Comeback Dramatis Filip Hrgovic di Ronde Kesembilan, Kalahkan Moses Itauma dan Rebut Gelar Juara Tinju Kelas Berat IBF
Baca dalam 60 detik
- Filip Hrgovic menang TKO ronde kesembilan atas Moses Itauma di O2 Arena London, merebut sabuk IBF yang kosong.
- Itauma, yang sempat unggul delapan ronde, kehabisan stamina dan menjadi korban pengalaman Hrgovic.
- Hrgovic kini membidik laga unifikasi dengan Agit Kabayel, tetapi promotor Frank Warren memaksanya menghadapi Frank Sanchez lebih dulu.

Filip Hrgovic mencatatkan namanya dalam sejarah tinju dunia dengan kemenangan dramatis atas Moses Itauma di O2 Arena, London, Sabtu malam. Petinju Kroasia berusia 34 tahun itu merebut gelar juara dunia kelas berat IBF yang kosong setelah memaksa wasit menghentikan pertarungan pada ronde kesembilan, sekaligus menjadi juara dunia kelas berat pertama dari negaranya.
Sepanjang delapan ronde awal, Hrgovic tampak tertinggal jauh. Itauma, yang baru berusia 21 tahun, tampil agresif dengan pukulan cepat dan akurat ke arah kepala serta tubuh lawan. Bahkan, Hrgovic sempat menerima hitungan delapan berdiri pada ronde-ronde awal. Namun, pengalaman dan ketahanan fisik Hrgovic perlahan mengubah arah pertarungan. Itauma, yang berusaha menjadi juara dunia kelas berat termuda kedua setelah Mike Tyson, mulai kehilangan tenaga pada ronde-ronde akhir.
Puncaknya terjadi di ronde kesembilan. Hrgovic, yang dikenal dengan julukan "El Animal", melancarkan serangan bertubi-tubi yang memojokkan Itauma di tali ring. Wasit akhirnya menghentikan laga setelah kubu Itauma melemparkan handuk sebagai tanda menyerah. Kemenangan ini tidak hanya mengukuhkan Hrgovic sebagai juara, tetapi juga membuka babak baru dalam persaingan kelas berat yang semakin sengit.
Bagi Indonesia, kemenangan Hrgovic ini menjadi pengingat bahwa tinju kelas berat selalu menyajikan drama dan kejutan. Meski tidak ada petinju Indonesia yang terlibat, pertarungan ini menarik perhatian penggemar tinju Tanah Air yang selama ini mengikuti perkembangan kelas berat. Selain itu, laga ini juga menunjukkan bahwa faktor stamina dan pengalaman sering kali menjadi penentu di ronde-ronde akhir, sebuah pelajaran berharga bagi petinju muda Indonesia yang bercita-cita menembus panggung dunia.
Usai pertarungan, Hrgovic memberikan penghormatan kepada lawannya. "Dia petinju luar biasa, saya berterima kasih karena menerima tantangan ini dan memberi saya kesempatan menjadi bintang baru di divisi kelas berat. Saya adalah masa kini, dan dia pasti masa depan," ujarnya. Hrgovic juga mengakui bahwa Itauma adalah lawan terbaik yang pernah dihadapinya, tetapi ia merasa pengalaman menjadi faktor kunci. "Dia kehabisan tenaga... saya tahu ritme saya akan menguntungkan," tambahnya.
Dengan sabuk IBF di tangannya, Hrgovic langsung membidik laga unifikasi melawan juara WBC, Agit Kabayel, yang hadir di ringside untuk memberi selamat. Namun, rencana itu langsung dipatahkan oleh promotor Frank Warren. Warren menegaskan bahwa Hrgovic harus lebih dulu menghadapi Frank Sanchez, yang merupakan penantang wajib. Keputusan ini memicu spekulasi tentang arah karier Hrgovic dan masa depan divisi kelas berat.
Pertarungan ini juga menyoroti kebangkitan kelas berat yang semakin kompetitif. Dengan munculnya nama-nama seperti Itauma yang masih muda dan haus kemenangan, serta Hrgovic yang berpengalaman, persaingan di divisi ini diprediksi akan semakin menarik. Bagi penggemar tinju di Indonesia, laga-laga seperti ini menjadi tontonan yang layak dinantikan, terutama dengan potensi pertarungan besar di masa depan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Hrgovic mampu mempertahankan gelarnya dalam jangka panjang, atau apakah Itauma akan bangkit dan kembali menantang. Satu hal yang pasti, kelas berat kembali menjadi pusat perhatian dunia, dan Indonesia tidak akan ketinggalan untuk menyaksikan setiap dramanya.



