Baznas Buka Beasiswa Santri 2026: 2.500 Kursi untuk Dhuafa Berprestasi, Jembatan Menuju Kampus Impian
Baca dalam 60 detik
- Pendaftaran Beasiswa Santri Baznas 2026 resmi dibuka, menyediakan 2.500 kursi bagi santri kelas 12 MA/sederajat dari keluarga prasejahtera.
- Program yang telah menjangkau 32.418 santri ini mengalokasikan dana Rp4 juta per penerima, plus pendampingan intensif untuk menembus PTN/PTKIN favorit.
- Inisiatif ini sejalan dengan target Astacita Presiden Prabowo untuk memperkuat SDM, sekaligus menjawab kesenjangan akses pendidikan tinggi bagi santri pelosok.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) membuka pendaftaran Beasiswa Santri 2026, menyediakan 2.500 kursi bagi santri dhuafa berprestasi dari seluruh Indonesia. Program yang diresmikan di Pondok Pesantren Al-Wahabiyyah Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 29 Agustus lalu ini menyasar siswa kelas 12 Madrasah Aliyah (MA) atau sederajat yang tengah bersiap menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
Langkah ini bukan sekadar bantuan finansial. Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid menegaskan bahwa beasiswa tersebut dirancang sebagai ikhtiar strategis untuk mendukung Astacita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia dan pendidikan. Hingga kini, program yang telah berjalan beberapa tahun terakhir itu telah bermitra dengan ribuan pesantren dan menjangkau 32.418 santri dari berbagai latar belakang, membuka jalan mereka menuju jenjang sarjana.
Pada 2025, program ini mencatatkan keberhasilan yang signifikan: lebih dari 7.300 santri berhasil diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), perguruan tinggi swasta unggulan, hingga perguruan tinggi kedinasan. Yang lebih menggembirakan, 4.779 dari 10.000 total penerima manfaat merupakan generasi pertama di keluarga mereka yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Angka ini menunjukkan dampak nyata bagi mobilitas sosial, terutama di kalangan keluarga prasejahtera.
Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, menjelaskan bahwa setiap penerima beasiswa akan memperoleh dana Rp4 juta yang bersumber dari Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS). Namun, yang lebih penting, program ini juga menyediakan pembinaan bagi santri dan peningkatan kapasitas bagi pesantren pengelola. "Kesempatan para santri, khususnya di kawasan pelosok, untuk mengakses perguruan tinggi negeri ternama masih sangat terbatas. Melalui program ini, kami memfasilitasi pendampingan semacam bimbingan belajar agar mereka memiliki kesempatan yang sama," tuturnya.
Data dari Kementerian Agama memperkuat urgensi program ini. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag, Basnang Said, mengungkapkan bahwa sekitar 60 persen orang tua santri berada pada Desil 1, 2, dan 3โkelompok ekonomi terendah. "Kalaupun ada Desil 6, 7, 8, biasanya pesantren-pesantren modern," ucapnya. Kondisi ini menegaskan bahwa mayoritas santri berasal dari keluarga yang secara ekonomi kurang mampu, sehingga akses ke pendidikan tinggi seringkali terhambat oleh biaya dan kurangnya persiapan akademik.
Bagi Indonesia, program ini memiliki arti strategis. Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas SDM menuju Indonesia Emas 2045, investasi pada pendidikan pesantren menjadi krusial. Santri tidak hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga keterampilan akademik yang memungkinkan mereka bersaing di perguruan tinggi negeri. Harapannya, seperti disampaikan Sodik, "Dari pesantren, kami berharap lahir dokter, insinyur, akademisi, profesional, pengusaha, birokrat, dan pemimpin yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa."
Dengan kuota yang meningkat dan pendampingan yang terstruktur, Beasiswa Santri Baznas 2026 menjadi salah satu instrumen penting untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Pertanyaannya, akankah program ini mampu menjangkau lebih banyak santri di daerah terpencil dan memastikan mereka tidak hanya diterima, tetapi juga lulus tepat waktu? Ke depan, evaluasi berkelanjutan dan perluasan kemitraan dengan kampus-kampus akan menjadi kunci keberhasilan program ini.



