Penipuan Berkedok Diskon Alpukat dan Persik di Jepang: Polisi Curiga Keterlibatan Sindikat Kriminal
Baca dalam 60 detik
- Modus penipuan baru di Jepang memanfaatkan tawaran alpukat dan persik murah di media sosial untuk menjebak korban.
- Korban diarahkan ke situs palsu kurir, lalu diminta transfer berulang dengan dalih verifikasi, mengakibatkan kerugian hingga jutaan yen.
- Polisi Osaka mengingatkan bahwa data pribadi yang bocor bisa disalahgunakan untuk kejahatan lanjutan, mengindikasikan jaringan kriminal terorganisir.

Osaka – Para penipu di Jepang kini memanfaatkan media sosial untuk menjual alpukat dan persik dengan harga miring, sebuah umpan yang telah memakan korban hingga kerugian jutaan yen. Polisi setempat menduga praktik ini melibatkan kelompok kriminal terorganisir yang memanfaatkan celah kepercayaan publik terhadap transaksi daring.
Modusnya dimulai dari unggahan bernada emosional, seperti “Kami kesulitan menjual alpukat yang ditanam orang tua saya.” Foto buah mengilap dan video buah matang yang menggugah selera menjadi daya tarik. Namun, ketika konsumen tergiur dan memesan, mereka diarahkan ke situs web palsu yang meniru laman kurir resmi. Di sana, muncul peringatan palsu tentang “otentikasi nama gagal” dan “dana dibekukan”, disusul ancaman bahwa Badan Urusan Konsumen akan menuntut kompensasi sepuluh kali lipat.
Seorang reporter yang mencoba menyelidiki akun penjual alpukat dari Prefektur Ehime menemukan praktik yang lebih licik. Setelah menghubungi “layanan pelanggan”, percakapan dialihkan ke aplikasi pesan Line dengan akun mengaku sebagai kurir Sagawa Express. Pelaku meminta nama bank dan bukti saldo, lalu mengaku rekeningnya sendiri dibekukan dan mendesak korban untuk mentransfer dana. Reporter tersebut akhirnya menghentikan komunikasi, tetapi polisi mencatat banyak korban yang tidak seberuntung itu.
Menurut Kepolisian Prefektur Osaka, sejak akhir Juni mereka menerima banyak laporan terkait unggahan semacam ini. Kerugian yang dilaporkan mencapai jutaan yen. Salah satu korban pembelian persik kehilangan sekitar 2,65 juta yen (sekitar Rp 280 juta) setelah diminta transfer berulang dengan dalih verifikasi. Polisi menyebut korban berasal dari rentang usia 20 hingga 70 tahun, menunjukkan jangkauan modus ini yang luas.
Modus ini tidak hanya merugikan secara finansial. Polisi mengingatkan bahwa data pribadi yang diberikan korban, seperti nama, alamat, dan informasi bank, dapat disalahgunakan untuk kejahatan lanjutan. “Mereka yang berada di balik unggahan ini mungkin terhubung dengan kelompok kriminal,” ujar juru bicara kepolisian. Kekhawatiran ini muncul karena pola operasi yang terstruktur, mulai dari pembuatan akun palsu hingga situs web tiruan yang sulit dibedakan dari aslinya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Maraknya transaksi daring di tanah air, terutama melalui media sosial, membuka celah serupa. Masyarakat perlu waspada terhadap tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, serta selalu memverifikasi keaslian situs web dan akun resmi sebelum melakukan pembayaran. Otoritas Indonesia juga dapat mengambil pelajaran dari langkah Jepang dalam menangani kasus ini, termasuk kerja sama dengan perusahaan kurir dan platform media sosial.
Ke depan, pertanyaannya adalah bagaimana platform media sosial dan perusahaan kurir dapat memperketat pengawasan terhadap akun-akun mencurigakan. Apakah perlu ada sistem verifikasi yang lebih ketat untuk penjual daring? Atau justru edukasi publik yang lebih masif? Yang jelas, selama masih ada celah, penipuan semacam ini akan terus beradaptasi.



