Al Shabab Rekrut Kiper Senegal Mory Diaw, Sinyal Ambisi Klub Arab Saudi di Musim Baru
Baca dalam 60 detik
- Kiper Senegal Mory Diaw resmi berseragam Al Shabab dengan kontrak satu tahun, memperkuat skuad asal Liga Pro Saudi.
- Kedatangan Diaw menyusul transfer gratis Thomas Partey, menandakan strategi agresif Al Shabab di bursa transfer musim panas.
- Al Shabab masih mencari kemenangan perdana setelah dua laga awal, tekanan meningkat pada pelatih dan pemain anyar.

Klub Liga Pro Saudi, Al Shabab, resmi mengumumkan penandatanganan kiper asal Senegal, Mory Diaw, pada Senin (24/8). Pemain berusia 33 tahun itu datang dari klub Ligue 1, Le Havre, dengan kontrak berdurasi satu musim. Langkah ini menjadi bagian dari perombakan skuad Al Shabab yang tengah berupaya bangkit di kompetisi domestik.
Diaw bukan nama asing di pentas internasional. Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, ia memulai turnamen sebagai cadangan, namun kesempatan bermain datang setelah Edouard Mendy mengalami cedera di laga penyisihan grup melawan Norwegia. Ia kemudian tampil melawan Irak dan bermain penuh saat Senegal kalah 2-3 dari Belgia di babak 16 besar. Pengalaman di panggung terbesar sepak bola ini menjadi nilai jual utama yang dibawa Diaw ke Al Shabab.
Produk akademi Paris Saint-Germain (PSG) itu mencatatkan 30 penampilan di Ligue 1 musim lalu dan telah mengoleksi delapan caps bersama tim nasional Senegal. Meski usianya tak lagi muda, konsistensi Diaw di liga top Eropa menjadi pertimbangan penting bagi manajemen Al Shabab yang membutuhkan sosok tangguh di bawah mistar gawang.
Kedatangan Diaw tak bisa dilepaskan dari strategi besar Al Shabab di bursa transfer. Sebelumnya, klub yang bermarkas di Riyadh itu sukses menggaet gelandang Ghana, Thomas Partey, dengan status bebas transfer. Kombinasi pemain berpengalaman dari Eropa ini menunjukkan ambiisi Al Shabab untuk bersaing di papan atas Liga Pro Saudi, yang kini kian kompetitif dengan hadirnya bintang-bintang dunia.
Namun, hasil awal musim belum berpihak pada Al Shabab. Setelah dua pekan kompetisi, tim asuhan pelatih asal Portugal itu masih belum meraih kemenangan. Tekanan pun mulai mengemuka, terutama bagi pemain anyar seperti Diaw yang diharapkan mampu memberi rasa aman di lini belakang. Pertandingan berikutnya menjadi ujian nyata bagi adaptasi Diaw bersama rekan-rekan barunya.
Fenomena klub-klub Arab Saudi yang gencar merekrut pemain dari liga Eropa juga menarik dicermati dari perspektif Indonesia. Liga domestik kita, BRI Liga 1, tengah berbenah dengan regulasi pemain asing yang lebih longgar. Meski skala dan daya tarik finansialnya berbeda, arah pengembangan sepak bola di kawasan Timur Tengah bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengelola liga di Tanah Air untuk meningkatkan kualitas kompetisi.
Langkah Al Shabab mendatangkan pemain sekaliber Diaw dan Partey menegaskan bahwa persaingan di Liga Pro Saudi tidak lagi bisa diremehkan. Dengan dukungan finansial yang melimpah, klub-klub di sana mampu menarik talenta dari liga top Eropa. Pertanyaannya, apakah langkah ini cukup untuk mengangkat performa Al Shabab yang masih tertahan di papan bawah klasemen? Atau justru menjadi bumerang jika adaptasi pemain berjalan lambat? Musim ini akan menjadi jawabannya.



