Moyes Buka Suara soal Aksi Suporter Everton: 'Mereka Tak Selalu Salah'
Baca dalam 60 detik
- Manajer Everton, David Moyes, merespons kemarahan suporter yang menolak rencana penjualan gelandang muda Harrison Armstrong ke Nottingham Forest dengan tawaran ยฃ40 juta.
- Armstrong, yang dianggap sebagai prospek terbaik akademi Finch Farm, menjadi sorotan setelah suporter meneriakkan ancaman 'kerusuhan' jika ia dijual.
- Keputusan akhir tetap di tangan pemilik The Friedkin Group, namun langkah ini berpotensi menjadi ujian besar bagi ambisi klub dan kepercayaan suporter.

David Moyes akhirnya angkat bicara di tengah gelombang kemarahan suporter Everton yang menolak rencana penjualan gelandang muda Harrison Armstrong. Dalam laga imbang 1-1 melawan Bournemouth di Vitality Stadium, Sabtu (31/8), suporter tim tamu berulang kali meneriakkan ancaman "akan ada kerusuhan" apabila pemain berusia 19 tahun itu dilepas ke Nottingham Forest. Moyes, yang akrab dengan dinamika fanatisme pendukung, menilai suara-suara itu tidak bisa diabaikan begitu saja.
Menurut laporan BBC Sport, Nottingham Forest telah mengajukan tawaran senilai ยฃ40 juta untuk Armstrong, pemain timnas Inggris U-19 yang dianggap sebagai salah satu talenta terbaik yang lahir dari akademi Finch Farm dalam beberapa tahun terakhir. Armstrong, yang telah mencatatkan 24 penampilan untuk Everton, bermain selama 87 menit sebelum digantikan Charly Alcaraz. Tawaran ini datang di saat Everton tengah berjuang memperkuat skuad, sementara pemain kunci seperti Iliman Ndiaye juga dikaitkan dengan Manchester City.
Moyes, yang berada di tahun terakhir kontraknya, menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan klub, yang kini dimiliki oleh The Friedkin Group (TFG). "Saya pikir Anda harus selalu mempertimbangkan suporter; suporter tidak selalu salah," ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keputusan besar sering kali tidak populer, merujuk pada pengalaman masa lalunya bersama tokoh-tokoh seperti Bryan Gray di Preston North End dan Sir Philip Carter di Everton. "Tidak semua keputusan populer, dan terkadang mereka harus melakukannya karena alasan yang berbeda," tambahnya.
Kemarahan suporter bukan tanpa alasan. Armstrong dianggap sebagai simbol harapan masa depan Everton, produk asli akademi yang jarang muncul di era sepak bola modern yang didominasi pembelian pemain mahal. Kepergiannya ke Forest, klub yang secara hierarki berada di bawah Everton, akan menjadi pukulan telak bagi harga diri suporter. Apalagi, TFG yang baru mengambil alih klub belum menunjukkan ambisi besar di bursa transfer, membuat sebagian pendukung mulai mempertanyakan arah kebijakan klub.
Moyes sendiri tidak menutupi rasa frustrasinya terhadap minimnya aktivitas transfer musim panas ini. Setelah kemenangan 4-0 atas Preston di Carabao Cup, ia secara gamblang meminta tambahan pemain. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: pemain kunci mulai dikaitkan dengan klub lain. "Ini pertama kalinya saya berpikir bahwa bermain saat jendela transfer masih terbuka adalah hal yang tidak masuk akal," kata Moyes kepada Sky Sports. "Terlalu banyak hal yang menggantung, terlalu banyak pembicaraan, terutama dari media."
Fenomena ini sejatinya tidak asing di sepak bola Inggris. Moyes sendiri mengakui bahwa kehilangan pemain bintang adalah bagian dari perjalanan klub, seperti yang ia alami dengan Wayne Rooney, Mikel Arteta, Joleon Lescott, atau Declan Rice di West Ham. Namun, perbedaan kali ini adalah lawan yang memburu: Nottingham Forest, klub yang dianggap setara atau bahkan di bawah Everton. Jika TFG menyerah pada tekanan finansial, hal itu akan mengirim sinyal buruk tentang skala ambisi mereka.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah ini menawarkan pelajaran tentang pentingnya keseimbangan antara kesehatan finansial klub dan kepercayaan suporter. Di tengah maraknya investasi asing di klub-klub Eropa, keputusan untuk menjual aset berharga sering kali menjadi ujian loyalitas. Everton, dengan sejarah panjang dan basis suporter fanatik, kini berada di persimpangan: mempertahankan Armstrong bisa berarti mengorbankan pendapatan, sementara menjualnya bisa merusak hubungan dengan pendukung yang sudah lama setia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi dari Everton. Namun, cara klub menangani pendekatan Forest terhadap Armstrong akan menjadi momen penentu bagi TFG dan Moyes. Apakah mereka akan tunduk pada tekanan finansial atau berani mempertahankan talenta muda demi masa depan? Pertanyaan ini menggantung di udara, dan jawabannya akan menentukan arah klub dalam beberapa musim ke depan.



