Dua Eks Bintang NBA Gagal Ikut Draft WNBA: Kontroversi Transgender Memanas
Baca dalam 60 detik
- Liga basket putri AS menolak dua mantan pemain NBA yang mendaftar sebagai transgender untuk draft 2027, memicu perdebatan kebijakan.
- Insiden ini terjadi di tengah tekanan politik terhadap hak transgender dalam olahraga, dengan liga belum memiliki aturan resmi.
- Pernyataan pemain dan serikat pekerja menyoroti ketegangan antara inklusivitas dan kekhawatiran atas keadilan kompetisi.

Dua mantan pemain NBA, Enes Kanter Freedom dan Royce White, dipastikan tidak memenuhi syarat untuk mengikuti draft WNBA 2027. Keputusan ini diambil di tengah kontroversi panjang mengenai partisipasi atlet transgender dalam kompetisi olahraga wanita di Amerika Serikat.
Kanter Freedom, yang berkarier di NBA selama lebih dari satu dekade sejak 2011, dan White, yang hanya semusim bermain di liga tersebut, sebelumnya mengumumkan niat mereka untuk bermain di WNBA dengan mengklaim diri sebagai perempuan transgender. Namun, sumber internal liga menyatakan bahwa keduanya tidak memenuhi kriteria kelayakan, meskipun WNBA belum memiliki kebijakan tertulis yang jelas mengenai atlet transgender.
Langkah kedua pemain ini dinilai oleh sejumlah pengamat sebagai upaya untuk menarik perhatian publik dan memicu perpecahan di tengah hiruk-pikuk politik di AS. Presiden Donald Trump secara konsisten mendorong larangan atlet transgender dalam olahraga wanita, sebuah isu yang menjadi medan pertempuran politik yang sengit.
Kontroversi ini mencuat setelah pernyataan guard Indiana Fever, Sophie Cunningham, dalam wawancara dengan ESPN bulan lalu. Cunningham, yang merupakan pilihan kedua draft, menyatakan kekhawatirannya terhadap keamanan atlet perempuan muda jika harus berkompetisi melawan laki-laki biologis. Pernyataannya memicu reaksi beragam: sebagian penggemar yang cenderung liberal mengkritiknya, sementara kelompok lain justru mendukungnya dengan menggelar aksi demonstrasi di luar pertandingan Fever.
Serikat pemain WNBPA merespons dengan pernyataan tegas, menolak dijadikan "alat politik". Mereka menegaskan bahwa kebencian dan penyalahgunaan terhadap kelompok transgender hanya akan memperburuk perpecahan. "Kebencian, pelecehan, dan demonisasi terhadap siapa pun, termasuk transgender, hanya memicu ketakutan, perpecahan, dan kerugian," demikian bunyi pernyataan resmi mereka.
Sementara itu, Kanter Freedom juga terlibat insiden terpisah saat pertandingan antara Chicago Sky dan Fever pada Minggu lalu. Ia dikeluarkan dari kursinya setelah terlibat adu mulut dengan Natasha Cloud, pemain Chicago Sky yang merupakan pemimpin assist musim 2022. Kanter Freedom mengaku sedang mendukung Cunningham ketika Cloud mulai mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar kepadanya.
Bagi Indonesia, isu ini relevan mengingat semakin maraknya perbincangan tentang keberagaman gender di dunia olahraga. Meskipun belum ada kasus serupa di liga domestik, regulasi dan kebijakan yang diambil oleh liga-liga besar seperti WNBA dapat menjadi rujukan bagi pengembangan olahraga inklusif di tanah air. Namun, perlu diingat bahwa konteks sosial dan budaya Indonesia sangat berbeda, sehingga adopsi kebijakan harus dilakukan dengan hati-hati.
Ke depan, WNBA dihadapkan pada tantangan untuk merumuskan kebijakan yang adil dan inklusif tanpa mengorbankan prinsip keadilan kompetitif. Pertanyaannya, mampukah liga ini menyeimbangkan tuntutan politik yang saling bertentangan dan tetap menjaga integritas olahraga? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan tidak hanya di AS, tetapi juga menjadi contoh bagi liga-liga lain di dunia.



