Jembatan Olahraga Asia: Pelatih Jepang Pimpin Tim Kamboja dan Thailand di Asian Games Aichi-Nagoya
Baca dalam 60 detik
- Dua pelatih asal Jepang memimpin tim nasional Kamboja (soft tennis) dan Thailand (baseball) pada Asian Games 2026, menandai peran baru tuan rumah sebagai katalisator pembinaan atlet regional.
- Masato Ogiwara dan Shin Nakayama membawa pendekatan berbeda: fokus pada kemandirian atlet Kamboja dan pengembangan baseball akar rumput di Thailand, mencerminkan soft diplomacy melalui olahraga.
- Kehadiran mereka diharapkan memperkuat hubungan antarnegara Asia, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk belajar dari model kolaborasi pelatih asing dalam meningkatkan prestasi olahraga nasional.

Asian Games Aichi-Nagoya 2026 yang akan digelar musim gugur ini tidak hanya menjadi ajang unjuk gigi atlet-atlet terbaik Asia, tetapi juga panggung bagi diplomasi olahraga antarnegara. Dua pelatih asal Jepang, Masato Ogiwara dan Shin Nakayama, akan memimpin tim nasional Kamboja dan Thailand, menjadi jembatan antara tuan rumah dan negara-negara tetangga di kawasan.
Ogiwara, 36 tahun, adalah kepala pelatih tim soft tennis Kamboja. Ia pertama kali menginjakkan kaki di Kamboja pada 2013 untuk urusan bisnis, namun kemudian memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan mengabdikan diri sebagai pelatih. Dedikasinya dalam mengembangkan soft tennis di negara tersebut, termasuk melatih anak-anak yang tidak mampu bersekolah, membuatnya dipercaya menangani tim nasional.
Menariknya, Ogiwara menyesuaikan metode pelatihannya dengan karakter masyarakat Kamboja yang menurutnya terbiasa menerima dukungan. "Saya mencoba membuat mereka sadar bahwa mereka tidak akan bisa belajar tanpa inisiatif sendiri," ujarnya. Filosofi ini menjadi kunci untuk membangun kemandirian atlet, sebuah pendekatan yang mungkin relevan pula bagi pengembangan olahraga di Indonesia.
Sementara itu, Shin Nakayama, 32 tahun, sebelumnya adalah guru sekolah menengah di Okinawa. Pada 2024, ia bergabung dengan program sukarelawan luar negeri Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) dan dikirim ke Thailand. Meski masa tugasnya berakhir pada Mei lalu, ia kemudian direkrut oleh asosiasi baseball Thailand. "Saya mendapatkan pengalaman yang tidak akan saya dapatkan jika tetap di Jepang," katanya.
Nakayama awalnya kesulitan dengan bahasa, namun kini fasih berbahasa Thai. Ia bertekad menyampaikan daya tarik baseball kepada anak-anak Thailand. Tim yang dilatihnya sebagian besar beranggotakan pegawai negeri dan guru, dan berhasil menjadi runner-up pada SEA Games akhir tahun lalu. Meski levelnya belum setara tim sekolah menengah Jepang, Nakayama optimistis timnya bisa memberi inspirasi bagi anak-anak Thailand.
Fenomena ini menunjukkan peran Jepang yang semakin aktif dalam membina olahraga di kawasan Asia. Bagi Indonesia, kehadiran pelatih asing seperti ini bisa menjadi model untuk meningkatkan kualitas atlet, terutama dalam cabang olahraga yang belum populer. Dengan semangat kolaborasi, Asian Games kali ini tidak hanya tentang medali, tetapi juga tentang membangun persahabatan dan solidaritas antarnegara.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan semakin terbuka terhadap pelatih asing untuk mempercepat kemajuan olahraga mereka. Atau justru sebaliknya, mereka akan mengembangkan pelatih lokal dengan belajar dari pengalaman Jepang. Asian Games Aichi-Nagoya akan menjadi panggung untuk melihat bagaimana investasi sumber daya manusia ini berbuah hasil.



