Xi Jinping Dikabarkan Hadiri KTT BRICS di New Delhi, Sinyal Pencairan Ketegangan India-China
Baca dalam 60 detik
- Presiden China Xi Jinping diperkirakan akan hadir dalam KTT BRICS di New Delhi bulan depan, menandai kunjungan pertamanya ke India dalam tujuh tahun terakhir.
- Kehadiran Xi dengan rombongan besar sekitar 400 pejabat menjadi sinyal upaya stabilisasi hubungan kedua negara setelah insiden bentrok perbatasan 2020.
- KTT ini juga menjadi ajang bagi India dan China untuk menunjukkan solidaritas di tengah tekanan kebijakan dagang AS, sekaligus mengelola perbedaan perbatasan yang masih belum tuntas.

Presiden China Xi Jinping dikabarkan akan menghadiri KTT BRICS yang digelar di New Delhi pada 12-13 September mendatang. Jika terkonfirmasi, ini akan menjadi kunjungan pertamanya ke India dalam tujuh tahun terakhir, sekaligus menjadi sinyal kuat mencairnya hubungan dua negara tetangga yang selama ini dibayangi sengketa perbatasan.
Kabar ini muncul dari tiga sumber yang mengetahui langsung rencana kunjungan tersebut. Seorang sumber India menyebut para pejabat China tengah sibuk memfinalisasi hotel dan protokol keamanan. Sumber lain mengungkapkan Xi kemungkinan datang dengan rombongan sekitar 400 pejabat, jauh lebih besar dibandingkan kunjungan terakhirnya pada 2019 yang hanya diikuti kurang dari 200 orang. Besarnya delegasi ini menunjukkan keseriusan Beijing dalam membangun kembali komunikasi dengan New Delhi.
KTT BRICS tahun ini menjadi perhatian utama bukan hanya karena agenda ekonomi, tetapi lebih pada simbolisme politik di balik kehadiran Xi. Bagi India dan China, pertemuan ini menjadi panggung untuk menunjukkan upaya stabilisasi hubungan setelah insiden bentrok mematikan di perbatasan pada 2020 yang menewaskan 20 tentara India dan empat tentara China. Insiden tersebut memicu kebuntuan militer selama empat tahun hingga akhirnya tercapai kesepakatan penarikan pasukan pada Oktober 2024.
Meski ada kemajuan, hubungan kedua negara masih rapuh. Pada 12 Agustus lalu, India menegaskan bahwa perdamaian di perbatasan adalah kunci hubungan bilateral, menyusul laporan patroli tentara kedua negara yang bertemu muka di wilayah terpencil pada akhir Juli. Untuk meredakan ketegangan, Penasihat Keamanan Nasional India Ajit Doval dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing pada 24 Agustus untuk membahas isu perbatasan.
Kementerian Luar Negeri China merespons dengan pernyataan hati-hati, menegaskan dukungan terhadap keketuaan India di BRICS dan partisipasi aktif China dalam kerja sama tersebut. Namun, mereka belum memberikan konfirmasi resmi mengenai rencana kunjungan Xi. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri India memilih bungkam. Ketidakpastian ini menunjukkan bahwa detail kunjungan masih dalam tahap negosiasi, termasuk kemungkinan pertemuan bilateral antara Xi dan Perdana Menteri Narendra Modi.
Menariknya, kebijakan dagang Presiden AS Donald Trump justru menjadi perekat baru bagi India dan China. Kedua negara yang selama ini bersaing ketat kini memiliki kepentingan bersama untuk menahan tekanan eksternal yang dapat mengganggu stabilitas BRICS. Kehadiran Xi di New Delhi dapat dibaca sebagai pesan bahwa Beijing dan New Delhi tidak ingin membiarkan tekanan eksternal merusak kerja sama multilateral yang sedang mereka bangun.
"China sangat mementingkan dan aktif berpartisipasi dalam kerja sama BRICS, serta mendukung India sebagai ketua saat ini untuk sukses menyelenggarakan KTT BRICS tahun ini," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri China.
Bagi Indonesia, dinamika India-China memiliki relevansi strategis yang signifikan. Sebagai negara dengan hubungan dagang yang erat dengan kedua raksasa Asia tersebut, Indonesia berkepentingan terhadap stabilitas kawasan. Normalisasi hubungan India-China dapat membuka peluang peningkatan kerja sama ekonomi di Asia Selatan dan Timur, yang pada gilirannya berdampak positif pada rantai pasok regional. Selain itu, posisi Indonesia sebagai anggota BRICS yang baru bergabung menjadikan setiap perkembangan di dalam blok ini penting untuk dicermati, terutama dalam konteks upaya memperkuat suara negara-negara berkembang di tengah rivalitas AS-China.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah kunjungan Xi benar-benar akan terwujud dan apakah akan membawa perubahan konkret dalam hubungan bilateral India-China. Para pengamat menilai bahwa meskipun ada tanda-tanda positif, sengketa perbatasan yang belum tuntas tetap menjadi bom waktu yang dapat memicu ketegangan baru kapan saja. KTT BRICS bulan depan akan menjadi ujian nyata bagi komitmen kedua negara untuk menjaga stabilitas kawasan, sekaligus menentukan arah hubungan mereka di masa mendatang.



