Mengapa Joe Root Disebut Akan Melewati Rekor Tendulkar? Ini Jawaban Data CricViz
Baca dalam 60 detik
- Analisis CricViz memproyeksikan Joe Root butuh sekitar 20 Test lagi untuk melampaui rekor 15.921 run Sachin Tendulkar, dengan rata-rata 47,6 per inning sejak 2024.
- Data menunjukkan bowler dengan dua wicket beruntun hanya 3,2% berhasil menjadi hat-trick, dan Mitchell Starc tercatat gagal dalam 17 kesempatan.
- Kajian statistik mengungkap bahwa batsman kidal memiliki rata-rata lebih tinggi di semua format, serta bola ke-2 dalam satu over menjadi momen paling mematikan bagi bowler.

Joe Root kembali mencatatkan namanya dalam buku rekor Test cricket setelah membangun kemitraan 150 run bersama Jordan Cox di Headingley. Momen itu bukan sekadar angka; ia sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai pemain dengan kemitraan 50+ run bersama 45 partner berbeda, menyamai rekor Shivnarine Chanderpaul. Namun pertanyaan yang lebih menggoda publik adalah: kapan Root akan menyalip rekor sepanjang masa Sachin Tendulkar?
Berdasarkan analisis CricViz yang dirilis BBC Sport, Root saat ini mengoleksi 14.180 run, terpaut 1.741 run dari rekor Tendulkar yang mencapai 15.921. Jika mempertahankan konsistensi seperti sejak awal 2024—rata-rata 47,6 run per inning—ia diperkirakan membutuhkan 37 inning lagi atau sekitar 20 Test. Jadwal padat Inggris hingga musim panas 2027, termasuk lima Test Ashes, memberi peluang besar bagi Root untuk memecahkan rekor tersebut di hadapan publik sendiri.
Fenomena lain yang menarik perhatian adalah rendahnya tingkat konversi hat-trick. Dari 1.355 kejadian bowler mengambil dua wicket beruntun dalam Test, hanya 43 yang berujung hat-trick (3,2%). Josh Tongue, yang nyaris mencatat hat-trick melawan Pakistan, ternyata telah empat kali gagal dalam situasi serupa. Bahkan Mitchell Starc, dengan 17 peluang, tak pernah sekalipun meraih hat-trick—sebuah ironi bagi bowler sekelasnya.
Pertanyaan tentang efektivitas DRS juga mengemuka. Liton Das dari Bangladesh menjadi batsman paling sukses dengan 68,8% review berhasil membatalkan keputusan wasit. Sementara di kubu bowler, Kemar Roach unggul dengan 35%, mengungguli Chris Woakes dan Stuart Broad. Data ini menunjukkan bahwa DRS bukan sekadar alat, melainkan senjata strategis yang bisa mengubah jalannya pertandingan.
Menariknya, data CricViz juga membongkar mitos tentang tangan kidal. Dalam semua format internasional, batsman kidal rata-rata lebih unggul dibandingkan tangan kanan—setidaknya untuk tujuh besar urutan batting. Ini menjawab keraguan banyak penggemar yang menganggap keunggulan kidal hanya mitos belaka. Sementara itu, kecepatan 84-85 mph menjadi zona paling mematikan bagi fast bowler, dengan 1.594 wicket tercatat.
Bagi penggemar cricket di Indonesia, perkembangan ini menegaskan bahwa cricket modern semakin bergantung pada analisis data. Meski popularitas olahraga ini di Tanah Air belum sebesar sepak bola, pertumbuhan komunitas cricket di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali menunjukkan potensi pasar yang menjanjikan. Dengan semakin mudahnya akses siaran langsung dan platform digital, bukan tidak mungkin minat terhadap cricket akan meningkat, terutama jika ada pemain Indonesia yang mampu menembus kompetisi internasional.
“Data tidak pernah berbohong. Statistik seperti ini membantu kita memahami pola yang tidak terlihat oleh mata telanjang,” ujar seorang analis olahraga yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah Root bisa mempertahankan performa hingga usia 36 tahun, atau apakah rekor Tendulkar akan tetap abadi seperti yang selama ini diyakini banyak orang. Dengan jadwal padat yang menanti Inggris, semua mata akan tertuju pada konsistensi Root—dan mungkin juga pada kemampuan generasi baru untuk menantang dominasi para legenda.



