Gelombang Drone Rusia Kembali Hantam Kyiv: 15 Jam Lockdown, Warga Diimbau Evakuasi
Baca dalam 60 detik
- Serangan drone Rusia selama dua hari berturut-turut melumpuhkan Kyiv, dengan 15 jam lockdown dan kerusakan meluas pada infrastruktur sipil.
- Rusia mengintensifkan kampanye 'mempersenjatai musim dingin' dengan menargetkan jaringan listrik Ukraina, memicu kekhawatiran krisis kemanusiaan di wilayah Kherson.
- Serangan balasan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia menunjukkan eskalasi konflik yang saling menghancurkan, dengan dampak global pada harga energi dan keamanan.

Untuk hari kedua berturut-turut, Rusia melancarkan serangan drone besar-besaran ke wilayah Kyiv, Ukraina, Jumat (29/8/2026). Lebih dari belasan gedung apartemen dan gudang penyimpanan hancur, memaksa ibu kota Ukraina itu mengalami lockdown selama 15 jam dan melumpuhkan aktivitas ekonomi warga sipil yang telah berlangsung lebih dari empat setengah tahun sejak invasi skala penuh dimulai.
Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebut serangan udara yang berkepanjangan pada Kamis (28/8/2026) itu telah 'mencekik' perekonomian dan mengganggu kehidupan warga secara parah. Kondisi ini diperparah dengan serangan yang menyasar jaringan listrik, bagian dari kampanye tahunan Rusia yang oleh pejabat Ukraina disebut sebagai upaya untuk 'mempersenjatai musim dingin'. Di wilayah Kherson selatan, serangan bom luncur sehari sebelumnya memaksa pembangkit listrik tenaga panas dan uap (PLTU) berhenti beroperasi, dan pejabat setempat kini memperingatkan akan terjadi pemadaman listrik berkepanjangan sepanjang musim dingin.
Kepala Administrasi Militer Regional Kyiv, Tymur Tkachenko, melaporkan bahwa serangan Rusia merusak 14 gudang, 16 rumah pribadi, tiga gedung apartemen, dan 16 kendaraan. Yang lebih mengkhawatirkan, layanan darurat Ukraina mencatat adanya taktik 'double tap'—serangan kedua yang menyasar tim penyelamat yang sedang bertugas di lokasi yang sama. Serangan ini menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menghancurkan gudang penyimpanan rudal jelajah Flamingo dan bahan bakar roket Ukraina, namun klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Menurut Andrii Kovalenko, kepala Pusat Penanggulangan Disinformasi Ukraina, Rusia sengaja meluncurkan drone bertenaga jet dalam gelombang kecil untuk melemahkan pertahanan udara dan melelahkan warga. 'Tujuannya adalah menguras pertahanan udara dan populasi,' tulisnya di media sosial. Dampaknya langsung terasa: kualitas udara di wilayah Kyiv memburuk, dan warga diimbau menutup jendela serta membatasi aktivitas di luar ruangan. Serangan juga menghancurkan pusat sortir pos Nova Poshta di wilayah Sumy dan sebuah depot di wilayah Kyiv.
Di wilayah Kherson yang sekitar 70 persennya dikuasai Rusia, pejabat setempat mengeluarkan imbauan evakuasi bagi puluhan ribu warga. Kepala Administrasi Militer Regional Kherson, Oleksandr Prokudin, memperingatkan bahwa wilayah tersebut mungkin akan tanpa listrik dan pemanas dalam waktu lama, bukan hanya berjam-jam atau berhari-hari. Sejak 1 Juli, Rusia telah menjatuhkan 170 bom luncur di wilayah tersebut—lebih banyak dari total enam bulan pertama tahun ini—serta meluncurkan lebih dari 1.700 drone serang dalam dua bulan terakhir, termasuk drone jet Shahed dan Gerbera. Pemerintah setempat berjanji memberikan bantuan evakuasi, transportasi, dan dukungan sosial bagi warga yang memilih pergi.
Serangan balasan Ukraina juga terus berlanjut. Jenderal Staf Ukraina mengonfirmasi serangan terhadap kilang minyak Slavneft-YANOS di wilayah Yaroslavl, Rusia, yang berjarak sekitar 1.000 kilometer dari perbatasan, menyebabkan kebakaran besar. Kilang tersebut memproduksi bensin, diesel, dan bahan bakar penerbangan. Serangan drone Ukraina di wilayah itu menewaskan satu orang dan melukai 27 lainnya. Di wilayah Moskow, sebuah drone menghantam supermarket dan merusak klinik rawat jalan di dekatnya. Sementara di Sevastopol, Krimea, sebuah gedung apartemen lima lantai rusak parah akibat serangan drone, melukai empat orang.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik ini memiliki implikasi nyata. Rusia dan Ukraina adalah pemasok utama gandum dan biji-bijian ke pasar global, dan gangguan pada infrastruktur pertanian serta logistik di kawasan Laut Hitam dapat memicu lonjakan harga pangan dunia, yang pada akhirnya berdampak pada inflasi pangan dalam negeri. Selain itu, serangan terhadap kilang minyak Rusia berpotensi mengganggu pasokan energi global, yang dapat mempengaruhi harga minyak mentah dan stabilitas ekonomi di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Ketika kedua negara terus saling melancarkan serangan udara yang menghancurkan, pertanyaan yang muncul adalah: sejauh mana eskalasi ini akan berlanjut? Dengan musim dingin yang semakin dekat, baik Ukraina maupun Rusia tampaknya bersiap untuk konfrontasi yang lebih sengit, sementara warga sipil di kedua sisi terus menanggung beban terberat. Dunia, termasuk Indonesia, harus bersiap menghadapi dampak ekonomi dan kemanusiaan yang lebih luas dari perang yang tak kunjung usai ini.



