Dari Layar ke Lapangan: Thea Frodin, Ganda Serena Williams di Film, Kini Debut di US Open
Baca dalam 60 detik
- Thea Frodin, yang memerankan Serena Williams kecil di film 'King Richard', akan menjalani debut Grand Slam di US Open 2026.
- Ia meraih wildcard setelah menjuarai Kejuaraan Nasional USTA Girls 18s, dan akan menghadapi unggulan kedua Elena Rybakina di babak pertama.
- Kisah Frodin menyoroti transisi langka dari dunia akting ke tenis profesional, menginspirasi atlet muda Indonesia untuk mengejar mimpi di tengah keterbatasan.

Lima tahun setelah berperan sebagai Serena Williams kecil dalam film "King Richard", petenis muda Amerika Serikat, Thea Frodin, kini bersiap melakoni debutnya di turnamen Grand Slam US Open. Di usia 17 tahun, ia akan turun di Flushing Meadows, New York, tempat idolanya itu pernah meraih enam gelar tunggal. Perjalanan Frodin dari set film ke lapangan tenis menjadi salah satu narasi menarik yang mewarnai penyelenggaraan turnamen tahun ini.
Frodin terpilih sebagai pemeran pengganti untuk adegan tenis saat usianya baru 12 tahun. Film "King Richard" yang dirilis 2021 itu mengisahkan perjalanan Richard Williams, ayah Serena dan Venus, dalam membawa kedua putrinya dari Compton menuju puncak tenis dunia. Peran Richard yang diperankan Will Smith bahkan berhasil meraih Piala Oscar. Meski tanpa pengalaman akting sebelumnya, Frodin yang sudah memegang raket sejak usia enam tahun dan mengidolakan Serena, mampu menjalani peran tersebut dengan baik.
Kini, Frodin berhak tampil di babak utama Grand Slam setelah memenangkan Kejuaraan Nasional USTA Girls 18s awal bulan ini. Hasil itu memberinya tiket wildcard dan langsung mempertemukannya dengan Elena Rybakina, petenis nomor dua dunia, di babak pertama. "Saya hanya pernah bermimpi tentang momen seperti ini," ujar Frodin kepada situs resmi US Open. "Fakta bahwa saya berada di sini sekarang dan bisa mengalaminya secara langsung masih terasa mengejutkan."
Keterlibatan dalam film ternyata meninggalkan pengaruh besar pada permainan Frodin. Ia mengaku tanpa sadar meniru gaya pukulan Serena, terutama teknik backhand, sehingga pelatihnya sempat kesulitan mengembalikan gayanya sendiri. "Setelah syuting, saya terbiasa dengan pukulannya. Pelatih saya sedikit frustrasi karena saya mulai memukul seperti dia," kenang Frodin. Ia kemudian berusaha keras untuk kembali ke gaya bermainnya yang agresif, yang kini menjadi ciri khasnya. Prestasinya di level junior, termasuk semifinal Australia Open junior tahun ini, menunjukkan perkembangan yang pesat.
Menariknya, Frodin belum pernah bertemu langsung dengan idolanya. Namun, Serena Williams kembali tampil di US Open tahun ini, berpasangan dengan Venus di ganda putri dan juga bermain di ganda campuran bersama Carlos Alcaraz. "Semoga saya mendapat kesempatan untuk berlatih atau sekadar bertemu mereka. Itu akan luar biasa," harap Frodin. Pertemuan dengan Rybakina di babak pertama tentu menjadi ujian berat, tetapi Frodin siap memberikan perlawanan. "Dia nomor dua dunia pasti punya alasan. Saya berharap bisa menampilkan permainan terbaik saya," tegasnya.
Kisah Frodin menjadi pengingat bahwa jalan menuju puncak olahraga bisa datang dari berbagai arah, bahkan dari dunia seni peran. Bagi Indonesia, fenomena ini relevan dengan upaya pembinaan atlet muda yang kerap terkendala fasilitas dan pendanaan. Mimpi Frodin yang berawal dari mengidolakan Serena, lalu berkesempatan memerankannya, kini berbuah manis di panggung terbesar tenis dunia. Pertanyaannya, akankah ada lebih banyak lagi atlet muda dari negara berkembang yang mampu menembus batasan dan meraih mimpi serupa?
Kehadiran Frodin di US Open tidak hanya menjadi kisah pribadi yang inspiratif, tetapi juga cermin bagaimana industri hiburan dan olahraga bisa saling menguatkan. Ia membuktikan bahwa pengalaman di luar lapangan, seperti berakting, dapat memberikan perspektif unik dalam menghadapi tekanan kompetisi. Dengan dukungan yang tepat, bukan tidak mungkin ia akan menjadi salah satu nama besar tenis dunia di masa depan. Kini, semua mata tertuju pada penampilan perdananya melawan Rybakina, sebuah laga yang bisa menjadi awal dari babak baru kariernya.



