Kebun Binatang Primata Jepang Tutup untuk Renovasi Besar-besaran: Tradisi Api Unggun Monyet Terhenti Sementara
Baca dalam 60 detik
- Japan Monkey Centre, rumah bagi 700 primata dari 50 spesies, akan tutup mulai 19 Oktober untuk renovasi besar-besaran yang memakan waktu beberapa tahun.
- Renovasi ini dipicu oleh infrastruktur yang menua, kurangnya ruang bagi hewan, dan risiko gempa, serta akan mencakup perbaikan sistem pendingin dan jalur pejalan kaki.
- Penutupan ini menghentikan sementara tradisi api unggun musim dingin yang ikonik sejak 1959, namun manajemen berencana tetap terhubung dengan publik melalui media sosial dan acara khusus anggota.

Japan Monkey Centre, kebun binatang primata di Inuyama, Prefektur Aichi, Jepang, akan menutup gerbangnya mulai 19 Oktober untuk menjalani renovasi besar-besaran. Fasilitas yang terkenal dengan tradisi monyet berjemur di sekitar api unggun ini diperkirakan baru akan beroperasi kembali dalam beberapa tahun ke depan. Selama masa penutupan, pengelola berencana tetap berinteraksi dengan publik melalui media sosial dan menggelar acara khusus bagi anggota terdaftar.
Kebun binatang yang menaungi sekitar 700 monyet dari 50 spesies ini akan mengurangi jam operasionalnya mulai September, hanya buka pada akhir pekan dan hari libur. Langkah ini diambil sebagai persiapan sebelum penutupan total. Renovasi yang dilakukan menyusul kekhawatiran akan kondisi infrastruktur yang kian menua, seperti pagar dan cat yang rusak, serta bangunan yang dinilai kurang memadai untuk hewan dan berisiko rusak akibat gempa bumi atau bencana alam lainnya.
Tradisi api unggun yang menjadi daya tarik utama kebun binatang ini bermula pada 1959, tiga tahun setelah fasilitas dibuka dengan dukungan dana dari Nagoya Railroad Co. Saat itu, staf membakar pohon-pohon yang tumbang akibat topan besar, dan monyet-monyet penghuni terlihat berkumpul di sekitar api untuk menghangatkan diri. Sejak saat itu, pemandangan tersebut menjadi ikon musim dingin yang dinanti-nanti pengunjung.
Selain terkenal dengan tradisi unggunnya, Japan Monkey Centre juga merupakan fasilitas pertama di Jepang yang memelihara gorila gunung. Bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Institut Asal Usul Evolusi Perilaku Manusia Universitas Kyoto, tempat ini diakui sebagai salah satu pusat perawatan dan penelitian primata terkemuka di dunia. Sejak 2014, pengelolaannya dipegang oleh yayasan nirlaba yang berafiliasi dengan Universitas Kyoto, dengan biaya operasional ditutupi dari tiket masuk dan donasi yang dihimpun melalui program bernama "Goshien" โ plesetan bahasa Jepang yang menggabungkan kata "dukungan" dan "monyet".
Renovasi ini tidak hanya akan memperbaiki infrastruktur yang rusak, tetapi juga mencakup peningkatan sistem pendingin udara dan jalur pejalan kaki di dalam kebun binatang. "Kami akan melakukan perombakan total untuk menjadikan tempat ini nyaman bagi monyet dan pengunjung," ujar seorang pejabat kebun binatang. Sementara itu, taman hiburan Japan Monkey Park yang berada di sebelahnya dan dioperasikan oleh anak perusahaan Nagoya Railroad akan tetap beroperasi seperti biasa.
Penutupan Japan Monkey Centre menggarisbawahi tantangan yang dihadapi banyak kebun binatang di Jepang dan dunia: menyeimbangkan kebutuhan konservasi dan penelitian dengan tuntutan fasilitas yang modern dan aman. Di Indonesia, kebun binatang seperti Kebun Binatang Ragunan dan Taman Safari juga kerap menghadapi isu serupa, terutama dalam hal pembaruan infrastruktur dan kesejahteraan hewan. Langkah Jepang ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya investasi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan lembaga konservasi.
Ke depannya, publik akan menantikan apakah renovasi ini akan mengubah pengalaman berkunjung atau justru mempertahankan pesona tradisional yang telah melekat selama puluhan tahun. Akankah api unggun tetap menjadi ritual musim dingin yang dinanti, atau akan ada inovasi baru yang lebih modern? Pertanyaan ini hanya akan terjawab setelah kebun binatang kembali membuka pintunya.



