Krisis Air Sri Lanka: 74 Waduk Menyusut Drastis, Pertanian Terancam
Baca dalam 60 detik
- Kapasitas air di 74 waduk utama Sri Lanka merosot ke 36 persen akibat kemarau dan El Nino, memicu kekhawatiran krisis air berkepanjangan.
- Distribusi air untuk irigasi dipangkas di sejumlah wilayah, sementara kebutuhan domestik tetap diprioritaskan, menyoroti dilema alokasi sumber daya.
- Dampak sosial mulai terasa dengan puluhan ribu warga terdampak kekeringan, dan risiko kebakaran hutan meningkat, menuntut kesiapsiagaan jangka panjang.

Kolombo โ Cadangan air di 74 waduk utama Sri Lanka turun ke level 36 persen dari kapasitas penuh, menyusul kombinasi cuaca kering dan fenomena El Nino yang memperparah tekanan terhadap sumber daya air. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan krisis air yang lebih luas, tidak hanya bagi sektor pertanian tetapi juga kebutuhan dasar rumah tangga.
Menurut L. S. Sooriyabandara, Direktur Divisi Hidrologi dan Manajemen Bencana di Departemen Irigasi, sejumlah waduk di distrik Hambantota, Batticaloa, Monaragala, Mannar, dan Trincomalee bahkan telah jatuh di bawah 30 persen kapasitas. Meski waduk-waduk di zona basah masih relatif stabil, penurunan drastis di wilayah kering menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan.
Fenomena El Nino yang berkepanjangan telah mempercepat penguapan akibat suhu tinggi, sementara permintaan air terus meningkat seiring aktivitas ekonomi dan kebutuhan domestik. Pemerintah setempat belum memberlakukan pembatasan untuk pasokan air minum, namun telah mengurangi aliran air untuk irigasi di beberapa area. Langkah ini diambil untuk menjaga ketersediaan air bagi kebutuhan esensial, meski berpotensi mengganggu produktivitas pertanian yang menjadi tulang punggung banyak keluarga.
Dampak sosial kekeringan ini mulai terlihat nyata. Pusat Manajemen Bencana mencatat bahwa kondisi kering telah memengaruhi 81.865 orang dari 25.628 keluarga yang tersebar di tujuh distrik. Sebagai respons, pusat tersebut telah mendistribusikan air minum kepada 72.153 orang dari 23.048 keluarga di 20 Divisi Sekretariat. Angka ini menunjukkan skala krisis yang tidak bisa dianggap remeh.
Lebih jauh, Sooriyabandara mengingatkan bahwa panas berkepanjangan dan cuaca kering meningkatkan risiko kebakaran hutan. Ia mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan waspada terhadap potensi bencana turunan. Pernyataan ini menegaskan bahwa krisis air bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga keamanan lingkungan secara keseluruhan.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pelajaran berharga. Sebagai negara kepulauan dengan ketergantungan tinggi pada sektor pertanian, Indonesia juga rentan terhadap dampak El Nino. Pengalaman Sri Lanka menunjukkan pentingnya investasi dalam infrastruktur air, sistem peringatan dini, dan strategi adaptasi perubahan iklim. Pemerintah Indonesia dapat meninjau kembali kebijakan pengelolaan air nasional, terutama di daerah-daerah yang rawan kekeringan seperti Nusa Tenggara Timur dan Jawa Timur.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana Sri Lanka akan menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dengan keberlanjutan sumber daya air jangka panjang. Apakah pemerintah akan memperketat pembatasan irigasi lebih lanjut, atau justru mencari solusi teknologi seperti desalinasi dan pemanenan air hujan? Keputusan ini akan menentukan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat Sri Lanka dalam beberapa bulan mendatang.



