Bandara Haneda Perluas Terminal 1: Enam Gerbang Baru dan Kendaraan Otonom Siap Layani 90 Juta Penumpang
Baca dalam 60 detik
- Fasilitas satelit baru di Terminal 1 Bandara Haneda akan beroperasi September 2025, menambah enam gerbang dan area lounge untuk mengatasi lonjakan penumpang yang mencapai rekor 90 juta tahun lalu.
- Ekspansi ini merupakan yang pertama sejak 1993, menggunakan material kayu ramah lingkungan dan kendaraan otonom gratis, sejalan dengan target pemerintah menarik 60 juta wisatawan asing pada 2030.
- Mulai September, maskapai domestik Jepang memperpanjang batas waktu check-in bagasi dari 20 menjadi 30 menit sebelum keberangkatan, merespons penurunan tingkat ketepatan waktu yang kini rata-rata 83 persen.

Tokyo โ Bandara Haneda, salah satu gerbang udara tersibuk di dunia, mengumumkan perluasan besar-besaran Terminal 1 dengan meluncurkan fasilitas satelit baru berisi enam gerbang keberangkatan, Selasa (26/8). Langkah ini diambil di tengah lonjakan permintaan perjalanan yang memecahkan rekor, dengan jumlah pengguna mencapai 90 juta orang tahun lalu. Fasilitas ini dijadwalkan beroperasi penuh pada September mendatang, menandai babak baru dalam upaya mengurangi kepadatan yang selama ini mengganggu kenyamanan penumpang.
Perluasan yang diberi nama North Satellite Facility ini merupakan proyek besar pertama sejak Terminal 1 dibuka pada 1993. Operator bandara, Japan Airport Terminal Co., merancang bangunan dengan struktur hybrid yang menggabungkan baja dan sekitar 1.800 meter kubik kayu, sebuah langkah konkret untuk menekan jejak karbon. Selain itu, fasilitas ini dilengkapi lounge, area bermain anak, serta kendaraan otonom bernama "iino" yang mampu mengangkut hingga empat orang dan dapat digunakan penumpang secara gratis. Inovasi ini diharapkan mempercepat mobilitas penumpang di tengah terminal yang semakin luas.
Lonjakan jumlah penumpang memang menjadi tantangan serius. Tahun lalu, pergerakan pesawat di Haneda mencapai sekitar 490.000 kali, menyentuh batas kapasitas penerbangan. Pemerintah Jepang sendiri menargetkan 60 juta wisatawan asing pada 2030, yang berarti tekanan pada bandara akan terus meningkat. Namun, perluasan terminal yang dilakukan sebelumnya justru memperpanjang jarak tempuh bagasi, yang berkontribusi pada keterlambatan penerbangan. Data Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata menunjukkan tingkat keberangkatan tepat waktuโdalam 15 menit dari jadwalโterus menurun, dengan rata-rata hanya 83 persen pada tahun fiskal 2025.
Untuk mengatasi masalah ketepatan waktu, maskapai domestik Jepang, termasuk Japan Airlines, mengumumkan perubahan aturan check-in bagasi mulai September. Penumpang penerbangan domestik kini diwajibkan menyerahkan bagasi minimal 30 menit sebelum keberangkatan, sebelumnya hanya 20 menit. Kumiko Saito, pejabat eksekutif Japan Airlines, dalam acara pra-peluncuran Selasa lalu menjelaskan, "Karena jarak dari pos pemeriksaan keamanan akan bertambah, penumpang Haneda perlu datang lebih awal untuk menyelesaikan prosedur check-in. Kami mohon pengertian dan kerja sama agar penerbangan dapat berangkat tepat waktu." Kebijakan ini diambil sebagai kompromi antara kenyamanan dan efisiensi operasional.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat banyaknya wisatawan dan pebisnis yang menggunakan Haneda sebagai pintu masuk ke Jepang. Dengan perluasan ini, konektivitas penerbangan dari Jakarta atau Denpasar ke Tokyo diperkirakan semakin lancar, meski penumpang harus lebih disiplin dalam mengatur waktu. Pengalaman Jepang dalam mengelola bandara padat dengan inovasi teknologi dan kebijakan adaptif bisa menjadi pelajaran bagi pengelola bandara di Indonesia, seperti Soekarno-Hatta yang juga berjuang melawan kepadatan dan keterlambatan.
Ke depan, keberhasilan Haneda dalam menyeimbangkan kapasitas dan kenyamanan akan menjadi ujian. Apakah teknologi otonom dan perubahan prosedur cukup untuk mengimbangi pertumbuhan penumpang yang terus meningkat? Atau akankah bandara ini perlu mencari solusi lebih radikal, seperti membangun landasan pacu baru? Jawabannya akan menentukan apakah Haneda mampu mempertahankan reputasinya sebagai salah satu bandara terbaik di dunia, sekaligus menjadi model bagi kawasan Asia Tenggara.



