Dua Rekrutan Yunani Jadi Sinyal Kebangkitan Dortmund Usai Ditinggal Bintang-Bintang
Baca dalam 60 detik
- Karetsas dan Konstantelias tampil menonjol di Supercup meski Dortmund kalah dari Bayern, menandakan lini serang baru yang menjanjikan.
- Kedua pemain muda itu diharapkan mengisi kekosongan kreativitas setelah kepergian Brandt, Adeyemi, Duranville, dan Campbell.
- Jika performa ini konsisten, Dortmund bisa menjadi ancaman serius di Bundesliga dan Eropa musim 2026/27.

Kekalahan tipis Borussia Dortmund dari Bayern Munich pada final Franz Beckenbauer Supercup akhir pekan lalu menyisakan satu catatan positif: dua rekrutan anyar asal Yunani, Kostantinos Karetsas dan Giannis Konstantelias, tampil memukau dan memberi harapan besar bagi masa depan lini serang Die Borussen. Meski skor akhir 1-2 tidak berpihak pada mereka, performa kedua pemain itu menjadi sorotan utama dan bahan perbincangan hangat di kalangan penggemar.
Kehilangan Julian Brandt, Karim Adeyemi, Julien Duranville, dan Cole Campbell di bursa transfer musim panas sempat membuat publik Dortmund bertanya-tanya dari mana gol dan kreativitas akan datang. Namun, jawaban itu sepertinya sudah ditemukan. Karetsas, yang masih berusia 18 tahun, langsung menunjukkan kualitasnya sejak menit awal. Kecepatan, kelincahan, dan visi bermainnya menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Bayern. Umpan silangnya yang menusuk dari sisi kanan pada menit ke-14 nyaris menjadi gol pembuka andai Samuele Inácio mampu menyelesaikannya dengan baik.
Pelatih Niko Kovač tidak ragu memberikan pujian. "Keempat pemain baru menunjukkan mengapa kami merekrut mereka," ujarnya, merujuk pada Karetsas, Konstantelias, Joane Gadou, dan Joey Veerman. Namun, duet Yunani itulah yang paling menonjol. Karetsas tercatat sebagai pemain Dortmund paling berbahaya dalam hal menciptakan peluang, dengan dua tembakan ke gawang dan satu umpan kunci. "Dengan Kosta, Anda bisa melihat betapa kreatifnya dia dan betapa hebatnya kaki kirinya," puji Kovač setelah pertandingan.
Penampilan Karetsas bukan sekadar kilatan sesaat. Sebelumnya, ia sudah mencetak gol solo yang indah melawan Arsenal dalam laga uji coba, hanya beberapa hari setelah bergabung. Direktur olahraga Dortmund, Lars Ricken, juga mengaku terkesan dengan adaptasi cepat pemain muda itu. "Saya sangat terkesan dengan kewaspadaan Kosta setelah hanya lima hari latihan. Cara dia terlibat dalam permainan, percaya diri membawa bola, dan tanpa pamrih," kata Ricken.
Sementara itu, Konstantelias, yang bergabung dari PAOK kurang dari seminggu sebelum Supercup, juga tampil impresif. Masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua, pemain berusia 23 tahun itu berperan penting dalam terciptanya gol hiburan Dortmund. Dribblingnya dari sisi kiri dan umpan terobosan cerdasnya kepada Daniel Svensson berujung pada gol Fábio Silva. Kovač pun tak segan memuji: "Dia tampil sangat baik. Cara dia menyiapkan gol itu kelas atas."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik untuk disimak. Bundesliga selalu menjadi liga yang banyak diikuti, dan kebangkitan klub sebesar Dortmund akan berdampak pada persaingan papan atas Eropa. Jika duet Yunani ini mampu menjaga konsistensi, bukan tidak mungkin mereka akan menjadi bintang baru yang bersinar, sejalan dengan tren pemain muda Asia Tenggara yang mulai merambah Eropa. Namun, perlu diingat bahwa performa impresif di laga pramusim dan Supercup belum menjamin kesuksesan jangka panjang. Tekanan kompetisi reguler Bundesliga akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Karetsas dan Konstantelias.
Pertanyaannya sekarang, akankah Kovač berani memberikan kepercayaan penuh kepada kedua pemain muda ini di laga-laga penting? Atau justru mereka akan menjadi pelengkap di balik skema yang lebih berpengalaman? Satu hal yang pasti, Dortmund telah menemukan permata baru yang siap diasah. Musim 2026/27 akan menjadi panggung pembuktian bagi duet Yunani ini, dan publik Signal Iduna Park tentu berharap mereka bisa mengembalikan kejayaan klub di kancah domestik maupun Eropa.



