Pulihkan Sekolah Flores, Kemendikdasmen Gelontorkan Rp860 Juta dan Janjikan Revitalisasi 2026
Baca dalam 60 detik
- Kementerian menyalurkan dana awal Rp860 juta untuk 61 sekolah terdampak gempa di NTT, disertai bantuan logistik bagi warga sekolah.
- Mendikdasmen memastikan sekolah terdampak menjadi prioritas revitalisasi tahun depan, dengan pendataan kerusakan sebagai dasar.
- Pembangunan kembali menunggu pencairan dana ABT tahap kedua, sementara kepala sekolah berharap bangunan baru tahan gempa.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengucurkan dana talangan senilai Rp860 juta untuk penanganan awal 61 sekolah yang porak-poranda akibat gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Abdul Mu'ti saat kunjungan kerja ke Kabupaten Nagekeo, Senin, sebagai respons cepat atas rusaknya fasilitas belajar mengajar di wilayah tersebut.
Selain dana tunai berbentuk voucher, kementerian juga mengirimkan bantuan logistik dasar berupa 9.400 buku nonteks, 495 school kit, 30 family kit, 1.000 kaos, dan 1.650 paket makanan untuk sekolah serta warga di Kabupaten Nagekeo dan Ngada. Langkah ini diambil untuk memastikan kegiatan belajar tidak terhenti total di tengah kondisi darurat, meski gedung sekolah belum dapat difungsikan sepenuhnya.
Menteri Abdul Mu'ti menegaskan bahwa sekolah-sekolah yang terdampak gempa akan mendapat prioritas dalam program revitalisasi satuan pendidikan pada 2026. Saat ini, timnya tengah melakukan pendataan menyeluruh untuk memetakan tingkat kerusakan dan kebutuhan masing-masing sekolah. "Kami juga memberikan bantuan prioritas untuk sekolah-sekolah yang terdampak untuk mendapatkan revitalisasi tahun 2026," ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi.
Proses revitalisasi tidak bisa langsung dieksekusi. Pemerintah masih menunggu masuknya dana Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tahap kedua ke dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Setelah itu, akan dilakukan verifikasi, validasi, dan penandatanganan perjanjian kerja sama sebelum pembangunan fisik dimulai. "Nanti setelah ada verifikasi dan validasi, akan ada perjanjian kerja sama, dan setelah semuanya clear, akan dimulai pembangunannya," jelas Abdul Mu'ti.
Di tengah kepastian bantuan, harapan besar disuarakan oleh Kepala SDK Rowa, Agustina Kabha. Ia menyambut baik rencana revitalisasi yang dianggapnya krusial untuk memulihkan sarana dan prasarana pendidikan. "Kami berharap struktur bangunannya nanti tahan gempa sehingga murid tidak lagi trauma dan belajar dengan nyaman," tuturnya, mewakili rasa cemas orang tua dan guru pasca-bencana.
Bencana gempa di NTT kembali mengingatkan pentingnya infrastruktur pendidikan yang tahan gempa, terutama di kawasan timur Indonesia yang rawan seismik. Kejadian ini juga menjadi ujian bagi komitmen pemerintah dalam mempercepat pemulihan pasca-bencana, tidak hanya pada aspek fisik tetapi juga psikologis anak-anak yang sempat mengalami trauma. Pertanyaan yang menggantung: akankah proses birokrasi yang panjang mampu mengejar target pembelajaran yang sempat terganggu? Atau justru menjadi pelajaran berharga untuk membangun sekolah yang lebih tangguh di masa depan?



