Selat Malaka dan Singapura Jadi Bukti Nyata Kerja Sama Regional, Menteri Singapura: Model bagi Dunia
Baca dalam 60 detik
- Menteri Transportasi Singapura menegaskan Selat Malaka dan Singapura sebagai contoh nyata kolaborasi tiga negara dalam menghadapi ketidakpastian rantai pasok global.
- Buku yang diluncurkan NUS Centre for International Law mengulas keberhasilan Indonesia, Malaysia, dan Singapura menjaga keselamatan navigasi, termasuk di area dengan batas maritim yang belum tuntas.
- Hampir seperempat perdagangan laut dunia melintasi selat ini, menjadikannya titik strategis yang menuntut tata kelola bersama yang adaptif dan berkelanjutan.

Menteri Transportasi Singapura, Jeffrey Siow, menegaskan bahwa Selat Malaka dan Selat Singapura merupakan bukti nyata bagaimana kerja sama erat antarnegara mampu menghadirkan stabilitas di tengah ketidakpastian rantai pasok global. Pernyataan itu disampaikan dalam peluncuran buku berjudul The Straits of Malacca and Singapore: A Model for the World di Singapura, Senin (24/8).
Menurut Siow, selama lebih dari setengah abad, Indonesia, Malaysia, dan Singapura telah bahu-membahu meningkatkan keselamatan navigasi di perairan yang sebagian wilayahnya masih menyimpan sengketa batas maritim. "Meski terdapat perbedaan pandangan, kami tidak membiarkan hal itu melumpuhkan kerja sama," ujarnya, menegaskan bahwa komitmen bersama untuk menjaga selat tetap aman dan terbuka adalah kepentingan semua pihak.
Buku yang diterbitkan oleh Pusat Hukum Internasional (CIL) Universitas Nasional Singapura (NUS) ini mengupas bagaimana ketiga negara pantai berhasil mengelola selat dengan menyeimbangkan kebebasan bernavigasi, kedaulatan, dan perlindungan lingkungan. Lebih dari itu, buku ini juga menyoroti peran penting Singapura dalam membentuk tata kelola maritim regional, mulai dari kepemimpinan diplomatik dalam merundingkan rezim lintas transit yang inovatif pada Konferensi Hukum Laut PBB Ketiga hingga pengembangan teknologi navigasi yang memandu kapal dengan aman.
Bagi Indonesia, pengakuan ini bukan sekadar pujian diplomatik. Selat Malaka adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, dengan hampir seperempat perdagangan laut global melaluinya. Angka tersebut menegaskan bahwa stabilitas selat bukan hanya soal keamanan regional, tetapi juga denyut nadi ekonomi dunia. Ketergantungan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok pada jalur ini menjadikan setiap kebijakan di kawasan berdampak langsung pada harga komoditas dan kelancaran logistik internasional.
Namun, tantangan ke depan tidaklah sederhana. Meningkatnya volume pelayaran, ancaman keamanan siber, serta perubahan iklim yang memengaruhi kondisi laut menuntut pembaruan mekanisme kerja sama. Indonesia, sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di selat, memiliki kepentingan strategis untuk memastikan bahwa setiap inisiatif bersama tetap menghormati kedaulatan dan kepentingan nasional. Pertanyaannya, mampukah ketiga negara memperluas model kerja sama ini untuk menjawab isu-isu baru seperti polusi plastik dan keselamatan kapal otonom?
Buku ini hadir di saat yang tepat, ketika dunia sedang mencari contoh konkret kolaborasi lintas batas yang berhasil. Jika selat ini mampu bertahan sebagai model, maka bukan tidak mungkin kawasan lain, seperti Laut Tiongkok Selatan, dapat belajar dari pengalaman Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Namun, keberhasilan itu bergantung pada kemauan politik untuk terus berinovasi dan mengutamakan kepentingan bersama di atas perbedaan.



