Water Bombing Digencarkan di Arjuno, Luas Karhutla Capai 146,85 Hektare
Baca dalam 60 detik
- BPBD Jatim mengerahkan helikopter untuk menjatuhkan 8.000 liter air di dua titik api Gunung Arjuno yang sulit dijangkau jalur darat.
- Kebakaran yang sempat padam pada 21 Agustus kembali menyala akibat cuaca, memaksa operasi udara dilanjutkan hingga Selasa (25/8).
- Luas lahan terbakar mencapai 146,85 hektare, dengan upaya pemadaman darat melibatkan 30 personel dari berbagai instansi.

Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, memasuki babak baru dengan digencarkannya water bombing dari udara. Hingga Selasa (25/8), sebanyak delapan sortie penerbangan telah menjatuhkan total 8.000 liter air ke dua titik api yang berada di bawah puncak gunung, sebuah langkah yang ditempuh setelah api yang sempat padam kembali menyala akibat faktor cuaca.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengungkapkan bahwa helikopter PK-DAP berkapasitas 1.000 liter dikerahkan untuk menjangkau area yang tidak dapat diakses melalui jalur darat. "Pada tanggal 21 sebetulnya api sempat padam, tetapi karena cuaca api menyala lagi, sehingga mulai saat itu kami melaksanakan water bombing hingga hari ini," jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima di Pasuruan, Selasa.
Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Jatim mencatat luas area terdampak telah mencapai 146,85 hektare. Vegetasi yang terbakar didominasi cemara gunung, alang-alang, dan semak belukar. Selain operasi udara, sekitar 30 personel gabungan dikerahkan untuk pemadaman darat melalui Jalur Pendakian Sumber Brantas di Kota Batu serta Tretes, Kabupaten Pasuruan.
Keterlibatan berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, Manggala Agni, dan Dinas Kehutanan Jatim, disebut Gatot sebagai kunci percepatan penanganan. Mereka bersiaga di Posko Karhutla Kaliandra, Kecamatan Prigen, Pasuruan. "Karena cuaca di Arjuno mudah berubah, water bombing tidak selalu bisa dilaksanakan, tetapi kami berharap operasi hari ini dapat maksimal sehingga area terdampak segera padam," ujarnya.
Kebakaran di kawasan pegunungan seperti Arjuno bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan pendaki, kualitas udara warga sekitar, dan kelestarian ekosistem. Musim kemarau yang berkepanjangan kerap memicu karhutla di sejumlah wilayah Indonesia, dan penanganan lintas sektor menjadi ujian kesiapsiagaan daerah.
Ke depan, tantangan utama adalah memastikan titik api benar-benar padam, mengingat cuaca yang tidak menentu dapat memicu kobaran baru. Pertanyaannya, apakah strategi water bombing yang masif ini cukup efektif untuk mengendalikan karhutla di medan terjal, atau perlu pendekatan jangka panjang seperti pembuatan sekat bakar dan patroli terpadu? Pengalaman di Arjuno akan menjadi pelajaran berharga bagi penanganan bencana serupa di wilayah lain.



