Remaja Superman Bantu Padamkan Kebakaran Hutan di Kalimantan, Aksi Heroik Viral
Baca dalam 60 detik
- Seorang remaja Indonesia rela memakai kostum Superman untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Palangkaraya, aksinya viral dan menuai pujian.
- Kebakaran tahun ini lebih parah dari musim El Nino sebelumnya, membakar lebih dari 200 ribu hektare lahan dan memicu kabut asap hingga ke Malaysia.
- Polisi telah menangkap 72 tersangka pembakar lahan, menyoroti praktik pembukaan lahan yang menjadi akar masalah kebakaran.

Di tengah ganasnya kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan, seorang remaja berusia 17 tahun justru tampil beda. Rudiyansah, remaja asal Palangkaraya, memilih memakai kostum Superman saat membantu ayahnya memadamkan api. Aksi heroiknya ini tak hanya menyita perhatian warga sekitar, tetapi juga menjadi viral di media sosial dan menginspirasi banyak orang.
Rudiyansah bukanlah petugas pemadam kebakaran profesional. Ia hanyalah seorang pelajar yang memanfaatkan waktu luang sepulang sekolah untuk bergabung dengan kelompok relawan pemadam kebakaran yang didirikan ayahnya, Mulyadi, sejak 2020. Namun, tahun ini ia memutuskan untuk mengenakan kostum biru-merah khas Superman saat bertugas. Keputusannya ini sempat dianggap iseng, namun nyatanya berhasil menarik perhatian publik terhadap perjuangan memadamkan api di lahan gambut yang membara.
Video Rudiyansah yang tengah menyemprotkan air ke dedaunan dengan selang telah ditonton jutaan kali. Menteri Kehutanan Indonesia bahkan memberinya julukan "pahlawan hutan". "Sejujurnya saya sangat senang bisa membantu warga, meskipun ini sangat melelahkan," ujarnya saat ditemui di sela-sela aksinya. Rudiyansah mengaku selalu membasahi kostumnya sebelum bertugas agar tidak terbakar, dan mencucinya setiap malam untuk menjaga kebersihannya.
Di balik aksi heroik Rudiyansah, terdapat fakta yang memprihatinkan. Kebakaran hutan tahun ini merupakan yang terparah sejak kelompok relawan ayahnya berdiri. Menurut Mulyadi, kabut asap yang dihasilkan sangat pekat dan luas. Data pemerintah menunjukkan, sejak Januari hingga Juli, kebakaran telah menghanguskan lebih dari 200.000 hektare lahan, atau tiga kali luas Jakarta. Angka ini bahkan melampaui kebakaran pada musim El Nino 2019 dan 2023.
El Nino memang dikenal memicu kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran di Indonesia. Namun, para ahli menilai perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia turut memperparah dampaknya. Suhu yang lebih hangat dan atmosfer yang lebih lembap menyediakan energi ekstra bagi cuaca ekstrem, termasuk kekeringan berkepanjangan.
Kebakaran ini tidak hanya berdampak pada Indonesia. Kabut asap telah menyebar hingga ke Malaysia dan Brunei, memaksa pemerintah Indonesia mengerahkan lebih banyak pasukan dan pesawat untuk memadamkan api. Di sisi lain, polisi telah menangkap 72 orang yang diduga sengaja membakar lahan. Mereka dihubungkan dengan 89 kasus kebakaran di lima provinsi di Kalimantan dan empat provinsi di Sumatera.
Mulyadi mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam memadamkan api adalah kekurangan air. Sumur dan sumber air lainnya mengering akibat kekeringan. "Di rumah, dia anak biasa. Tapi ketika melihat saya pergi, dia bertanya, 'Ayah mau padamkan api? Saya ikut'," kenang Mulyadi tentang anaknya.
Rudiyansah, yang bercita-cita menjadi penjaga hutan, mengajak para relawan dan petugas pemadam kebakaran di seluruh Indonesia untuk tetap semangat. "Untuk para relawan dan petugas pemadam kebakaran di seluruh Indonesia, tetap semangat dalam melawan api," pesannya.
Kebakaran hutan di Indonesia adalah masalah yang kompleks dan berulang setiap tahun. Meskipun aksi heroik Rudiyansah memberikan secercah harapan, namun akar masalahnya masih terus berlanjut. Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, baik oleh perusahaan perkebunan maupun petani tradisional, masih menjadi pemicu utama. Pertanyaannya, apakah penegakan hukum dan kesadaran lingkungan akan mampu mengubah kebiasaan ini sebelum musim kemarau berikutnya tiba?



