Bencana Himalaya: Hampir 3.000 Orang Hilang, Upaya Pencarian Terhambat Lumpur dan Ancaman Banjir Susulan
Baca dalam 60 detik
- Longsoran gletser di perbatasan Tibet-Nepal memicu banjir bandang dahsyat yang menewaskan sedikitnya 675 orang dan membuat hampir 3.000 lainnya hilang.
- Tim penyelamat kesulitan bergerak karena lumpur tebal dan risiko banjir susulan dari danau glasial yang terbentuk, memaksa penghentian operasi di beberapa zona terdampak.
- Dampak bencana meluas hingga sektor energi dan pariwisata regional, dengan ratusan pekerja proyek listrik dan wisatawan asing ikut menjadi korban, menyoroti kerentanan infrastruktur di kawasan rawan bencana.

Bencana dahsyat yang dipicu longsoran gletser di kawasan perbatasan Tibet-Nepal pada Rabu lalu telah menewaskan sedikitnya 675 orang dan membuat hampir 3.000 lainnya hilang, memicu operasi pencarian besar-besaran yang masih berlangsung hingga hari ini. Lumpur tebal setinggi lutut dan ancaman banjir susulan menjadi momok bagi tim penyelamat yang berjuang melawan waktu untuk menemukan korban selamat di tengah puing-puing yang menenggelamkan seluruh desa.
Menurut data terbaru dari kedua negara, jumlah korban hilang mencapai 2.980 orang, dengan 626 kematian dilaporkan di Nepal dan 554 orang hilang di wilayah Tibet, Tiongkok. Gelombang air dan material yang diibaratkan seperti tsunami ini menyapu bersih permukiman di sepanjang aliran sungai, meninggalkan kehancuran yang sulit dibayangkan. Survei Geologi AS menyebutkan bahwa bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser yang melepaskan aliran puing dalam volume besar ke lembah di bawahnya.
Di Nepal, petugas penyelamat dari Nepal Scout Disaster Response Team menggambarkan kondisi medan yang sangat berat. "Orang-orang menginginkan jenazah keluarganya kembali, hidup atau mati, tapi kami tidak bisa menemukannya... Anda bisa lihat lumpurnya," ujar Kawan Koirala, salah satu relawan, setelah bertugas selama 18 jam nonstop. Ia mengaku trauma dengan pemandangan yang dihadapinya, karena banjir sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya di Nepal.
Skala dampak bencana ini sangat luas. Palang Merah memperkirakan sebanyak 93.000 orang terkena dampak langsung, dan jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah. Di distrik Nuwakot, seorang warga bernama Buddhi Ram Dangol menyaksikan seluruh permukiman di dekat sungai luluh lantak. "Tidak ada yang tersisa," katanya. Sementara itu, di pangkalan militer Bidur yang menjadi pusat evakuasi, kerabat korban berdesakan melihat daftar nama yang diselamatkan, berharap menemukan anggota keluarga mereka. Kalka Sharda, yang mencari anaknya yang bekerja di pembangkit listrik tenaga air, mengaku tidak menemukan namanya dalam daftar dan pihak berwenang belum memberikan kejelasan.
Bencana ini juga menyoroti kerentanan proyek infrastruktur besar di kawasan Himalaya. Sebanyak 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air dilaporkan hilang, termasuk 100 orang yang terjebak di terowongan proyek PLTA Trishuli 3A. Tentara Nepal berupaya mengebor untuk menjangkau mereka, sementara tim penyelamat khusus terowongan dari India telah dikerahkan untuk membantu. Para pekerja yang selamat dari proyek lain di Lembah Trishuli menggambarkan bagaimana bencana datang dengan kecepatan yang mengerikan, tanpa peringatan.
Di sisi Tibet, otoritas Tiongkok menghentikan sementara operasi pencarian di daerah terdampak terparah, Gyirong, karena risiko banjir susulan. Danau-danau besar yang terbentuk dari endapan es dan lumpur menjadi ancaman baru yang dapat meluap kapan saja. Sementara itu, di India, tujuh jenazah ditemukan di sungai-sungai yang berhulu dari Nepal, menunjukkan bahwa korban bisa terbawa arus hingga ratusan kilometer. Banyak peziarah Hindu dari berbagai negara yang sedang menuju Gunung Kailash di Tibet juga dilaporkan hilang, menambah dimensi internasional pada tragedi ini.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi yang diperparah oleh perubahan iklim. Meskipun Indonesia tidak memiliki gletser, fenomena cuaca ekstrem seperti banjir bandang dan tanah longsor kerap terjadi di berbagai daerah, terutama di kawasan pegunungan. Kejadian ini menegaskan perlunya sistem peringatan dini yang lebih baik, infrastruktur yang tahan bencana, serta protokol evakuasi yang cepat dan efektif. Selain itu, banyaknya pekerja asing yang menjadi korban menunjukkan bahwa proyek-proyek besar di daerah rawan bencana harus memiliki rencana tanggap darurat yang matang.
Hingga saat ini, penyebab pasti longsoran gletser masih belum diketahui, namun para ilmuwan mengaitkannya dengan pemanasan global yang mempercepat pencairan es di kawasan Himalaya. Dengan kondisi yang masih belum stabil, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah operasi pencarian dapat dilanjutkan sebelum hujan deras kembali melanda, dan bagaimana negara-negara di kawasan ini akan memperkuat kerja sama untuk menghadapi ancaman serupa di masa depan. Akankah tragedi ini menjadi momentum bagi aksi iklim yang lebih nyata, atau justru tenggelam oleh rutinitas bencana yang terus berulang?



