemasok semakin erat dengan Shein, sejalan dengan rencana perusahaan mengalokasikan 40% dana IPO untuk teknologi guna memperkuat jaringan manufaktur.
Langkah berikutnya Shein adalah menjadikan jaringan pemasok Guangzhou sebagai mesin pertumbuhan bagi merek lain. Dengan melambatnya pertumbuhan di AS dan Eropa akibat proteksionisme dan persaingan, perusahaan berencana mengakuisisi label dan mengintegrasikannya ke pabrik yang sama, atau menawarkan layanan produksi ke perusahaan lain. Namun, mengubah keunggulan manufaktur menjadi mesin pertumbuhan bagi pihak lain bukanlah perkara mudah.
Sejak 2021, Shein telah meluncurkan inkubator fesyen yang kemudian berevolusi menjadi program Xcelerator, menawarkan pemenuhan produk, dukungan produksi, dan akses ke platform penjualan. Hasilnya masih minim, hanya menyumbang kurang dari 1% penjualan tahun lalu. Sementara itu, akuisisi merek seperti Everlane yang diumumkan Mei lalu, justru berpotensi menjadi bumerang. Merek asal AS itu dikenal karena transparansi rantai pasok dan produksi berkelanjutan, nilai-nilai yang bertentangan dengan etos ultra-fast-fashion. Memaksakan Everlane masuk ke mesin produksi Shein dikhawatirkan akan mengikis identitas merek yang menjadi daya tarik utamanya.
Respons pasar yang lesu terhadap IPO mengindikasikan investor belum sepenuhnya yakin Shein menemukan mesin pertumbuhan baru. Dengan valuasi 13 kali laba berjalan, diskon signifikan dibandingkan Inditex, H&M, atau Fast Retailing, Shein menghadapi tugas berat membuktikan bahwa sistem manufaktur yang merevolusi fesyen dapat kembali berjaya. Pertanyaannya, akankah jaringan pemasok China yang menjadi kekuatan utama ini mampu mendorong ekspansi global Shein di tengah tekanan regulasi dan persaingan yang semakin ketat?



