Wisatawan Taiwan Ditangkap di Jepang Usai Siram Batu Suci Kuil Nara: Tindakan Kultural atau Vandalisme?
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan Taiwan berusia 39 tahun ditangkap otoritas Jepang karena diduga menyiramkan cairan ke batu peninggalan Buddha di Kuil Yakushiji, Nara.
- Cairan yang digunakan mengandung gliserin, zat yang umum ditemukan dalam produk kosmetik dan makanan, memicu pertanyaan soal motif di balik aksi tersebut.
- Insiden ini menyoroti kerentanan situs warisan dunia terhadap tindakan pengunjung dan memicu diskusi tentang etika berwisata di tempat sakral.

Seorang perempuan asal Taiwan yang bekerja di industri hiburan ditangkap polisi Jepang pada Sabtu lalu setelah diduga merusak batu bertuah di Kuil Yakushiji, Nara, pada April silam. Tsai Yi-chen, 39, menjadi sorotan setelah aksinya terekam kamera pengawas dan ia kembali ditangkap saat tiba di Bandara Internasional Kansai, Osaka.
Peristiwa ini bermula saat Tsai mengunjungi kuil yang masuk daftar Warisan Budaya Dunia UNESCO itu sebagai turis. Batu yang menjadi sasaran adalah monumen nasional berukir garis-garis yang melambangkan jejak kaki Shakyamuni Buddha. Polisi setempat menemukan cairan yang mengandung gliserin—bahan yang lazim dipakai dalam produk kosmetik dan pemanis—di lokasi kejadian.
Dalam keterangannya, Tsai mengaku menuangkan minyak pada benda yang dianggapnya menyentuh hati saat berdoa. "Saya pikir saya menuangkan minyak ke batu jejak Buddha," ujarnya seperti dikutip polisi. Namun, pernyataan ini justru memicu perdebatan: apakah tindakan itu bagian dari ritual pribadi atau bentuk vandalisme yang tidak bisa ditoleransi?
Manajer Tsai, melalui pernyataan di Facebook, menyampaikan permintaan maaf atas "kekhawatiran dan ketidaknyamanan publik" yang ditimbulkan. Ia juga menegaskan bahwa proses hukum sedang berjalan dan pihaknya belum bisa berkomunikasi langsung dengan Tsai. "Setelah situasi semakin jelas, dan selama tidak mengganggu proses hukum, kami akan memberikan informasi lebih lanjut," tulis manajer tersebut.
Insiden ini mengingatkan pada kasus-kasus serupa di Indonesia, di mana wisatawan asing kerap berulah di situs bersejarah. Candi Borobudur dan Prambanan, misalnya, pernah menjadi lokasi aksi vandalisme yang memicu kecaman publik. Menurut pengamat pariwisata, tindakan seperti ini tidak hanya merugikan secara material, tetapi juga mengikis nilai sakral dan identitas budaya suatu tempat.
Di sisi lain, kasus ini juga membuka ruang diskusi tentang pemahaman lintas budaya. Apa yang dianggap wajar oleh seseorang dari latar belakang budaya tertentu bisa jadi dianggap ofensif oleh masyarakat tuan rumah. Para ahli menilai, edukasi wisatawan tentang etika berkunjung ke tempat ibadah menjadi krusial, terutama di era pariwisata massal.
Polisi Jepang masih mendalami motif Tsai, termasuk apakah ia memiliki riwayat tindakan serupa. Sementara itu, kuil Yakushiji belum memberikan komentar resmi, tetapi pihaknya diperkirakan akan memperketat pengawasan terhadap pengunjung. Pertanyaannya, apakah langkah ini cukup untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan?



