Gattuso Bawa Lazio Menang di Bologna, tapi Ingatkan Atmosfer Olimpico yang Tak Ramah
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan perdana Gattuso di Serie A bersama Lazio tercipta via gol Davide Frattesi, namun sorotan justru mengarah pada protes suporter yang diprediksi menyulitkan laga kandang.
- Eks pelatih timnas Italia itu menilai tekanan bermain di stadion sepi seperti Olimpico membutuhkan ketahanan mental ekstra, sebuah tantangan yang belum tuntas diatasi skuadnya.
- Gattuso enggan membahas bursa transfer, memilih fokus membangun kembali kepercayaan diri tim, sementara Mancini yang hadir di tribun menjadi pengingat akan masa lalunya yang pahit.

Gennaro Gattuso mengawali petualangan barunya di Serie A bersama Lazio dengan kemenangan tipis 1-0 atas Bologna di Stadio Dall'Ara, Senin malam waktu setempat. Namun di balik tiga poin perdana itu, pelatih berusia 47 tahun tersebut justru menyoroti persoalan yang lebih pelik: bagaimana anak asuhnya akan bertahan saat bermain di kandang sendiri di tengah aksi protes suporter yang masih berlanjut.
Gol semata wayang yang dicetak Davide Frattesi pada babak kedua memastikan Lazio pulang dengan kepala tegak dari Bologna. Hasil ini menjadi penawar atas kegagalan memalukan di Coppa Italia pekan lalu, ketika tim ibu kota itu ditaklukkan Mantova yang notabene klub Serie B. Meski demikian, Gattuso menolak menyebut ada perubahan besar dalam performa timnya hanya dalam kurun waktu sepekan.
“Saya tidak melihat banyak perubahan dibanding pekan lalu. Masih banyak pekerjaan rumah dan hal yang perlu dibenahi. Namun, sikap saat bertahan tanpa bola sudah sangat baik,” ujar Gattuso kepada DAZN, seperti dikutip TMW. Ia menambahkan bahwa proses adaptasi terhadap gaya bermain baru memang membutuhkan waktu, dan ia mengapresiasi kerja keras para pemain yang disebutnya “menundukkan kepala dan langsung bekerja”.
Yang menarik, Gattuso justru melontarkan kekhawatiran tentang atmosfer Stadio Olimpico yang bakal sepi akibat boikot suporter. “Kami berterima kasih kepada 4.000 orang yang hadir dan bersuara hari ini. Bermain di kandang sendiri tidak mudah. Itu bukan alasan, tapi kami semua menyadarinya,” katanya. Ia bahkan menegaskan bahwa bermain di hadapan empat atau lima ribu penonton pun bisa terasa menekan, karena setiap kesalahan langsung terdengar dan terasa.
Pernyataan Gattuso ini menggarisbawahi dilema yang dihadapi Lazio: dukungan suporter yang justru berbalik menjadi tekanan. Protes yang dipicu oleh berbagai persoalan manajemen klub membuat tribun Olimpico tidak lagi menjadi benteng yang menakutkan bagi lawan. Bagi Gattuso, ini adalah ujian mental yang harus diatasi timnya, bukan sekadar masalah taktik di lapangan.
Di tengah hiruk-pikuk bursa transfer yang masih berjalan, Gattuso memilih bungkam. “Jujur, sekarang bukan saatnya bicara soal transfer. Mari nikmati kemenangan ini, semua pemain pantas mendapatkannya,” ujarnya singkat. Sikap ini menunjukkan fokusnya pada pembenahan internal tim, meski manajemen Lazio dikabarkan masih aktif bergerak di pasar pemain.
Momen lain yang tak kalah menarik adalah kehadiran Roberto Mancini di tribun Dall'Ara. Pelatih yang kini memegang kendali timnas Italia itu menjadi saksi langsung kemenangan Lazio. Gattuso, yang pernah menukangi Gli Azzurri selama sepuluh bulan, enggan berbicara langsung kepada Mancini, tetapi melontarkan pujian tulus. “Dia pelatih hebat dengan pengalaman luar biasa. Saya punya 10 bulan yang indah bersama timnas, dan para pemain memberi segalanya,” katanya.
Namun, di balik pujian itu, terselip rasa sakit yang masih membekas. Gattuso mengakui kegagalan lolos ke Piala Dunia sebagai “luka yang akan terus terbuka” seumur hidupnya. “Kami tersingkir karena insiden-insiden terisolasi. Meski begitu, kami tetap menciptakan sesuatu yang positif. Saya mendoakan yang terbaik untuk mereka, karena itu yang dibutuhkan sepak bola Italia,” tuturnya dengan nada penuh perasaan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika yang dialami Gattuso ini bisa menjadi cermin bagi klub-klub yang tengah berjuang merebut kembali kepercayaan suporter. Tekanan bermain di kandang tanpa dukungan penuh adalah fenomena yang juga pernah terjadi di kompetisi domestik, terutama saat suporter memilih menarik dukungan akibat kebijakan manajemen. Ketahanan mental pemain menjadi faktor krusial yang kerap menentukan hasil akhir.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah mampukah Gattuso membangun kembali hubungan dengan suporter Lazio? Atau justru protes yang berkepanjangan akan semakin menggerus performa tim di kandang? Jawabannya mungkin baru akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan, saat Lazio menjalani laga kandang pertama mereka di musim ini. Satu hal yang pasti, Gattuso tidak ingin menjadikan situasi ini sebagai kambing hitam. Ia justru menjadikannya bahan bakar untuk membuktikan bahwa timnya bisa tampil kuat dalam tekanan.



