Banjir Bandang Nepal: Citra Satelit Ungkap Skala Kehancuran di Lembah Trishuli
Baca dalam 60 detik
- Analisis citra satelit memperlihatkan permukiman, jembatan, dan PLTA di sepanjang Sungai Trishuli luluh lantak akibat banjir bandang yang dipicu longsoran gletser.
- Danau penghalang yang terbentuk di dasar longsoran masih menyimpan ancaman susulan, meski para ahli menilai volumenya belum mengkhawatirkan.
- Dampak di sisi Tibet belum terverifikasi karena akses media asing yang ketat, sementara upaya pencarian korban terus berlanjut.

Banjir bandang dahsyat yang melanda lembah Sungai Trishuli, Nepal, pekan ini meninggalkan jejak kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Analisis citra satelit yang dirilis oleh perusahaan intelijen Vantor mengungkap bahwa permukiman, jembatan, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sepanjang aliran sungai tersapu bersih oleh derasnya air dan material puing. Bencana yang dipicu oleh longsoran gletser ini telah menewaskan ratusan jiwa, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.
Data satelit yang dianalisis BBC Verify menunjukkan bahwa titik perbatasan utama Nepal-Tibet, yang menjadi salah satu jalur perdagangan tersibuk, kini hampir sepenuhnya rata dengan tanah. Rekaman CCTV memperlihatkan bagaimana gelombang air setinggi puluhan meter menerjang bangunan-bangunan di kawasan tersebut, memaksa warga berlarian menyelamatkan diri. Endapan lumpur dan puing terlihat hingga 2,5 kilometer ke hulu, dengan ketinggian mencapai 100 meter di atas permukaan awal.
Desa Timure, yang terletak beberapa kilometer di selatan perbatasan, nyaris lenyap dari peta. Lereng-lereng curam yang sebelumnya dipadati rumah-rumah kini hanya menyisakan hamparan lumpur dan bebatuan. Lebih jauh ke hilir, Desa Syapru Besi yang berjarak sekitar 10 kilometer juga mengalami nasib serupa. Jembatan dan PLTA yang menjadi tulang punggung perekonomian lokal ikut hancur, memutus akses listrik dan transportasi bagi ribuan warga.
Kota Trishuli, sekitar 45 kilometer dari perbatasan, menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan terparah. Citra satelit menunjukkan satu kawasan permukiman lenyap seketika. Rekaman video yang beredar memperlihatkan jembatan ambruk diterjang derasnya air, sementara penumpang bus yang melintas berteriak ketakutan menyaksikan bencana di depan mata. Di tengah kepanikan, sebuah rumah yang nyaris hancur tetap berdiri kokoh, menjadi saksi betapa dahsyatnya kekuatan alam yang melanda.
Bencana ini bermula dari runtuhnya sebagian besar gletser di kawasan hulu, yang memicu longsoran besar dan membentuk danau penghalang di dasar lembah. Otoritas Tiongkok telah memperingatkan bahwa danau tersebut berpotensi menyebabkan banjir susulan dan menghambat upaya evakuasi. Namun, Dr. Argha Banerjee, glasiolog dari Indian Institute of Science Education and Research, menilai bahwa berdasarkan citra satelit, volume danau tidak mengalami peningkatan signifikan dan bahkan menunjukkan adanya saluran drainase alami. "Volumenya tidak terlalu besar dan tampaknya telah stabil," ujarnya, meski ia mengakui ketidakpastian mengenai stabilitas bendungan alam tersebut.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan pegunungan terhadap dampak perubahan iklim. Meski Nepal dan Indonesia memiliki karakteristik geografis yang berbeda, fenomena longsoran gletser dan banjir bandang juga berisiko terjadi di wilayah Indonesia, terutama di Papua yang memiliki gletser tropis. Selain itu, ketergantungan pada PLTA yang juga menjadi fokus pembangunan di Indonesia menuntut adanya sistem peringatan dini dan tata kelola risiko yang lebih baik.
Hingga saat ini, upaya pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan. Namun, akses ke wilayah terdampak yang sulit dan ancaman banjir susulan menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat. Citra satelit yang dipublikasikan melalui program Open Data Vantor diharapkan dapat membantu otoritas setempat dalam memprioritaskan area pencarian. Pertanyaan besarnya, apakah infrastruktur dan kesiapsiagaan di kawasan rawan bencana di Asia Selatan, termasuk Indonesia, mampu menghadapi skenario serupa di masa depan?



