Topan Narra Terjang Vietnam dan China Selatan: 54.000 Warga Dievakuasi, Ribuan Hektare Sawah Rusak
Baca dalam 60 detik
- Topan Narra memicu banjir dan tanah longsor di Vietnam utara serta Guangxi, China, memaksa evakuasi puluhan ribu orang.
- Curah hujan ekstrem mencapai 300 mm di beberapa wilayah Vietnam, merusak infrastruktur, listrik, dan lahan pertanian.
- Badai diprediksi masih membawa hujan deras hingga Rabu, berpotensi memperparah kondisi di China selatan dan mengganggu logistik regional.

Topan Narra menghantam kawasan utara Vietnam dan wilayah selatan China, memicu banjir besar serta tanah longsor yang memaksa puluhan ribu orang mengungsi. Di Guangxi, China, otoritas setempat memindahkan sekitar 54.000 warga, dengan lebih dari 8.000 di antaranya ditempatkan di tempat penampungan darurat, demikian dilaporkan stasiun televisi pemerintah CCTV. Sementara itu, di Vietnam utara, hujan deras yang dibawa badai telah menewaskan satu orang dan mengungsikan lebih dari 4.300 rumah tangga.
Narra, yang sempat menguat di atas Teluk Beibu, tidak diperkirakan akan mencapai daratan secara langsung. Namun, badai ini tetap mengguyur kawasan utara dengan curah hujan yang sangat tinggi. Di provinsi pegunungan Lang Son dan Cao Bang, Vietnam, akumulasi hujan mencapai 236 hingga 300 milimeter dalam 24 jam hingga Senin pagi (24/8), memicu banjir bandang dan longsor yang memutus akses jalan serta merendam permukiman.
Dampak terparah dirasakan di Quang Ninh, provinsi yang menjadi rumah bagi Teluk Ha Long, situs warisan dunia UNESCO. Banjir merendam sebagian kota, mengganggu aktivitas pariwisata, perikanan, dan transportasi. Otoritas setempat mencatat gangguan pada aktivitas sekolah dan perkantoran, serta memutus aliran listrik bagi hampir 55.000 keluarga. Lebih dari 10.000 hektare sawah dan tanaman lainnya turut rusak, menambah beban sektor pertanian yang tengah berjuang menghadapi cuaca ekstrem.
Di sisi China, ketinggian air di 15 sungai telah melampaui ambang batas siaga. Video yang disiarkan CCTV memperlihatkan banjir berwarna coklat menggenangi sebagian kota Chongzuo, merendam jalan-jalan dan bangunan rendah. Tim penyelamat China terlihat berjalan di air setinggi lutut dengan sepatu bot karet, sebagian menggunakan perahu untuk mengevakuasi warga yang terjebak. Badai ini juga membawa hujan lebat yang diprediksi akan berlangsung hingga Rabu di Guangxi, Guangdong, Hainan, dan Fujian.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan Asia Tenggara terhadap cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Meskipun topan jarang mencapai wilayah Indonesia secara langsung, perubahan pola iklim global berpotensi meningkatkan intensitas badai di kawasan, yang pada gilirannya dapat mengganggu rantai pasok regional, termasuk komoditas pertanian dan energi. Para analis memperkirakan bahwa gangguan pada produksi pangan di Vietnam dan China selatan dapat mempengaruhi harga beras dan barang-barang lainnya di pasar internasional, yang berimbas pada negara-negara pengimpor seperti Indonesia.
Menurut para ahli meteorologi, fenomena seperti Topan Narra menunjukkan pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana yang tangguh. Vietnam dan China telah merespons dengan evakuasi massal dan mobilisasi tim penyelamat, namun kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonomi tetap signifikan. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: seberapa siap negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem di masa depan? Langkah adaptasi dan mitigasi jangka panjang menjadi krusial untuk mengurangi risiko dan melindungi masyarakat.



