Banjir dan Longsor Filipina Tewaskan 32 Orang, Ribuan Warga Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Hujan monsun yang diperkuat empat siklon tropis sepanjang Agustus memicu banjir dan tanah longsor di Filipina, menewaskan sedikitnya 32 orang dan memaksa 25.800 warga mengungsi.
- Ancaman lahar non-erupsi dari Gunung Pinatubo meningkat, memicu peringatan dini bagi komunitas di Pampanga dan sekitarnya, sementara kerusakan infrastruktur dan pertanian mencapai miliaran peso.
- Dengan musim siklon yang masih berlangsung, pemerintah Filipina menghadapi tantangan besar dalam pemulihan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana susulan.

Hujan monsun yang diperkuat empat siklon tropis sepanjang Agustus telah menewaskan lebih dari 30 orang di Filipina, sebagian besar di Pulau Luzon, dan memaksa puluhan ribu warga mengungsi. Badan Penanggulangan Bencana Filipina (OCD) mencatat 32 korban jiwa hingga 29 Agustus, dengan Benguet sebagai provinsi paling terdampak.
Banjir dan tanah longsor yang dipicu curah hujan ekstrem telah melumpuhkan aktivitas di sepuluh wilayah, memengaruhi sedikitnya delapan juta orang atau 2,3 juta keluarga. Di Benguet, 15 kematian terjadi akibat tanah longsor, termasuk sepuluh di Kota Baguio. Sementara itu, di Provinsi Rizal dan Batangas masing-masing mencatat empat korban jiwa, dengan penyebab bervariasi dari longsor, tenggelam, hingga tersengat listrik.
Fenomena ini tidak lepas dari empat siklon tropis yang memasuki wilayah Filipina sepanjang Agustus, dengan yang terbaru, Topan Obet (Saudel), menjadi siklon ke-15 tahun ini. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang baru mencapai sembilan siklon. OCD mencatat kerusakan infrastruktur mencapai 6,11 miliar peso dan kerugian pertanian 2,32 miliar peso, dengan 117 pemerintah daerah menetapkan status bencana.
Di tengah upaya evakuasi, ancaman lahar non-erupsi dari Gunung Pinatubo menambah kekhawatiran. Phivolcs mengeluarkan peringatan dini pada 29 Agustus untuk komunitas di sepanjang sungai yang berhulu di gunung tersebut. Endapan material piroklastik dari letusan 1991 berpotensi terbawa aliran sungai akibat hujan deras, mengancam daerah hilir seperti San Marcelino, San Narciso, San Felipe, dan Botolan. Sembilan anggota komunitas Aeta, termasuk lima anak-anak, menjadi korban jiwa dalam insiden terpisah di Zambales dan Pampanga.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Asia Tenggara terhadap dampak perubahan iklim. Pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi menuntut penguatan sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan bencana. Pengalaman Filipina dalam menghadapi lahar non-erupsi juga relevan bagi Indonesia yang memiliki gunung berapi aktif seperti Merapi dan Sinabung, di mana endapan material vulkanik dapat menjadi ancaman saat hujan deras.
Pemerintah Filipina telah mengerahkan bantuan dan melakukan evakuasi, tetapi skala kerusakan yang besar menunjukkan perlunya strategi jangka panjang. Proyek pengerukan sungai yang telah berjalan enam tahun di sekitar Pinatubo dinilai belum cukup untuk mencegah bencana. Sementara itu, musim siklon diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun, meningkatkan risiko bencana susulan.
Dengan 32 korban jiwa dan jutaan warga terdampak, Filipina kini berfokus pada pemulihan dan rehabilitasi. Namun, pertanyaan mendasar muncul: apakah upaya mitigasi yang ada sudah memadai untuk menghadapi intensitas bencana yang semakin tinggi? Tanpa investasi signifikan dalam adaptasi iklim, negara-negara di kawasan ini akan terus berjibaku dengan bencana serupa di masa depan.



