IHSG Teknologi Menguat: Pasar Tokyo Rebound Menjelang Rilis Laba Nvidia
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei dan Topix ditutup menguat tipis pada Selasa didorong aksi beli saham teknologi setelah sempat melemah.
- Pelaku pasar bersikap wait-and-see menjelang pengumuman laba kuartalan Nvidia yang dapat mempengaruhi sentimen global.
- Penguatan yen dan kenaikan imbal hasil obligasi Jepang menjadi sinyal bagi investor untuk mencermati pergerakan pasar Asia.

Bursa saham Tokyo mengakhiri perdagangan Selasa dengan penguatan tipis, ditopang aksi beli saham-saham teknologi setelah sempat tertekan. Investor tampak menahan napas menjelang rilis laporan keuangan Nvidia Corp., raksasa chip asal Amerika Serikat, yang dijadwalkan pada Rabu waktu setempat. Pergerakan indeks ini menjadi perhatian pelaku pasar di kawasan Asia, termasuk Indonesia, mengingat keterkaitan rantai pasok semikonduktor global.
Indeks Nikkei 225 ditutup naik 328,34 poin atau 0,50 persen ke level 65.856,43, sementara indeks Topix yang lebih luas menguat 20,38 poin atau 0,50 persen ke 4.093,67. Di pasar utama Tokyo, sektor logam nonferrous, asuransi, dan sekuritas menjadi pendorong utama kenaikan. Namun, perhatian utama tetap tertuju pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor yang sempat mengalami tekanan jual di awal sesi.
Kekhawatiran akan hasil kinerja Nvidia yang mungkin di bawah ekspektasi membuat investor cenderung berhati-hati. Meski demikian, aksi beli kembali (buyback) saham teknologi segera menguasai pasar, sejalan dengan penguatan indeks Kospi Korea Selatan yang kerap bergerak seirama dengan indeks acuan Jepang. "Indeks Nikkei kerap terombang-ambing oleh pergerakan saham-saham chip," ujar Masahiro Ichikawa, kepala strategi pasar di Sumitomo Mitsui DS Asset Management, seperti dikutip Kyodo.
Di pasar valuta asing, dolar AS menguat ke kisaran 159 yen di Tokyo, didorong kenaikan imbal hasil obligasi Treasury AS. Pada pukul 17.00 waktu setempat, dolar diperdagangkan di level 159,44-45 yen, dibandingkan 159,12-22 yen di New York dan 159,15-17 yen di Tokyo pada penutupan Senin. Sementara itu, euro berada di kisaran 1,1658-1660 dolar dan 185,88-92 yen, dengan pergerakan yang relatif stabil.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun naik 0,010 poin persentase menjadi 2,890 persen, dipicu kekhawatiran inflasi akibat harga minyak mentah yang masih tinggi. Kenaikan imbal hasil ini menjadi sinyal bahwa pasar obligasi mulai mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat, meski Bank of Japan belum memberikan sinyal jelas.
Bagi pasar Indonesia, pergerakan bursa Tokyo dan rilis laba Nvidia memiliki implikasi tidak langsung. Saham-saham teknologi di dalam negeri, terutama yang terafiliasi dengan ekosistem semikonduktor global, kerap merespons sentimen dari pasar global. Selain itu, penguatan yen dapat mempengaruhi arus modal asing ke pasar obligasi dan saham Indonesia, meski efeknya tidak langsung. Pelaku pasar domestik perlu mencermati apakah hasil Nvidia akan memicu optimisme atau justru koreksi di sektor teknologi Asia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah penguatan indeks Tokyo dapat bertahan setelah rilis laba Nvidia. Jika hasilnya melampaui ekspektasi, bukan tidak mungkin saham teknologi di kawasan Asia, termasuk Indonesia, ikut terkerek. Namun, jika sebaliknya, tekanan jual bisa kembali terjadi. Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas jangka pendek dan mencermati pergerakan imbal hasil obligasi global sebagai indikator utama.



