Diabetes Tipe 2 pada Perempuan: Risiko Gangguan Mental Lebih Tinggi, Studi Baru Ungkap
Baca dalam 60 detik
- Studi di Inggris menemukan perempuan dengan diabetes tipe 2 lebih rentan mengalami depresi dan kecemasan dibanding laki-laki, terutama pada usia muda.
- Laki-laki lebih banyak terkena penyakit kardiovaskular dan ginjal, sementara hipertensi menjadi komplikasi paling umum pada kedua jenis kelamin.
- Temuan ini menekankan perlunya skrining kesehatan mental rutin dalam perawatan diabetes, tidak hanya untuk perempuan tetapi semua pasien.

Diagnosis diabetes tipe 2 tidak hanya membawa konsekuensi pada pengelolaan gula darah, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai komplikasi kesehatan lain. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal PLOS Medicine mengungkapkan bahwa perempuan dan laki-laki menghadapi risiko komorbiditas yang berbeda setelah didiagnosis, dengan perempuan lebih rentan terhadap gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.
Penelitian yang menggunakan data dari Clinical Practice Research Datalink (CPRD) di Inggris ini melibatkan 28.720 partisipan yang didiagnosis diabetes tipe 2 antara tahun 2010 hingga 2020. Dalam periode pengamatan rata-rata 6,8 tahun, tim peneliti memantau perkembangan kondisi kesehatan lain yang muncul setelah diagnosis. Hasilnya, hampir 39% partisipan mengalami setidaknya satu komplikasi, dengan hipertensi menjadi yang paling umum, mempengaruhi sekitar 20% perempuan dan 21% laki-laki.
Perbedaan mencolok terlihat pada kategori gangguan mental yang mencakup kecemasan, depresi, dan gangguan somatoform. Sekitar 8,1% perempuan mengembangkan kondisi ini, sementara hanya 5,3% laki-laki. Yang lebih memprihatinkan, perempuan berusia 16 hingga 39 tahun memiliki probabilitas tertinggi untuk mengalami gangguan mental setelah diagnosis diabetes. Sebaliknya, laki-laki lebih banyak terkena penyakit kardiovaskular atau ginjal stadium akhir, dengan angka 8,4% dibandingkan 5,3% pada perempuan.
Penulis utama studi, Fabiola Eto, PhD, dari Queen Mary University of London, menjelaskan bahwa temuan ini mungkin dipengaruhi oleh frekuensi konsultasi medis yang lebih tinggi pada perempuan. Rata-rata perempuan melakukan 92 kali konsultasi perawatan primer, sementara laki-laki hanya 32 kali. "Beberapa kondisi mungkin tercatat lebih cepat pada perempuan, bukan karena perbedaan tingkat kejadian yang sebenarnya," ujarnya. Namun, Eto menekankan bahwa kombinasi diabetes dan gangguan mental merupakan "tanda bahaya yang perlu diselidiki lebih lanjut," terutama karena terkait dengan risiko kematian dini.
Para ahli yang tidak terlibat dalam penelitian ini memberikan perspektif yang beragam. Cheng-Han Chen, MD, seorang kardiolog intervensi di MemorialCare Saddleback Medical Center, California, mengingatkan bahwa perbedaan ini bisa jadi mencerminkan perbedaan diagnosis, bukan efek langsung diabetes. "Kita belum tahu apa yang mendorong perbedaan ini. Beberapa temuan mungkin mencerminkan perbedaan dalam seberapa umum kondisi tertentu didiagnosis pada pria dan wanita," katanya. Sementara itu, Jay Luthar, MD, dari Harvard Medical School, melihat pola ini sejalan dengan pengamatan klinis. "Diabetes tipe 2 tidak mengikuti lintasan yang sama pada wanita seperti pada pria," ujarnya, menunjuk pada perbedaan hormonal dan keterlibatan pria yang lebih rendah dalam perawatan pencegahan.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi diabetes yang terus meningkat. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 19,5 juta penduduk Indonesia hidup dengan diabetes, dan angka ini diproyeksikan naik. Dengan sistem layanan kesehatan yang masih berkembang, skrining kesehatan mental pada pasien diabetes sering terabaikan. Padahal, seperti disarankan Luthar, pemeriksaan psikologis rutin seharusnya menjadi bagian standar kunjungan kontrol diabetes, bukan hanya untuk perempuan, tetapi untuk semua pasien.
Penelitian ini membuka jalan bagi pendekatan pengobatan yang lebih personal, namun para ahli mengingatkan agar tidak terburu-buru mengubah pedoman klinis berdasarkan satu studi observasional. Pertanyaan yang muncul: akankah sistem kesehatan di Indonesia siap mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam manajemen diabetes? Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan holistik, langkah ini mungkin menjadi krusial dalam meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes di masa depan.



