Eto'o Bela Infantino di Tengah Badai Oposisi: Isu Pemilihan atau Kebijakan?
Baca dalam 60 detik
- Legenda sepak bola Kamerun, Samuel Eto'o, menilai kritik terhadap Gianni Infantino lebih banyak dipicu oleh faktor politik menjelang pemilihan presiden FIFA 2027.
- Dukungan dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menjadi penyeimbang di tengah ancaman mosi tidak percaya dari UEFA, AFC, dan CONCACAF.
- Polemik ini berpotensi mempengaruhi arah kebijakan FIFA, termasuk distribusi pendanaan dan kesempatan bagi negara berkembang seperti Indonesia.

Samuel Eto'o, ikon sepak bola Kamerun yang kini menjabat sebagai presiden federasi sepak bola negerinya, angkat bicara membela Gianni Infantino di tengah gelombang kritik yang menerpa presiden FIFA tersebut. Menurut Eto'o, berbagai penolakan yang muncul belakangan ini lebih merupakan efek dari dinamika politik menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret 2027, bukan semata-mata karena kebijakan yang diambil.
Kritik terhadap Infantino menguat setelah ia mengajukan rencana untuk menjual 20 persen saham badan komersial yang mengelola hak siar turnamen FIFA. Meski rencana itu sudah ditarik kembali, sejumlah negara anggota dilaporkan menarik dukungan mereka terhadap pencalonannya. Eto'o, dalam wawancara dengan CNN yang ditayangkan Senin lalu, menegaskan bahwa semua kegaduhan ini terjadi karena momentum pemilihan. "Ada pemilihan yang akan datang dan Gianni Infantino mencalonkan diri. Semua ini terjadi karena ada pemilihan. Itu saja," ujarnya.
Di tengah manuver politik tersebut, sejumlah konfederasi regional seperti UEFA, AFC, dan CONCACAF dikabarkan sedang mempertimbangkan mosi tidak percaya untuk menjatuhkan Infantino. Namun, Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) justru berdiri di belakangnya. Presiden CAF, Patrice Motsepe, awal bulan ini menyatakan bahwa masa depan Infantino sebaiknya ditentukan melalui pemilihan 2027, dan menegaskan dukungan penuh CAF terhadap kepemimpinan Infantino saat ini.
Eto'o, yang pernah memperkuat klub-klub besar Eropa seperti Real Madrid, Barcelona, Inter Milan, dan Chelsea, menilai Infantino telah membawa perubahan positif bagi sepak bola global. Menurutnya, presiden FIFA berhasil memberi peluang bagi negara-negara yang sebelumnya kurang diperhatikan. "Pekerjaan presiden adalah membawa sepak bola lebih maju, membuat semua negara tumbuh," kata Eto'o. Ia juga menyoroti proses pengambilan keputusan di FIFA, di mana 211 anggota seharusnya duduk bersama, berdiskusi, dan membiarkan suara mayoritas menentukan. "Saya yakin suara-suara yang muncul sekarang bukanlah suara mayoritas," tegasnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar dan ambisi untuk tampil di pentas dunia, arah kebijakan FIFA akan berdampak langsung pada program pengembangan sepak bola nasional. Dukungan terhadap Infantino dari kawasan Afrika dan sebagian Asia bisa menjadi sinyal bahwa prioritas FIFA masih berpihak pada pemerataan kesempatan, yang sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk mendapatkan akses lebih besar terhadap turnamen internasional dan pendanaan infrastruktur.
Namun, kritik yang dilayangkan kepada Infantino juga menyoroti transparansi dan tata kelola FIFA. Jika mosi tidak percaya benar-benar digulirkan, hal ini bisa memicu perubahan besar dalam struktur organisasi sepak bola dunia. Pertanyaannya, apakah kritik tersebut murni soal kebijakan atau sekadar manuver politik menjelang pemilihan? Eto'o meyakini yang terakhir, tetapi banyak pihak yang belum yakin.
Ke depan, keputusan konfederasi-konfederasi besar akan menentukan apakah Infantino dapat bertahan hingga 2027 atau harus menghadapi tantangan lebih awal. Bagi Indonesia, stabilitas kepemimpinan FIFA penting untuk menjaga kelancaran program-program yang sudah berjalan, termasuk persiapan menuju Piala Dunia 2026 yang akan diikuti oleh tim-tim dari berbagai benua. Apakah dukungan CAF cukup kuat untuk meredam oposisi, atau justru akan memicu perpecahan yang lebih dalam di tubuh FIFA? Waktu yang akan menjawab.



