Cooper Hoffman Menolak Pindah ke Los Angeles: Kota yang Terlalu Mengisolasi
Baca dalam 60 detik
- Aktor Cooper Hoffman, putra mendiang Philip Seymour Hoffman, memilih tetap di New York dan menilai Los Angeles terlalu mengisolasi.
- Keputusan ini dipengaruhi oleh kedekatannya dengan keluarga dan kekasihnya, Nico Parker, yang tinggal di London.
- Hoffman juga mengungkapkan kerinduannya pada sang ayah, yang meninggal saat ia berusia 10 tahun, dan berharap bisa mendapatkan nasihat karier darinya.

Aktor muda Hollywood, Cooper Hoffman, menegaskan dirinya tidak akan pernah menetap di Los Angeles. Baginya, kota yang menjadi pusat industri film itu terasa terlalu mengisolasi, dan ia lebih memilih tinggal di New York, tempat ia dibesarkan dan dekat dengan keluarganya.
Hoffman, yang dikenal lewat film The Long Walk, mengaku meski banyak pekerjaannya mengharuskannya berada di California, ia tetap berpegang pada keputusan untuk tinggal di Big Apple. Dalam wawancara dengan The Sunday Times, ia mengungkapkan bahwa Los Angeles justru membuatnya merasa terasing. "Saya merasa LA cukup mengisolasi. Orang bilang, 'Oh, di sana tenang, kamu punya ruang sendiri.' Tapi saya tidak menginginkan itu," ujarnya.
Bagi Hoffman, New York memiliki energi yang mampu mengeluarkannya dari perasaan negatif. "Setiap kali saya dalam suasana hati baik atau buruk, New York membawamu keluar dari dirimu sendiri, dan itu hal yang menyenangkan. LA menurut saya terlalu memanjakan, dan itu tidak membantu saya sama sekali," tambahnya.
Keputusan ini juga didasari oleh ikatan emosional yang kuat dengan ibunya, Mimi O'Donnell, serta dua adik perempuannya yang masih kuliah. "Mereka adalah tiga hubungan terpenting dalam hidup saya," tegas Hoffman. Ia mencontohkan, saat merasa cemas, ia kerap mendatangi ibunya untuk berdiskusi. "Mereka sangat baik dalam mengeluarkan saya dari diri saya sendiri dan memberi perspektif. Mereka sangat cerdas. Jika ada masalah yang harus saya selesaikan atau ingin saya ceritakan, merekalah orang yang saya temui."
Selain New York, aktor berusia 23 tahun ini juga sering menghabiskan waktu di London. Alasannya, kekasihnya, Nico Parkerโputri aktris Thandiwe Newtonโtinggal di sana. Hoffman mengaku senang mengunjungi Nico di kawasan Notting Hill. "Ada pub di dekat rumahnya yang sering saya kunjungi jika perlu menerima panggilan kerja. Saya pesan satu pint Guinness. Nico sendiri bukan penggemar berat minuman itu," ceritanya. Ia juga menyadari bahwa aksennya kini terdengar sedikit Inggris karena terlalu sering berada di London.
Di balik kesibukannya, Hoffman masih menyimpan duka mendalam atas kepergian sang ayah yang meninggal akibat overdosis obat pada 2014, saat ia baru berusia 10 tahun. Dalam wawancara dengan GQ, ia mengaku sangat merindukan sosok ayahnya, baik sebagai orang tua maupun sebagai aktor panutannya. "Dia aktor favorit saya, tapi dia juga ayah saya. Dia juga tidak ada di sini. Banyak orang mengidolakan orang tua karena mereka orang tua yang hebat. Berbeda halnya mengidolakan orang tua karena Anda mencintai karya seni mereka," tuturnya.
Hoffman juga mengungkapkan keinginannya untuk mendapatkan nasihat karier dari sang ayah. "Saya harus mencari tahu sendiri. Tapi saya juga ingin mendengar sarannya. Dan saya juga hanya ingin ayah saya ada," ujarnya dengan nada haru.
Kisah Hoffman menarik untuk disimak, terutama di tengah budaya Hollywood yang sering kali menuntut para aktor untuk bermukim di Los Angeles. Pilihannya untuk tetap di New York menunjukkan bahwa ada cara lain untuk berkarier di industri film tanpa harus mengorbankan akar dan kesehatan mental. Bagi pembaca di Indonesia, fenomena ini juga relevan mengingat banyaknya pekerja kreatif yang merantau ke kota besar demi karier, namun harus berhadapan dengan dilema antara ambisi dan kebutuhan akan dukungan sosial.
Ke depan, menarik untuk melihat bagaimana karier Hoffman akan berkembang. Akankah ia tetap bertahan dengan keputusannya, atau suatu saat tawaran besar akan mengubah pilihannya? Yang jelas, ia telah menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu harus diukur dari tempat tinggal, melainkan dari keseimbangan hidup yang dijalani.



